| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 17:15.22-18:1; Yohanes 16:12-15 “Namun, apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13a). |
Dalam Injil Yohanes yang kita renungkan hari ini, Yesus berkata, “Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya” (Yoh. 16:12). Yesus tahu bahwa para murid memiliki keterbatasan. Ia tidak memaksakan seluruh kebenaran sekaligus karena Ia memahami bahwa kapasitas manusia untuk mengerti kebenaran dan rencana Allah ada batasnya.
Sering kali kita berada pada posisi seperti para murid. Ada banyak hal yang mungkin ingin Tuhan nyatakan dalam hidup kita, tetapi saat ini kita belum dapat menanggungnya. Kita mengalami sakit yang tak kunjung sembuh, kegagalan karier, kehilangan orang terkasih, konflik keluarga yang terasa tidak masuk akal, atau usaha yang selalu menemui jalan buntu. Dalam situasi seperti itu, kita bingung dan mulai bertanya, “Di mana rencana Allah yang indah itu?” Kita tidak mengerti jalan-Nya karena keterbatasan kita sebagai manusia.
Namun, Injil hari ini menjadi kabar baik bagi kita. Tuhan mengerti keterbatasan kita. Ia tidak membiarkan kita berjalan dalam ketidaktahuan. Karena itu, Yesus menjanjikan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus, yang akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran.
Janji Yesus tentang Roh Kebenaran ini tampak nyata dalam kisah Rasul Paulus ketika mewartakan Injil di Athena (Kis. 17:15.22–18:1). Perjalanan misi Paulus bukanlah perjalanan yang mudah. Banyak hambatan dan ancaman yang ia hadapi. Bahkan Paulus pernah mengatakan bahwa setiap hari ia berhadapan dengan maut. Namun, di tengah semua kesulitan itu, Paulus terus mengandalkan bimbingan Roh Kudus.
Athena adalah pusat intelektual, filsafat, dan juga pusat penyembahan berhala. Ini menjadi tantangan besar bagi Paulus dalam mewartakan Injil. Di kota itu Paulus menemukan mezbah bertuliskan “Kepada Allah yang tidak dikenal.” Di sinilah Roh Kudus bekerja. Roh Kebenaran menuntun Paulus untuk dengan bijaksana menggunakan mezbah itu sebagai jalan untuk memperkenalkan Allah Pencipta dan kebangkitan Kristus kepada orang-orang Athena.
Hidup memang tidak selalu mudah. Banyak hal yang terjadi dalam hidup terasa seperti teka-teki. Kita tidak selalu mengerti ke mana Tuhan sedang menuntun kita. Namun, tantangan hidup tidak seharusnya membuat kita putus asa dan kehilangan arah. Roh Kebenaran yang memimpin kita telah dicurahkan kepada kita melalui pembaptisan. Pertanyaannya adalah: apakah kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk bekerja dalam diri kita, terutama di saat-saat sulit seperti yang dialami Paulus?
Memberi ruang bagi Roh Kudus berarti menyediakan waktu untuk hening. Di tengah kebisingan dan badai persoalan hidup, kita perlu berhenti sejenak agar dapat mendengar bisikan Roh yang mengingatkan kita pada janji-janji Kristus, sehingga kita tidak kehilangan arah.
Memberi ruang bagi Roh Kudus juga berarti membiarkan Roh Kebenaran menuntun kita selangkah demi selangkah. Yesus tidak memberikan seluruh kebenaran sekaligus karena kita belum sanggup menanggungnya. Kadang Tuhan tidak langsung menjawab pertanyaan “mengapa” semua ini terjadi, tetapi Ia memberi kekuatan tentang “bagaimana” menjalaninya hari ini.
Seperti Paulus yang tetap berani melangkah dalam perjalanan misinya meskipun penuh
tantangan dan bahaya, kita pun diajak untuk terus berjalan dalam iman, selangkah demi selangkah. Pada akhirnya, keterbukaan hati terhadap bimbingan Roh Kebenaran akan mengubah cara pandang kita. Masalah yang tadinya kita anggap sebagai hukuman atau nasib buruk, melalui tuntunan Roh Kudus, dapat menjadi sarana pemurnian iman dan jalan untuk semakin mengenal kehendak Allah lebih dalam.
