Menjadi Pelaku Firman, Bukan Hanya Pendengar ( 10 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1 Raja-raja 18: 20-39; Matius 5: 17-19 “Aku datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya” (Mat. 5:17).

Dalam bacaan Injil Matius yang singkat ini, Yesus menegaskan bahwa kedatangan-Nya bukan untuk menghapus hukum Taurat dan ajaran para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Pernyataan ini penting karena pada masa itu banyak orang mengira bahwa Yesus membawa ajaran yang bertentangan dengan tradisi dan hukum yang sudah diwariskan oleh Allah kepada umat Israel.

Yesus menunjukkan bahwa inti dari seluruh hukum Allah bukanlah sekadar aturan yang harus ditaati secara lahiriah, melainkan tindakan nyata yang lahir dari hati yang percaya.

Pesan ini selaras dengan kisah Nabi Elia dalam bacaan pertama, 1 Raja-raja 18:20-39. Saat itu bangsa Israel mengalami krisis iman. Mereka mengenal Allah, tetapi pada saat yang sama mereka juga menyembah Ba’al. Hati mereka terbagi. Karena itu, Elia menantang mereka dengan pertanyaan yang sangat tegas: “Berapa lama lagi kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Jika TUHAN itu Allah, ikutilah Dia; dan jika Ba’al, ikutilah dia.”

Melalui peristiwa di Gunung Karmel, Allah menunjukkan kuasa-Nya dengan menurunkan api dari langit yang membakar kurban persembahan Elia. Mukjizat itu membuat bangsa Israel tersungkur dan mengakui, “TUHAN, Dialah Allah. Namun, inti kisah ini bukanlah api yang turun dari langit, melainkan ajakan untuk kembali kepada kesetiaan yang utuh kepada Allah.

Sering kali kita pun mirip dengan bangsa Israel. Kita datang ke gereja, berdoa, dan mendengarkan Firman Tuhan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masih lebih mengandalkan kekuatan sendiri, ambisi pribadi, atau nilai-nilai dunia yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kita mengenal Firman, tetapi belum sepenuhnya menghidupinya.

Elia mengajak bangsa Israel memilih Tuhan dengan tegas. Yesus mengajak kita melangkah lebih jauh, yaitu menghidupi kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan. Iman yang sejati bukan hanya pengakuan di bibir, tetapi kesetiaan yang tampak dalam tindakan sehari-hari.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah saya hanya mengetahui Firman Tuhan atau sungguh berusaha melaksanakannya? Semoga kita memiliki keberanian seperti Elia untuk memilih Tuhan dengan sepenuh hati dan kesetiaan seperti yang diajarkan Yesus untuk menjadi pelaku Firman setiap hari.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *