Siapa Yesus Bagiku? ( 29 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 12:1-11; Matius 16:13-19 Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Mat. 16:15).

Ketika Yesus bertanya, “Menurut kamu, siapa Aku?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:15-16). Yesus memuji Petrus, karena tidak terpengaruh ‘apa kata orang’ dan telah mendengarkan Allah Bapa di surga, tentang siapa Yesus. Di atas iman seteguh batu karang inilah, Yesus akan membangun gereja-Nya (bdk. Mat. 16: 17-10). Lalu sekarang, bagaimana dengan saya?

Pertanyaan itu lebih mudah dijawab ketika segala perencanaan berjalan baik, studi dan pekerjaan lancar, tidak ada konflik berat, kondisi sehat dan lingkungan aman-damai, sejahtera. Selaras dengan lirik lagu semua bunga ikut bernyanyi…! Tuhan sumber gembiraku. Akan tetapi, Yesus tidak menjanjikan jalan yang mudah dan lapang bagi para murid-Nya. Ketika keadilan menurut dunia adalah mata ganti mata, Yesus meminta untuk memaafkan penganiaya dan mengasihi musuh. Itulah kualitas pribadi para murid-Nya. Dengan sikap yang demikian orang tetap merasakan kedamaian, meski harus menghadapi berbagai persoalan. Dengan itu juga orang lain akan melihat gambaran belas kasih Allah dalam diri para pengikut Kristus. Itulah identitas dan sekaligus ‘jalan’ menuju hidup kekal yang ditunjukkan Sang Juruselamat. Lalu jika beban hidup dirasa berat, bagaimana?

Suatu ketika, saya mengikuti retret dengan perasaan galau, sedih dan merasa lelah fisik dan mental. Dalam sesi sharing, saya menyimak dan memperhatikan … ternyata ada yang imannya begitu teguh, meski persoalan hidupnya jauh lebih berat dari yang saya alami. Banyak juga yang berbagi kesaksian bagaimana Tuhan Yesus telah menolong hidupnya. Ada juga yang mengalami mujizat pertolongan dan kesembuhan. Saya merasa dikuatkan dan berjanji untuk berusaha menjadi lebih tabah dan tidak mudah menyerah.  Dalam sesi pujian, kami menyanyi dengan sepenuh hati bahwa Tuhan Yesus Juruselamat, besar kuasa-Nya!

Apakah sepulang retret saya menjadi lebih bersemangat?  jawabnya ‘ya’.  Apakah setelah itu saya masih mengalami perasaan terpuruk?  Jawabnya juga ‘ya’, tetapi, tidak seperti sebelumnya. Sebab, saya percaya ada batu karang kokoh yang dapat saya andalkan untuk berpijak atau untuk bersandar dengan aman. Emas dimurnikan dalam api peleburan. Besi menjadi pedang tajam, setelah dilebur dan ditempa berkali-kali.  Demikian juga iman seseorang, makin dikuatkan dan diteguhkan melalui berbagai tantangan dan cobaan. Saya tidak sendirian …. Ada banyak orang yang sama-sama belajar dan berjuang. Namun, lebih penting dari itu, adalah bahwa janji Tuhan Yesus akan selalu ada bersama orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Ada sebuah lukisan ‘sepasang jejak kaki di pasir’, yang menjadi sarana untuk berkontemplasi. Adanya dua pasang jejak kaki di pasir, mengingatkan kita yang sedang merasa berjalan sendirian, bahwa ternyata ada Tuhan Yesus yang berjalan mendampingi. Ketika jejak kaki di pasir hanya ada satu pasang, itulah saat dimana Tuhan Yesus sedang menggendong kita yang kepayahan dan merasa tidak kuat lagi berjalan.  Kita aman dalam ‘gendongan-Nya’. Bagaimana perasaan seperti itu dapat dialami? Bagi saya, itu dirasakan saat doa hening, masuk ke dalam suasana kehadiran-Nya, dan membiarkan Tuhan berbicara.  Biasanya setelah itu, apa yang tadinya dianggap sebagai beban, terasa menjadi lebih ringan. Pikiran yang semula kusut, kemudian pelan mulai terurai dan apa yang awalnya terasa gelap, perlahan mulai ada titik terang.

Jadi siapa Yesus bagiku?  Dialah pedoman, teladan, sumber kekuatan, Tuhan, dan Juruselamat. Dalam Dia saya merasakan kedamaian. Dialah Sang Penolong yang setia akan janji-Nya dan selalu ada untuk kita. Bersama-Nya dan di dalam Gereja-Nya, kita berjalan di dalam terang menuju hidup yang kekal. Amin.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *