| Renungan hari ini dari bacaan 2 Raja-raja 4:8-11. 14-16a; Matius 10:37-42. “Siapa yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: ia tidak akan kehilangan upanya” (Mat. 10:42). |
Kasih adalah bahasa yang dapat dipahami oleh semua orang. Kasih tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal yang kelihatan besar, namun dapat hadir dalam perhatian sederhana, kerelaan untuk berbagi, dan melalui hati yang tulus. Firman Tuhan hari ini mengajak kita memahami bahwa setiap benih kasih yang ditaburkan tidak pernah sia-sia. Tuhan sanggup memakai setiap tindakan kasih untuk mengubahkan kehidupan orang lain, bahkan membawa berkat kembali kepada kita.
Dalam bacaan dari 2 Raja-raja, kita melihat seorang perempuan Sunem yang menunjukkan kasih dan kemurahan hati kepada Nabi Elisa. Ia membuka rumahnya, menyediakan makanan, bahkan membangun sebuah kamar agar Elisa dapat beristirahat ketika melewati daerahnya. Ia melakukan semua itu tanpa meminta balasan. Kasihnya lahir dari kemurahan hati dan tidak egois. Tuhan melihat ketulusan itu, sehingga melalui Elisa, perempuan tersebut menerima anugerah yang selama ini menjadi kerinduannya, yaitu seorang anak. Apa yang ia taburkan dalam kasih, Tuhan balas dengan kemurahan yang melampaui harapannya.
Kasih memang murah hati. Kasih tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga peka terhadap kebutuhan sesama. Dunia sering mengajarkan untuk menghitung untung rugi sebelum memberi. Namun, kasih Kristus mengajarkan sebaliknya. Kasih mendorong kita memberi dengan sukacita, melayani tanpa pamrih, dan berbagi tanpa mengharapkan balasan. Hati yang dipenuhi kasih tidak dikuasai oleh keegoisan, melainkan rela menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Dalam Injil Matius, Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang menerima seorang murid-Nya atau memberikan secangkir air kepada orang kecil karena nama-Nya, tidak akan kehilangan upahnya. Tuhan menghargai setiap tindakan kasih, sekecil apa pun. Tidak ada kebaikan yang luput dari perhatian-Nya. Bahkan perhatian sederhana yang diberikan dengan kasih memiliki nilai yang kekal.
Kadang orang berpikir bahwa berbuat kasih hanya menguntungkan orang lain. Padahal, kasih juga mengubahkan diri kita sendiri. Ketika kita bisa memberi, hati akan semakin dipenuhi sukacita. Ketika kita menolong, iman akan semakin bertumbuh. Ketika kita menghibur orang lain, Tuhan pun menguatkan hati kita. Berbuat kasih bukan hanya menjadi berkat bagi sesama, namun juga membentuk karakter kita semakin menjadi serupa dengan Kristus dan membuka jalan bagi Tuhan untuk menyatakan kemurahan-Nya di dalam hidup.
Karena itu, jangan pernah menunda melakukan kasih yang sudah Tuhan letakkan di dalam hati. Jika hari ini kita terdorong untuk mengunjungi orang yang sakit, mengampuni seseorang, membantu yang sedang kesulitan, atau sekadar memberi perhatian kepada mereka yang membutuhkan, lakukanlah. Jangan pernah menunda karena kesempatan berbuat kasih tidak selalu datang dua kali. Tuhan sering memakai kita sebagai jawaban atas doa orang lain.
Marilah kita menjadi pribadi yang terus menabur benih kasih di mana pun Tuhan menempatkan kita. Percayalah, setiap benih kasih yang ditaburkan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia. Tuhan akan memakai kasih itu untuk mengubahkan keadaan, menghadirkan pengharapan, dan pada waktunya kita pun akan menuai kemurahan dari Tuhan sesuai dengan kehendak-Nya. Amin
