| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 18:9–18; Yohanes 16:20–23. “Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira, kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.”(Yoh. 16:20) |
Kehilangan seseorang yang sangat kita kasihi adalah pengalaman yang mengguncang hati. Ketika orang yang menjadi tempat bersandar dalam hidup dipanggil Tuhan, hati terasa kosong, pikiran menjadi limbung, dan masa depan tampak penuh ketakutan. Ada rasa sepi, khawatir, bahkan kehilangan arah. Hampir setiap orang pernah mengalami masa-masa seperti ini.
Perasaan yang sama juga dialami oleh para murid Tuhan Yesus. Mereka sangat mengasihi Tuhan Yesus dan berharap selalu bersama-Nya. Karena itu, ketika Tuhan Yesus ditangkap, disalibkan, wafat, lalu naik ke surga, hati mereka dipenuhi dukacita dan ketakutan. Mereka merasa kehilangan Pembela dan Guru yang selama ini menjadi kekuatan hidup mereka. Bahkan mereka bersembunyi karena takut menghadapi ancaman dan penolakan dari dunia.
Namun, sebelum meninggalkan mereka, Tuhan Yesus telah lebih dahulu mempersiapkan murid-murid-Nya. Ia berdoa kepada Bapa supaya para pengikut-Nya tetap dipelihara dalam kekudusan dan kebenaran (Yoh. 17:17). Ia juga mengutus mereka untuk melanjutkan tugas pewartaan Injil di dunia ini (Yoh. 17:18). Tidak hanya itu, Ia menjanjikan Roh Kudus sebagai Pendamping yang akan menguatkan, menghibur, dan menuntun mereka.
Janji Tuhan inilah yang akhirnya mengubah para murid. Dari orang-orang yang takut, mereka menjadi saksi-saksi yang berani memberitakan Injil. Roh Kudus memberi mereka kekuatan untuk tetap setia sekalipun menghadapi penderitaan dan penolakan.
Hal yang sama juga dialami Rasul Paulus dalam pelayanannya. Dalam Kisah Para Rasul 18, Paulus menghadapi tuduhan dan kebencian karena memberitakan Injil. Banyak orang menolak dan memusuhinya. Namun, Tuhan menguatkan Paulus melalui firman-Nya: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” (Kis. 18:19). Tuhan tidak meninggalkan Paulus sendirian.
Demikian juga dalam kehidupan kita saat ini. Sebagai orang percaya, tidak selalu mudah hidup setia kepada Tuhan. Ada kalanya kita disalahpahami, ditolak, bahkan diperlakukan tidak adil karena iman kita. Dunia sering kali tidak menyukai hidup yang berjalan dalam kebenaran. Situasi seperti ini dapat membuat hati sedih, lemah, dan kehilangan sukacita.
Tetapi, Tuhan Yesus memberikan pengharapan: dukacita tidak akan berlangsung selamanya. Tuhan sanggup mengubah air mata menjadi sukacita. Ia hadir di tengah pergumulan hidup kita melalui Roh Kudus-Nya.
Salah satu cara Tuhan menguatkan kita adalah melalui doa. Doa bukan sekadar rutinitas atau kewajiban rohani, tetapi perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Dalam doa, kita mencurahkan ketakutan, kekhawatiran, dan luka hati kita kepada-Nya. Dalam doa pula Tuhan memberi ketenangan, kekuatan, dan penghiburan yang baru.
Sering kali keadaan di sekitar kita belum berubah, tetapi hati kita diubahkan Tuhan. Hati yang gelisah menjadi tenang. Hati yang takut menjadi kuat. Hati yang berdukacita dipenuhi sukacita karena kita percaya Tuhan tetap menyertai kita.
Karena itu, jangan menjauh dari Tuhan ketika mengalami kesulitan. Datanglah kepada-Nya dalam doa. Tetaplah taat, rendah hati, dan setia melakukan kehendak-Nya. Roh Kudus akan menolong kita menjalani hidup dengan penuh pengharapan sampai pada waktunya Tuhan menyatakan sukacita yang sempurna.
Doa
Tuhan Yesus Kristus, ajarkan kami untuk selalu mengandalkan Engkau dalam setiap keadaan hidup kami. Kuatkan kami melalui Roh Kudus-Mu agar tetap setia, taat, dan hidup dalam kebenaran-Mu. Ubahkan setiap dukacita dan kekhawatiran kami menjadi damai dan sukacita di dalam Engkau. Amin.
