Disembuhkan dan Dipanggil ( 14 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Keluaran 19:2-6a; Matius 9:36 -10:8 “Karena itu, mintalah kepada Tuan yg punya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:38).

Injil Matius kali ini mengisahkan hati Yesus tergerak oleh belas kasihan, ketika melihat orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu Yesus memanggil keduabelas murid-Nya, memberi mereka kuasa untuk mengusir roh jahat, menyembuhkan penyakit dan kelemahan. Mereka diutus-Nya untuk melayani dengan sukarela, kepada ‘domba-domba yang hilang’ dari umat Israel.

Perikop ini, mengingatkan saya kepada para rohaniwan dan saudara-saudari seiman yang aktif dalam kegiatan pelayanan secara sukarela. Saya ada dalam situasi ‘domba yang kelelahan dan telantar’. Ketika mengalami kelelahan mental dan haus siraman rohani, saya mengikuti retret dan kegiatan lainnya. Melaluinya saya merasakan kasih Tuhan, penghiburan dan penguatan spiritual. Saya dibimbing untuk makin dekat dengan Tuhan, mengasihi diri sendiri dan sesama, melepaskan, memaafkan, dan berdamai dengan masalah. Singkatnya, saya sangat terbantu dalam melalui masa-masa sulit itu. Karenanya, saya merasa sangat bersyukur dan berterimakasih kepada semua pihak yang telah melayani dengan tulus. Mereka sungguh adalah pekerja-pekerja di ladang Tuhan, yang menghadirkan belas kasih Tuhan.

Kelanjutan dari itu, saya ingin berbagi pengalaman ‘dijaring pekerja Tuhan’. Sekitar duapuluh tahun yang lalu, seusai misa, ada yang membagikan flyer kegiatan evangelisasi pribadi. Saya ragu untuk mendaftar, karena berbagai pertimbangan. Beberapa tahun berlalu. Masih saya pikir: “sekarang daftar, atau tahun depan?” Untuk mencari tahu kegiatan apa itu, saya bertanya kepada seorang sepupu. Dia menjawab ‘kalau boleh, nanti sore ada yang mau datang untuk menjelaskan’. Saya meng-‘iya’-kan dan menduga ia akan datang bersama 1-2 orang. Tuhan rupanya mengerti saya masih bimbang. Siang itu di acara TV, seorang pendeta berkata kira-kira demikian, “kapan kamu siap? kapan kamu anggap diri layak?” Selama hidup, manusia masih akan berbuat salah dan berdosa. Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Wah, skakmat! Tidak lama kemudian, datanglah sekitar delapan orang ke rumah. Dalam hati, saya tertawa. Akhirnya saya ikut kegiatan. Setelah program itu selesai, ternyata harus jadi panitia angkatan berikutnya. Saat itulah, saya memahami betapa sulitnya. Namun, tetap dapat mengalami sukacita.

Dalam kegiatan itu, saya diingatkan bahwa orang kristen tidak cukup menghadiri misa dan doa pribadi. Gereja sesungguhnya adalah kumpulan orang beriman dengan segala kegiatannya. Setiap orang diajak berpartisipasi dalam kehidupan menggereja. Pengikut Kristus hendaknya siap dibentuk menjadi pekerja-pekerja Tuhan dan mengambil teladan pelayanan dari Yesus Kristus. Pekerja di ladang, tidak diam dalam ruangan yang nyaman. Jadi kita diajak untuk keluar dari zona nyaman dan siap menghadapi tantangan. Tuhan Yesus berkata, ‘Tuaian banyak, tetapi pekerja sedikit’. Maka perlu minta kepada Tuan yang punya tuaian, agar mengirim pekerjanya (bdk. Mat 9:37-38). Sekarang pun, kita mendoakan agar banyak yang terpanggil untuk bekerja di ladang Tuhan dengan tulus. Sebagai imam, rohaniwan juga awam. Kita percaya bahwa sekarang pun Tuhan Yesus memberikan kuasa yang pernah diberikan kepada para murid-Nya. Ternyata, ladang Tuhan tidak perlu dicari ke tempat-tempat yang jauh. Bisa dimulai dari satu langkah kecil. Mulai dari pembenahan diri, kemudian pelayanan dalam keluarga, lalu bergerak semakin luas lagi.

Terimakasih Tuhan Yesus, karena melalui bacaan ini, saya diajak untuk mengenang indahnya kasih Tuhan dan pengalaman suatu panggilan. Semoga semakin banyak orang diteguhkan dengan panggilannya. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *