| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 11:21-26; Matius 10:7-13 “Setelah itu, pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus. Setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia” (Kis. 11:25-26). |
Dalam bacaan hari ini, kita diingatkan pada sosok Barnabas, seorang murid yang memiliki hati penuh kasih dan pengharapan. Ketika banyak orang masih memandang Paulus berdasarkan masa lalunya sebagai penganiaya umat Kristiani, Barnabas memilih melihatnya dengan kacamata kasih Tuhan. Ia tidak terjebak pada luka, ketakutan, atau penilaian manusiawi. Sebaliknya, ia melihat kemungkinan besar yang sedang Tuhan kerjakan dalam diri Paulus. Karena hati yang terbuka itulah, Barnabas menjadi alat Tuhan yang membantu Paulus bertumbuh hingga menjadi pewarta Injil yang luar biasa.
Kisah ini mengingatkan kita akan tugas yang kita terima sejak baptisan, yaitu mengambil bagian dalam tugas Kristus sebagai nabi. Menjadi nabi bukan hanya berarti berbicara tentang Tuhan, tetapi juga menghadirkan Tuhan melalui sikap dan cara hidup sehari-hari. Dalam Injil, Yesus mengutus para murid untuk mewartakan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat (Mat. 10:7). Mereka diutus dengan kesederhanaan, tanpa mengandalkan kekuatan, jabatan, atau harta benda, melainkan dengan kepercayaan penuh kepada penyelenggaraan Allah (Mat. 10:9-10).
Namun, dalam kenyataan hidup, kita sering lebih mudah melihat kekurangan daripada potensi orang lain. Kita lebih cepat menilai daripada memahami. Kita cenderung mengingat kesalahan masa lalu seseorang daripada memberi ruang bagi karya Tuhan yang sedang berlangsung dalam dirinya. Barnabas menunjukkan jalan yang berbeda. Kasih membuatnya mampu melihat lebih jauh daripada kelemahan seseorang. Kasih melihat harapan, kesempatan, dan karya Tuhan yang mungkin belum tampak saat ini.
Pesan ini juga sangat dekat dengan pengalaman saya sebagai seorang atasan. Pada awalnya saya memandang peran tersebut terutama sebagai tanggung jawab untuk mencapai target dan memastikan pekerjaan berjalan dengan baik. Namun, perlahan-lahan Tuhan mengajarkan bahwa posisi itu juga merupakan ladang pelayanan. Saya belajar untuk lebih banyak mendengarkan, memberi kesempatan kepada staf untuk berkembang, mendampingi mereka saat menghadapi kesulitan, dan percaya pada potensi yang Tuhan tanamkan dalam diri mereka.
Dalam perjalanan itu, ada beberapa staf yang menyampaikan bahwa mereka dapat melihat kebaikan dan penyertaan Tuhan melalui cara saya memimpin mereka. Mendengar hal tersebut membuat saya semakin sadar bahwa semua itu bukan berasal dari kemampuan saya sendiri. Tuhanlah yang bekerja. Ia memakai keterbatasan saya sebagai sarana untuk menyentuh dan menguatkan hidup orang lain.
Karena itu, marilah kita semakin bersandar kepada Roh Kudus. Hanya dengan tuntunan-Nya kita mampu melihat sesama dengan kasih, melayani dengan tulus, dan menjalankan tugas kenabian yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Hari ini, marilah kita bertanya pada diri sendiri: siapa orang yang selama ini saya nilai berdasarkan masa lalunya? Siapa yang membutuhkan kesempatan kedua, dukungan, atau kepercayaan dari saya? Di keluarga, tempat kerja, komunitas, maupun lingkungan pelayanan, kita dipanggil untuk menjadi seperti Barnabas: hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membangun; bukan untuk mematahkan harapan, melainkan untuk menumbuhkannya.
Semoga melalui kehidupan, pekerjaan, dan pelayanan kita, semakin banyak orang dapat merasakan kasih Kristus dan mengalami kehadiran-Nya yang nyata dalam hidup mereka.
