MENGENAL YESUS DI TENGAH BADAI ( 30 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Amos 3:1-8; 4:11-12; Matius 8:23-27 “Dan heranlah orang-orang itu, katanya: “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mat. 8:27)

Ketika membaca Injil hari ini, mungkin kita bertanya: mengapa para murid begitu takut ketika badai mengguncang perahu mereka? Bukankah mereka bersama Yesus? Bukankah mereka telah menyaksikan berbagai mukjizat-Nya?
Namun, jika kita jujur, kita sering tidak berbeda dengan para murid itu. Saat hidup berjalan baik, kita mudah berkata bahwa kita percaya kepada Tuhan. Tetapi, ketika badai kehidupan datang – hasil pemeriksaan kesehatan yang mengecewakan, usaha yang merosot, masalah keluarga, atau tantangan dalam pelayanan – hati kita mulai dipenuhi kecemasan dan ketakutan.
Barangkali hal itu terjadi karena kita mengenal Yesus hanya sebatas apa yang pernah kita dengar tentang Dia, belum sungguh-sungguh mengenal siapa Dia sebenarnya. Seperti para murid yang bertanya, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mat. 8:27). Mereka mengenal Yesus sebagai guru, penyembuh, dan pembuat mukjizat, tetapi belum memahami bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas seluruh ciptaan.
Karena pengenalan yang masih terbatas itu, perhatian mereka tertuju pada angin dan ombak, bukan kepada Yesus. Mereka melihat besarnya badai, menghitung kemungkinan perahu tenggelam, tetapi lupa dengan siapa mereka berada. Maka sebelum meredakan badai, Yesus berkata, “Mengapa kamu ketakutan, hai kamu yang kurang percaya?” (Mat. 8:26). Masalah terbesar mereka bukanlah angin dan ombak, melainkan iman yang belum mengenal-Nya secara mendalam.
Saya teringat pengalaman pribadi beberapa tahun lalu. Pada usia 37 tahun, hasil CT-Scan menunjukkan salah satu pembuluh darah utama jantung saya tersumbat sekitar 80 persen. Saya sangat terkejut dan cemas. Saya merasa sedang berada dalam kondisi kesehatan yang baik, menjaga pola makan, dan rutin berolahraga. Namun, dokter menyarankan kateterisasi dan kemungkinan pemasangan ring jantung.
Saya menyetujui tindakan itu, tetapi bukan tanpa ketakutan. Pikiran saya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk: keterbatasan aktivitas, konsumsi obat seumur hidup, dan dampaknya bagi kesehatan saya. Saya begitu fokus pada badai yang sedang saya hadapi hingga lupa bahwa hidup saya ada dalam kendali Tuhan.
Sehari sebelum operasi, Yesus menegur saya melalui sabda yang kita baca hari ini: “Mengapa kamu ketakutan, hai kamu yang kurang percaya?” Sabda itu memberi saya keberanian untuk menghadapi semuanya. Ketika kateterisasi dilakukan, ternyata penyumbatan yang terlihat hanya sekitar 60 persen. Dokter memutuskan untuk menunda pemasangan ring dan memilih pengobatan oral. Puji Tuhan, tiga tahun kemudian hasil CT-Scan menunjukkan penyumbatan itu berkurang menjadi sekitar 40–50 persen, sesuatu yang menurut dokter hampir tidak mungkin.
Saya sungguh merasakan kuasa Tuhan bekerja di tengah badai kehidupan saya. Saat itu saya menyadari bahwa saya belum sungguh mengenal siapa Yesus dalam hidup saya. Saya lebih memandang badai daripada Dia yang ada bersama saya di dalam perahu. Padahal Yesus bukan hanya guru moral atau pembuat mukjizat. Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta. Jika seluruh ciptaan berada dalam tangan-Nya, bukankah hidup kita juga berada dalam tangan-Nya?
Kita sering berusaha mengatasi ketakutan dengan mencari jalan keluar atas masalah. Padahal Injil hari ini mengajarkan bahwa obat utama bagi ketakutan adalah semakin mengenal Yesus. Semakin kita mengenal-Nya, semakin kita percaya dan mampu berserah kepada-Nya, sehingga hati tetap damai meskipun badai belum reda.
Karena itu, ketika badai kehidupan datang, pertanyaan terpenting bukanlah seberapa besar masalah yang sedang kita hadapi, melainkan seberapa dalam kita mengenal Yesus yang ada bersama kita. Tuhan yang menguasai angin dan ombak adalah Tuhan yang sama yang memegang dan mengendalikan hidup kita.
Mungkin badai belum reda hari ini. Mungkin persoalan belum selesai besok. Tetapi kita dapat berjalan dengan tenang karena Tuhan yang berada di dalam perahu para murid juga berada di dalam perahu kehidupan kita. Selama Yesus ada di sana, tidak ada badai yang dapat memisahkan kita dari kasih dan penyelenggaraan-Nya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *