TUMBUH BERSAMA DI DALAM TUHAN ( 13 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 61:9–11; Lukas 2:41–51 “Jawab-Nya kepada mereka, ‘Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?’” (Lukas 2:49)

Menjadi seorang Kristen tidak berhenti pada saat kita menerima Sakramen Baptis. Baptis memang menandai bahwa kita telah menjadi milik Kristus dan menerima anugerah keselamatan-Nya. Namun, kehidupan iman bukanlah sesuatu yang berlangsung secara otomatis. Tuhan menghendaki agar kita terus bertumbuh dalam hubungan yang hidup dengan-Nya. Keselamatan adalah anugerah, tetapi pertumbuhan iman membutuhkan tanggapan, kesetiaan, dan keterlibatan kita setiap hari.
Injil hari ini menampilkan Yesus yang berusia dua belas tahun. Sejak kecil Ia terbiasa mengikuti Yusuf dan Maria pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Ketika orang tua-Nya mencari Dia, Yesus ditemukan di Bait Allah sedang duduk di tengah para ahli Taurat, mendengarkan dan mengajukan pertanyaan. Jawaban-Nya kepada Maria dan Yusuf sangat penting: “Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku.” Melalui peristiwa ini, Lukas menunjukkan bahwa Yesus menyadari identitas dan misi-Nya sebagai Anak Allah. Bait Allah menjadi tempat perjumpaan-Nya dengan Bapa dan tempat Ia mempersiapkan diri untuk karya keselamatan yang akan dijalankan-Nya.
Dari teladan Yesus, kita belajar bahwa kedekatan dengan Allah perlu dipupuk sejak dini. Karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menanamkan iman. Anak-anak dan cucu-cucu perlu diajak mengenal Tuhan melalui doa bersama, ibadah di gereja, persekutuan, kelompok pendalaman Alkitab, dan berbagai kegiatan rohani lainnya. Di tengah kesibukan zaman modern, keluarga Kristen perlu menyediakan waktu khusus untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan bersama. Bahkan ketika tinggal berjauhan, teknologi dapat menjadi sarana untuk tetap membangun persekutuan keluarga dalam Tuhan.
Gereja juga merupakan tempat yang penting bagi pertumbuhan iman. Di sana kita berjumpa dengan Tuhan melalui doa, pujian, penyembahan, sabda-Nya, dan persekutuan dengan sesama umat beriman. Kita saling menguatkan, berbagi pengalaman hidup, serta belajar melihat karya Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Iman tidak dimaksudkan untuk dijalani sendirian, melainkan bertumbuh bersama dalam komunitas umat Allah.
Nabi Yesaya mengingatkan bahwa Allah telah mengenakan kepada umat-Nya “pakaian keselamatan” dan “jubah kebenaran” (Yes. 61:10). Sebagai orang yang telah menerima keselamatan, kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas baru tersebut. Dunia mungkin tidak selalu menerima kesaksian hidup orang percaya. Ada kalanya kita menghadapi penolakan, kritik, atau bahkan penderitaan karena mempertahankan nilai-nilai Injil. Namun, kita tidak perlu takut. Tuhan yang telah menyelamatkan kita juga akan menyertai dan menguatkan kita.
Karena itu, selama menantikan kedatangan Kristus kembali, marilah kita tetap setia, rendah hati, dan tekun dalam menjalankan kehendak-Nya. Salah satu sarana utama untuk bertumbuh adalah doa. Dalam doa, kita berjumpa dengan Tuhan, menyerahkan kegelisahan dan kekhawatiran kita kepada-Nya, serta menerima kekuatan dan penghiburan dari-Nya. Doa mengubah hati yang gelisah menjadi damai dan hati yang lemah menjadi kuat. Melalui doa, kita semakin mengenal Tuhan dan dibentuk menjadi murid-murid yang setia.
Marilah kita terus bertumbuh bersama di dalam Tuhan, sehingga hidup kita menjadi kesaksian yang membawa orang lain semakin dekat kepada Kristus.
Doa
Tuhan Yesus Kristus, terima kasih atas anugerah keselamatan yang telah Engkau berikan kepada kami. Ajarlah kami untuk terus bertumbuh dalam iman, tekun dalam doa, setia dalam persekutuan, dan berani mewartakan kasih-Mu kepada sesama. Berilah kami hikmat dan kekuatan agar hidup kami menjadi alat bagi penggenapan rencana keselamatan-Mu. Demi nama-Mu kami berdoa. Amin

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *