| Renungan hari ini dari bacaan 1 Raja-raja 21:1-16; Matius 5:38-42. “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat. 5:39). |
Bacaan pertama hari ini mengisahkan sebuah ketidakadilan yang sangat menyakitkan. Raja Ahab menginginkan kebun anggur milik Nabot yang ada di samping istananya dengan imbalan, tetapi Nabot menolak karena kesetiaannya pada hukum Tuhan yang menganggap tanah warisan sebagai bagian dari identitas dan tanggung jawab keluarga. Penolakan Nabot itu seharusnya dihormati. Namun, keserakahan membuat Ahab tidak puas. Kemudian Izebel, istri Ahab, mengambil jalan yang licik dengan memanipulasi hukum, menggunakan saksi-saksi palsu, dan akhirnya Nabot dibunuh agar tanahnya dapat dirampas. Kisah ini bukan sekadar kisah tentang seorang petani dan sebidang tanah. Ini adalah kisah tentang orang benar yang menjadi korban keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan manipulasi.
Kisah seperti ini sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Ada orang yang kehilangan haknya karena fitnah. Ada karyawan yang diperlakukan tidak adil oleh atasannya. Ada anggota keluarga yang dirugikan dalam pembagian warisan. Ada orang yang reputasinya dihancurkan oleh gosip dan berita bohong. Bahkan tidak jarang kita sendiri pernah mengalami berbagai macam perlakuan yang tidak adil.
Ketika mengalami ketidakadilan, secara manusiawi kita pasti ingin membalas. Kalau dia menyakiti saya, saya akan menyakitinya kembali. Kalau dia mempermalukan saya, saya akan mempermalukannya juga. Kalau dia memfitnah saya, saya juga akan membuka semua keburukannya. Kita membalas perlakuan orang lain seperti dia memperlakukan kita secara buruk. Inilah logika yang dikenal dalam hukum Taurat yaitu mata ganti mata, gigi ganti gigi. Perlu dipahami bahwa hukum ini diberikan Allah pada zamannya sebenarnya bertujuan baik. Hukum itu dibuat untuk membatasi balas dendam agar tidak berlebihan. Jika seseorang kehilangan satu gigi, ia tidak boleh membalas dengan membunuh orang lain. Hukuman harus seimbang.
Namun Yesus dalam Injil hari ini mengajak kita para murid-Nya untuk melangkah lebih jauh. “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Mat. 5:39). Perkataan Yesus ini sering disalahpahami. Ada yang mengira Yesus mengajarkan sikap lemah dan kita sebagai pengikut-Nya harus diam ketika ditinda. Orang beriman harus pasrah ketika diperlakukan tidak adil. Padahal bukan itu maksud Yesus.
Ketika Yesus berkata, “Berilah juga pipi kirimu” tentu yang dimaksud Yesus bukanlah arti harfiah: kita memberikan pipi kiri untuk ditampar juga. Hal ini terbukti ketika Yesus dihadapkan pada Mahkamah Agama, ada orang yang menampar-Nya, Yesus tidak memberikan pipi-Nya yang lain. Yesus sedang mengajarkan cara menghadapi penghinaan tanpa membalas penghinaan. Orang yang menampar berharap kita bereaksi dengan kemarahan sehingga lingkaran kebencian terus berputar. Kristus mengajak kita untuk tidak masuk ke dalam lingkaran itu. Kita diajak untuk tidak menjadi pelaku kejahatan yang baru.
Demikian pula ketika Yesus berkata, “Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkan juga jubahmu” (Mat 5:40). Jubah adalah pakaian luar yang sangat penting bagi orang miskin. Bahkan menurut hukum Taurat, jubah tidak boleh diambil karena dipakai sebagai selimut pada malam hari. Memberikan jubah ketika orang meminta baju menunjukkan kebebasan batin. Kita diajak untuk tidak terikat pada perasaan sakit hati ketika diperlakukan tidak adil. Orang serakah mungkin merampas milik kita, namun ia tidak dapat merampas martabat, kasih, dan hati kita ketika kita membebaskan diri dari kepahitan, kebencian, dan dendam. Kita dipanggil menjadi orang yang tidak diperbudak oleh kemarahan dan dendam.
Sebagai murid-murid Kristus, kita tentu harus mencintai dan memperjuangkan kebenaran. Yesus tidak pernah melarang kita mencari keadilan. Ketika ditampar dalam pengadilan, Yesus sendiri berkata: “Jika Aku berkata salah, tunjukkanlah salahnya; tetapi jika benar, mengapa engkau menampar Aku?” Yesus tidak membalas, tetapi Ia juga tidak diam terhadap ketidakadilan.
Ketika kita diperlakukan tidak adil, dunia mengajarkan kita untuk membalas. Namun, Kristus mengajarkan kita untuk mengalahkan kejahatan dengan cara yang lebih luhur. Jika seseorang melempar lumpur kepada kita, kita dihadapkan pada dua pilihan. Kita bisa mengambil lumpur yang sama lalu melemparkannya kembali. Akibatnya, kedua orang sama-sama kotor. Atau kita membersihkan diri dan tetap berjalan menuju tujuan kita. Keadilan tetap harus diperjuangkan, tetapi tanpa membiarkan hati kita dipenuhi kebencian dan kita menjadi pelaku kejahatan yang baru. Yesus mengajarkan bahwa ketika memperjuangkan kebenaran, jangan sampai kita kehilangan kasih.
