| Renungan hari ini dari bacaan : 1Raja-raja 17:7-16; Markus 5:13-16. “Ketahuilah, Aku sudah memerintahkan seorang janda di sana untuk memberi engkau makan” (1Raj. 17:9). |
Dalam hidup rohani, ada saat ketika kita menerima, dan ada saat ketika kita dipanggil untuk memberi. Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan perjalanan iman dari menerima berkat Tuhan menuju menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Ketika Nabi Elia berada di tepi sungai Kerit, Tuhan memeliharanya dengan cara yang ajaib. Ia menerima roti dan daging setiap hari. Namun, pada akhirnya sungai tempat ia minum mengering (1Raj. 17:7). Tuhan kemudian membawanya ke Sarfat dan memakai Elia untuk menjadi berkat bagi seorang janda miskin beserta anaknya. Melalui perantaraan Elia, Tuhan melakukan mukjizat yang luar biasa: “Ia dapat makan selama setahun, dan ia serta anaknya juga; bejana tepung tidak pernah kosong dan bejana minyak tidak pernah berkurang” (1Raj. 17:15-16).
Di sini kita melihat sebuah perubahan penting. Elia tidak lagi hanya menerima makanan dari Tuhan; ia dipakai Tuhan untuk memberi makan orang lain. Ia berubah dari penerima berkat menjadi pembawa berkat.
Perubahan seperti inilah yang juga diharapkan terjadi dalam kehidupan setiap orang Kristen. Sebelum melipatgandakan roti dan ikan, Yesus menantang para murid-Nya dengan berkata, “Kamu harus memberi mereka makan!” (Luk. 9:13). Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus kembali menegaskan panggilan yang sama kepada Petrus: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (lih. Yoh. 21:15-17). Para murid tidak dipanggil hanya untuk menerima kasih, pengajaran, dan berkat Tuhan, tetapi juga untuk membagikannya kepada orang lain.
Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: Apakah kita hanya menerima Firman Tuhan, atau juga membagikannya? Apakah kita hanya menikmati pengajaran yang kita dengar dan baca, ataukah kita berusaha menghidupinya serta mengajarkannya kepada orang lain?
Mungkin sudah saatnya kita beralih dari sekadar menjadi pendengar Firman menjadi pewarta Firman. Seperti pada zaman Elia, masih banyak orang yang mengalami kelaparan rohani. Mereka membutuhkan pengharapan, kebenaran, dan keselamatan yang berasal dari Tuhan. Rasul Paulus mengingatkan bahwa “iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus” (Rm. 10:17). Karena itu, ia bertanya, “Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Dan bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Rm. 10:14).
Namun, memberi makan sesama tidak hanya dilakukan melalui kata-kata. Injil hari ini mengingatkan bahwa kita adalah garam dan terang dunia (Mat. 5:13-16). Panggilan ini merupakan tanggung jawab setiap pengikut Kristus. Kita dipanggil untuk menghadirkan kebaikan, kejujuran, kasih, dan kepedulian di tengah masyarakat. Yesus berkata: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat. 5:16).
Karena itu, memberi makan orang lain dapat diwujudkan dalam banyak cara: menghibur mereka yang putus asa, membantu mereka yang berkekurangan, mengajar mereka yang belum mengenal Tuhan, atau sekadar menunjukkan kasih kepada sesama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian kita menjadi alat Tuhan untuk memuaskan lapar rohani maupun kebutuhan nyata manusia.
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada tahap menerima. Berkat yang kita terima bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk dibagikan kepada sesama. Sebab, seperti yang diajarkan Kitab Suci, “lebih berbahagia memberi daripada menerima” (Kis. 20:35).
Apakah selama ini saya lebih banyak menerima daripada memberi? Siapa yang saat ini sedang Tuhan percayakan kepada saya untuk “diberi makan” melalui perhatian, bantuan, teladan hidup, atau pewartaan Firman? Maukah saya melakukan kebaikan kepada siapa pun tanpa memandang perbedaan suku, bangsa, agama, ras, maupun budaya?
