| Renungan hari ini dari bacaan 1 Petrus 4:7-13; Markus 11:11-26. ”Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Namun, kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” (Mrk 11:17). |
Bayangkan ketika kita lapar dan haus dalam perjalanan, lalu dari kejauhan kita melihat sebuah rumah makan yang sangat bagus. Desain arsitekturnya luar biasa, lampunya gemerlap, papan namanya besar, dan foto-foto makanannya sangat menggugah selera. Namun, ketika kita membuka pintu dan masuk ke dalam, pelayannya berkata, “Pak/Bu, di sini tidak ada makanan sama sekali. Kami hanya menjual pemandangan rumah makan dan foto-foto makanan saja.” Tentu kita akan merasa kecewa karena tertipu oleh penampilan luarnya.
Perasaan yang sama barangkali juga dirasakan Yesus dalam kisah Injil hari ini (Mrk 11:11-26). Dalam perjalanan menuju Yerusalem dari Betania, Yesus merasa lapar. Dari jauh Ia melihat pohon ara yang tampak subur dan berdaun lebat. Biasanya pohon ara yang sudah berdaun lebat memiliki buah muda yang bisa dimakan. Namun, ketika Yesus mendekat, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun. Karena itu, Yesus mengutuk pohon tersebut.
Apakah Yesus kecewa lalu marah tanpa alasan hanya karena lapar? Tentu tidak. Tindakan Yesus ini merupakan tindakan nubuat yang simbolis. Pohon ara itu menjadi gambaran bangsa Israel, khususnya kehidupan agama di Bait Allah saat itu.
Adegan kemudian berpindah ke Bait Allah (ay. 15-19). Di sana Yesus marah karena menjumpai berbagai kesibukan religius: transaksi jual beli hewan kurban, penukaran uang, dan hiruk-pikuk aktivitas keagamaan. Dari luar, Bait Allah tampak sangat “hidup”, sama seperti pohon ara yang rindang daunnya. Namun, Yesus membongkar semuanya. Ia berkata, “Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Namun, kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Bait Allah telah dijadikan tempat transaksi untuk meraup keuntungan semata.
Sesudah peristiwa di Bait Allah, penginjil Markus kembali pada pohon ara yang tadi dikutuk Yesus. Pohon itu sudah kering sampai ke akar-akarnya. Kisah penyucian Bait Allah yang diapit oleh kondisi pohon ara, berdaun lebat tetapi tanpa buah, lalu kering sampai ke akar, menjadi gambaran penghakiman atas Bait Suci dan sistem keagamaan yang kehilangan makna sejatinya.
Pohon ara yang dikutuk Yesus melambangkan bangsa Israel dan institusi keagamaannya. Pohon itu memiliki daun yang lebat, tampak religius dan aktif dari luar, tetapi tidak menghasilkan buah. Bait Suci yang seharusnya menjadi rumah doa telah berubah menjadi “sarang penyamun”, tempat kapitalisme agama yang memeras orang kecil. Secara lahiriah megah, tetapi secara rohani mandul karena tidak menghasilkan buah pertobatan dan keadilan. Keringnya pohon ara sampai ke akar menegaskan bahwa penghakiman itu bersifat mutlak dan permanen.
Injil hari ini mengajak kita berefleksi tentang kehidupan religius kita sendiri. Pohon ara dan Bait Allah itu barangkali juga adalah gambaran diri kita saat ini. Kita mungkin terjebak dalam “kosmetik rohani”. Kita sibuk melayani, bangga dengan gedung gereja yang megah, atau memiliki jadwal kegiatan rohani yang padat. Daun kehidupan rohani kita tampak sangat lebat di media sosial atau di mata orang lain. Namun, pertanyaannya: apakah ada buahnya ketika Tuhan Yesus datang mendekat?
Tuhan tidak terkesan dengan kesibukan tanpa pertobatan. Pada akhirnya, yang dituntut dari kita adalah relasi yang mendalam dengan Allah, dan buahnya harus nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu bagaimana kita menghasilkan buah yang sejati? Ketika para murid terkejut melihat pohon ara itu langsung kering sampai ke akar-akarnya, Yesus menjawab mereka dengan berbicara tentang iman, doa, dan pengampunan (ay. 22-25). Buah iman yang sejati bukan pertama-tama tampak dalam banyaknya aktivitas religius, melainkan dalam relasi yang intim dengan Allah melalui doa, hati yang mengasihi, dan kesediaan mengampuni.
Seseorang bisa saja sangat aktif di gereja, tetapi tetap menyimpan kebencian bertahun-tahun. Lidahnya memuji Tuhan, tetapi hidupnya melukai sesama. Karena itu, hidup rohani yang berbuah selalu terlihat dalam kasih yang nyata.
Rasul Petrus dalam suratnya yang pertama (1 Ptr 4:7-13) juga mengajarkan kunci hidup rohani yang berbuah: penguasaan diri, saling mengasihi, saling melayani sesuai karunia masing-masing, dan tetap bertekun dalam iman di tengah penderitaan.
Ketika Tuhan datang, Ia tidak mencari kesalehan di bibir kita. Yang Ia cari adalah kasih yang nyata dalam hidup kita.
