| Renungan hari ini dari bacaan Amos 7:10–17; Matius 9:1–8 “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu diampuni.” (Mat. 9:2) |
Kita sering mendengar anggapan bahwa Allah dalam Perjanjian Baru penuh kasih, sedangkan Allah dalam Perjanjian Lama keras dan kejam. Benarkah demikian? Jika kita membaca Kitab Suci secara utuh, kita akan menemukan bahwa Allah yang sama selalu bertindak dengan kasih dan keadilan yang tidak pernah berubah.
Dalam bacaan pertama (Am. 7:10–17), Nabi Amos ditegur dan diusir oleh Amazia, imam di Betel, bahkan dilaporkan kepada Raja Yerobeam karena nubuatnya yang keras. Amos sendiri menegaskan bahwa ia bukan nabi profesional, melainkan seorang yang dipanggil Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya. Pesannya tegas: Yerobeam akan mati oleh pedang dan Israel akan dibuang dari tanahnya.
Mengapa hukuman itu datang? Bukan karena Allah kejam, melainkan karena umat terus-menerus menyembah ilah lain dan menolak peringatan yang berulang kali disampaikan melalui para nabi. Kasih Allah selalu mendahului hukuman-Nya. Ia mengingatkan, menanti pertobatan, dan memberi kesempatan. Namun, ketika hati tetap mengeras, konsekuensi dosa pun harus ditanggung. Sejarah membuktikan bahwa Israel akhirnya mengalami pembuangan dan hidup dalam penderitaan yang panjang.
Namun, kisah itu tidak berakhir dengan penghukuman. Dalam doa pertobatan bangsa Israel yang dicatat dalam Nehemia (Neh. 9:22–37), mereka mengakui kesalahan, menyadari kebaikan Tuhan, dan memohon belas kasih-Nya. Di sana kita belajar pentingnya menyediakan waktu untuk mengingat karya Tuhan dalam hidup kita, melakukan introspeksi dengan jujur, dan bertobat sebelum kesesakan memaksa kita untuk kembali kepada-Nya.
Injil hari ini menghadirkan wajah Allah yang sama, tetapi dalam kepenuhan pewahyuan-Nya di dalam Kristus. Seorang lumpuh digotong oleh empat orang yang tidak menyerah meskipun kerumunan menghalangi mereka. Mereka naik ke atap, membongkarnya, lalu menurunkan sahabat mereka tepat di hadapan Yesus.
Mungkin, jika kita yang sedang mengajar lalu diganggu dengan cara seperti itu, kita akan merasa terganggu atau bahkan marah. Namun, Yesus melihat sesuatu yang lebih dalam. Ia melihat iman mereka. Karena itu, kata pertama yang keluar dari mulut-Nya bukanlah teguran, melainkan penghiburan: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu diampuni.”
Bagi Yesus, keselamatan jiwa lebih utama daripada kesembuhan jasmani. Ia mengajarkan bahwa yang paling berharga di hadapan Allah adalah iman, kasih, dan pengampunan. Mukjizat penyembuhan menjadi tanda dari anugerah yang lebih besar, yaitu pendamaian manusia dengan Allah.
Sayangnya, di tengah peristiwa yang begitu indah, para ahli Taurat justru menuduh Yesus menghujat. Mereka yang seharusnya paling memahami karya Allah malah terhalang oleh kesombongan intelektual dan kekakuan hati. Bukankah sikap seperti itu masih dapat kita temukan dalam diri kita sendiri? Kita lebih mudah mengandalkan pikiran dan penilaian kita daripada membuka diri terhadap misteri kasih Allah.
Karena itu, sabda hari ini mengajak kita untuk tidak mengulangi kesalahan Israel di masa lampau. Jangan sampai hati kita menjadi keras, menolak teguran Tuhan, atau merasa lebih tahu daripada kehendak-Nya. Sebaliknya, marilah kita belajar dari iman orang-orang yang menggotong si lumpuh: iman yang gigih, penuh harapan, dan rela membawa sesama datang kepada Kristus.
Sebagai orang Kristen, kita patut bersyukur karena “Titah TUHAN itu benar, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm. 19:9–10). Hukum Tuhan bukanlah beban, melainkan jalan menuju kehidupan yang adil, pasti, dan penuh damai. Lebih dari itu, kita memiliki kabar sukacita yang agung: “Di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka” (2Kor. 5:19).
Maka, apa pun kelemahan dan dosa kita, marilah datang kepada Yesus dengan iman. Dengarkan kembali sabda-Nya yang meneguhkan: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu diampuni.”
