| Renungan hari ini dari bacaan Yudas 1:18.20b-25; Markus 11:27-33 “Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka” (Yudas 1:18) |
Mencoba mengartikan “pengejek-pengejek” saya sedikit teringat akan kisah seorang sahabat lawas bernama Bona (bukan nama sebenarnya). Ia seorang pekerja dan sukses di sebuah perusahaan makanan. Ia datang paling pagi, pulang paling malam, dan selalu mengejar target dengan penuh disiplin.
Kariernya berkembang cepat, dan atasan mempercayainya, rekan kerja menghormatinya, dan bagi banyak orang di perusahaan itu, Bona adalah top salesman dengan karakter high achiever.
Saking percaya dirinya, dia pernah berkata kepada rekan kerjanya “Ah, iman itu bisa dilakukan nanti, yang penting sukses, hidup itu harus realistis, semuanya ini memang usaha saya sendiri, janganlah hidup dalam bayang angan-angan kalian”.
Tiba-tiba perusahaannya mengalami penurunan omzet besar-besaran, dan target tidak tercapai. Tekanan biaya-biaya meningkat. Posisi Bona pun mulai goyah, dan untuk pertama kalinya, dia merasa kehilangan kendali.
Entah bagaimana saat jam makan siang, dia ingin sendirian di kamar kerja, dan pertama kali pula dia melambatkan ritme berfikir dan berbicara, untuk mencoba periksa diri sekalipun hanya beberapa menit.
Tanpa disadari setelah itu dia keluar dari ruangan dan berteriak sekencang-kencangnya, “Hai Bona, engkau orang yang mampu bangkit dan menyertakan tangan Tuhan untuk bekerja kembali dengan sukacita”.
Sontak semua orang di kantor tersebut menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa cekikikan melihat tingkah laku sang Sales Manager yang mulai sadar apa yang dia lakukan selama ini, yakni tidak pas dan pantas di hadapan Tuhan. Bona merasa bahwa pribadinya adalah sang pengejek kebenaran, dia meremehkan, menolak, atau memperolok hal-hal yang berasal dari Tuhan dan kehidupan iman. Dia menganggap segala prestasinya tidak ada hubungan dengan Tuhan sebagai pusat hidup
Kisah pendek di atas memberikan karakter pribadi yang meninggalkan Allah, yang sudah ada pada sejarah iman pada era setelah kehidupan Kristus, yakni saat Yudas menulis surat ini. Ia menulis untuk jemaat yang kemungkinan berada di luar Yerusalem dan terancam oleh ajaran sesat. Mereka hidup tidak sesuai dengan iman dan menyalah-gunakan rahmat Allah. Padahal Gereja perdana mulai bertumbuh pesat setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus, dan ajaran Kristus mulai tersebar pada komunitas Kristen yang masih kecil serta rentan
Surat Yudas bukan hanya teguran bagi jemaat masa lalu, tetapi sungguh menjadi cermin bagi saya hari ini. Melalui surat itu, saya diingatkan bahwa iman bukan sesuatu yang otomatis bertahan dengan sendirinya. Iman perlu dijaga, dirawat, dan dipelihara setiap hari.
Saya berkata dalam hati, “Yang penting saya sudah percaya Tuhan”, tetapi dalam praktiknya saya mengandalkan diri sendiri, mengabaikan kehendak-Nya, dan menjalani hidup seolah Tuhan tidak perlu dilibatkan. Inilah sebenarnya bentuk “pengejekan” yang paling halus, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan cara hidup.
Disinilah surat Yudas mengingatkan saya bahwa hidup beriman menuntut kesetiaan, bukan hanya semangat sesaat. Kesetiaan berarti tetap percaya saat keadaan sulit, tetap mengandalkan Tuhan, sekalipun saat saya merasa mampu segalanya. Saya disadarkan bahwa hidup beriman tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dijalani. Hidup beriman bukan sekadar pengakuan di bibir, tetapi komitmen dalam tindakan.
Saya harus memperbaiki perjalanan hidup selanjutnya. Saya harus segera meninggalkan pribadi dengan label “pengejek Tuhan”, dan kembali berputar arah untuk menjadi pribadi yang benar-benar bukan pengejek Tuhan.
Ya Tuhan yang Maha Pengasih, perkenankanlah kami orang yang suka mengejek-Mu tetapi tanpa merasa demikian. Bersihkan kami dari dosa tersebut, dan ajarilah kami menjadi pribadi yang senantiasa melibatkan-Mu dalam segala pergumulan hidup di alam fana ini. Amin
