| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 16:22-34; Yohanes 16:5-11. “Ketika Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yoh 16:8). |
Ketika semakin dekat waktunya bagi Yesus untuk meninggalkan dunia ini, para murid dipersiapkan untuk menghadapi kenyataan bahwa Yesus tidak akan lagi hadir bersama mereka secara fisik. Namun, Yesus menegaskan bahwa kepergian-Nya justru akan berguna bagi mereka. Ia akan pergi kepada Bapa (Yoh. 16:10) dan mengutus Roh Penolong (Yoh. 16:7), yang akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran, dan penghakiman (Yoh. 16:8).
Roh Kudus itulah yang akan membimbing para murid menjadi saksi kebenaran. Yesus juga menegaskan bahwa penguasa dunia telah dihukum. Karena itu, mereka yang tetap menolak percaya akan mengalami kematian kekal karena dosanya (bdk. Yoh. 16:9). Maka sebagai murid Kristus, umat beriman dipanggil untuk saling mendukung dalam proses pertobatan, bukan saling menjatuhkan.
Kadangkala kita bertemu dengan seseorang yang menceritakan kisah pertobatannya. Orang yang berani mengakui kesalahan sebenarnya telah mengambil langkah besar pertama menuju pertobatan. Ketika pengakuan itu dilakukan dengan tulus, ia sesungguhnya sedang mengalahkan ego dan kesombongannya sendiri. Karena itu, sikap seperti ini selayaknya dihargai dan ditanggapi secara positif, bukan dihakimi, dicurigai, atau dikomentari secara negatif.
Sebaliknya, hendaknya orang yang sedang bertobat didoakan supaya menghasilkan buah-buah pertobatan. Semoga kesaksiannya menjadi kekuatan dan pengharapan bagi sesama yang masih bergumul. Di lain pihak, kita pun perlu memeriksa diri: apakah kita sungguh bersedia dibimbing oleh Roh Kudus untuk menjadi rekan karya keselamatan Allah, dan tidak jatuh dalam kesombongan rohani.
Keluarga dan komunitas idealnya menjadi tempat perlindungan, dukungan, dan lingkungan yang kondusif bagi mereka yang sedang berjuang kembali ke jalan Tuhan. Namun, memang ada juga bentuk pertobatan yang pergumulannya berakar pada perbedaan pemahaman tentang Allah.
Kisah pertobatan Paulus merupakan contoh yang sangat luar biasa. Dia yang semula menjadi penganiaya jemaat, justru berbalik menjadi penginjil yang militan. Pengalaman dikasihi dan diterima tentu berperan besar dalam proses pertobatannya. Karena itu, meskipun kemudian ia sering mengalami penolakan, penganiayaan, dan penderitaan, imannya tidak goyah.
Salah satu contohnya terjadi di Filipi. Paulus dan Silas didera berkali-kali lalu dipenjarakan di ruang paling dalam. Dengan kaki dan tangan terpasung, mereka tetap berdoa dan menyanyikan pujian kepada Allah, sementara tahanan lain mendengarkannya (Kis. 16:22-25).
Kemudian terjadilah gempa bumi hebat yang mengguncang penjara sehingga semua pintu terbuka dan belenggu para tahanan terlepas. Ketika terbangun, kepala penjara mengira semua tahanan telah melarikan diri. Karena takut harus menanggung hukuman, ia menghunus pedang dan berniat bunuh diri. Namun, Paulus mencegahnya dan mengatakan bahwa semua tahanan masih berada di dalam penjara.
Paulus memahami bahwa kepala penjara itu harus mempertanggungjawabkan para tahanan dengan nyawanya sendiri. Dengan memilih untuk tidak melarikan diri, Paulus bukan hanya menyelamatkan nyawa kepala penjara itu, tetapi juga menjaga kehormatan dan jabatannya. Hati kepala penjara itu pun sangat terguncang. Dengan gemetar ia tersungkur di depan Paulus dan Silas, lalu membuka diri untuk diselamatkan. Akhirnya, ia dan seluruh keluarganya memutuskan untuk percaya kepada Allah.
Dari kisah ini kita belajar bahwa Roh Penolong bekerja bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sikap hidup yang penuh kasih, pengendalian diri, dan belas kasih. Sikap Paulus yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan menjadi jalan pertobatan bagi orang lain.
Karena itu, marilah kita senantiasa rendah hati dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Penolong yang kudus. Semoga kita dimampukan untuk menolak berbagai godaan dunia, sekaligus menolong sesama yang membutuhkan dukungan dalam pergumulan pertobatannya.
Namun, jika kita belum mampu secara aktif membantu atau mendukung, setidaknya jangan memperburuk keadaan. Seringkali senyuman, sikap ramah, tatapan yang bersahabat, atau sikap yang tidak menghakimi sudah menjadi bentuk dukungan yang sangat berarti. Dengan demikian, kita ikut mengambil bagian dalam karya Roh Penolong yang kudus, yang menginsafkan dunia. Amin.
