Saling Membangun di dalam Iman ( 16 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 18:23–28; Yohanes 16:23b–28
“Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes” (Kis. 18:25b).

Menyimak isi dari perikop Kisah Para Rasul 18:23–28, saya merasa suka cita dan mengucap syukur kepada Tuhan. Di sini diceritakan tentang Apolos. Siapa dia, dari mana asalnya, dan bagaimana kehidupannya? Sepertinya Apolos bukan orang biasa. Ia berasal dari Alexandria, sebuah kota besar yang dibangun pada abad ke-331 SM oleh Alexander Agung. Kota itu menjadi pusat perdagangan dunia yang terletak di lembah Sungai Nil, di Mesir utara. Di kota itu kapal-kapal bongkar muat, dan orang-orang asing dari berbagai belahan dunia datang serta berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dari lingkungan seperti itulah Apolos berasal.

Secara pribadi Apolos adalah orang yang terpelajar. Ia fasih berbicara dan mahir dalam Kitab Suci. Apolos juga adalah orang yang percaya kepada jalan Tuhan. Ia pribadi bersemangat dan giat mengajarkan jalan Tuhan kepada orang lain. Bahkan pelayanannya tidak berhenti di Alexandria saja. Ia menyeberang ke Asia Kecil hingga sampai di kota Efesus dan terus mewartakan kebenaran tentang Tuhan.

Namun, ketika Apolos sangat bersemangat memberitakan Tuhan, apakah pengetahuannya sudah sempurna? Jika kita menyimak Kisah Para Rasul 18:25, ternyata Apolos baru mengenal baptisan Yohanes. Pada saat itu Yesus Kristus sudah datang ke dunia dan mengajarkan jalan keselamatan melalui baptisan Roh Kudus.

Di sinilah saya teringat perkataan Tuhan Yesus dalam Yohanes 16:24: “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Ayat ini mengingatkan bahwa kita perlu meminta hikmat dan pengertian dari Allah supaya diperlengkapi dalam pengajaran iman. Hal itu berlaku bukan hanya bagi Apolos, tetapi juga bagi kita semua.

Tuhan kemudian mempertemukan Apolos dengan Akwila dan Priskila yang tinggal di Efesus. Saya percaya ini bukan kebetulan. Pasangan ini dengan rendah hati dan penuh kasih menjelaskan dengan lebih teliti tentang jalan Tuhan kepada Apolos, khususnya tentang baptisan dalam Yesus Kristus dan karya Roh Kudus. Mereka tidak merendahkan Apolos walaupun ia sudah pandai dan terkenal sebagai pengajar. Sebaliknya, mereka membimbingnya dengan kasih sebagai saudara seiman.

Di sini ada berkat rohani yang sangat indah. Di antara orang-orang percaya, mereka saling memperhatikan dan saling membangun dalam iman. Nilai-nilai kerendahan hati, saling membimbing, dan persaudaraan nyata di dalam kehidupan mereka. Apolos mau belajar, sedangkan Akwila dan Priskila mau membimbing dengan kasih. Semua dilakukan demi kemajuan pelayanan Tuhan.

Hal yang sangat mengharukan adalah ketika Apolos hendak melanjutkan perjalanan pelayanannya ke Akhaya. Akwila dan Priskila terlebih dahulu menghubungi saudara-saudara sepelayanan di sana agar menyambut Apolos dengan baik. Karena hubungan kasih di dalam Tuhan, mereka mengupayakan yang terbaik bagi Apolos supaya pelayanannya semakin menjadi berkat bagi banyak orang. Apolos pun kemudian dengan penuh kuasa membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa semangat melayani perlu disertai kerendahan hati untuk terus belajar. Tidak seorang pun memiliki pengertian yang sempurna. Karena itu, kita perlu saling memperhatikan, saling menguatkan, dan saling membimbing di dalam kasih Tuhan. Ketika ada saudara yang masih kurang memahami kebenaran, jangan dihakimi, tetapi dibimbing dengan kasih dan kesabaran.

Semoga renungan ini menjadi berkat dan memotivasi kita untuk terus bertumbuh dalam pengertian yang benar tentang Yesus Kristus, serta hidup sebagai saudara yang saling mendukung di dalam Tuhan. Amin.Top of Form

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *