Tidak Melihat, Namun Percaya ( 3 Juli 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Efesus 2:19-22; Yohanes 20:24-29. “Kata Yesus kepadanya [Tomas], “Karena engkau telah melihat Aku, engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:24-29)

Ada banyak hal sederhana dalam kehidupan ini, yang jika direnungkan lebih dalam, sebenarnya ada banyak  ‘kebetulan’ dimana Tuhanlah yang menyebabkannya.  Terutama mungkin amat dirasakan, ketika segala upaya sudah dilakukan dan sepertinya sudah tidak ada jalan keluar. Misalkan penyakit yang sudah amat parah, dimana para dokter sudah menyerah, kemudian karena doa ternyata dapat sembuh lagi. Atau pertolongan dan jalan keluar yang tiba-tiba muncul, ketika merasa sudah ada di jalan buntu. Berbahagialah mereka yang mendapat anugerah pengalaman mujizat demikian. Berbahagia pula mereka yang menjadi saksi-saksinya. Berbahagialah mereka yang berperan serta, sehingga mujizat dapat terjadi.

Saya percaya bahwa dalam banyak kesempatan, sekarang ini pun, Tuhan tetap menganugerahkan mukjizat serupa, sehingga dapat meneguhkan iman banyak orang. Saya pernah bersikap sedikit skeptis terhadap hal ini, namun sudah dipertobatkan. Saya percaya mukjizat dapat terjadi, tetapi kadang masih bersikap ragu. Sampai suatu ketika saya sendiri mengalami kesembuhan seketika. Memang kondisi saya baru berupa ditemukannya beberapa benjolan yang menyebabkan rasa ‘sengatan listrik’ yang makin lama, makin sering dan kuat. Hal itu sudah berlangsung 1-2 tahun dan dokter sudah meminta saya untuk dibiopsi. Dalam sesi adorasi kepada Sakramen Maha Kudus, saya disembuhkan. Saya menunggu sampai empat tahun kemudian, baru berani bersaksi dalam retret yang sama, mengenai kesembuhan yang saya alami. Sampai sekarang, sudah lebih dari sepuluh tahun sudah lewat, dan saya sehat.

Saya sangat memahami, bahwa kesaksian ini mungkin saja akan mendapat berbagai macam tangapan. Namun, saya merasa terdorong untuk tetap berbagi kisah ini, karena saya sudah pernah terlebih dahulu merasakan bahwa kesaksian kesembuhan orang-orang lain, telah memberi pengharapan dalam diri saya untuk beroleh kesembuhan juga. Bukan karena doa saya, tetapi karena didoakan dalam suatu retret. Jadi sungguh bukan hanya upaya saya. Tetapi, karena Tuhan yang telah berbelas kasih memberikannya. Saya kebetulan boleh mengalami sentuhan kasih-Nya. Maka saya merasa terpanggil berbagi kesaksian iman.

Jika Tomas merasa perlu untuk melihat luka-luka Tuhan Yesus, baru akan percaya, saya pun pernah bersikap ragu. Namun, saya sudah dipertobatkan dari pikiran skeptis mengenai mukjizat Tuhan di zaman sekarang. Terlebih setelah peristiwa kesembuhan itu, saya lebih mudah untuk melihat mukjizat dalam hal kecil dan sederhana, serta bersyukur karenanya. Saya percaya bahwa itu pun terjadi karena penyelenggaraan Tuhan. Sekarang ini ada berbagai komunitas dalam Gereja yang mungkin dipakai Tuhan untuk menjadi partner-penyelenggaraan mukjizat-Nya. Saya merasa yakin bahwa ada banyak orang yang sudah menjadi saksi mukjizat kesembuhan seperti ini. Saya juga percaya bahwa ada lebih banyak orang yang sudah percaya meskipun tidak melihatnya. Semoga banyak orang dipertobatkan dari perasaan ragu dan skeptis. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *