Padang Gurun: Tempat Cinta Mula-mula Bersemi ( 6 Juni 2026 )

Bacaan hari ini dari renungan Hosea 2:13.14b-15.18-19; Matius 9:18-26 “Sesungguhnya, Aku akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, lalu berbicara memikat hatinya” (Hos. 2:13).

Ada kalanya kehidupan membawa langkah kita ke “padang gurun.” Bukan padang gurun secara harfiah, tetapi masa-masa ketika segala sesuatu dalam kehidupan ini menjadi terasa kering dan tandus. Kehidupan bertambah sulit, dan kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Mungkin usaha kita mengalami kemunduran, kehilangan pekerjaan, kesehatan mulai menurun, hubungan dengan keluarga tidak lagi sehangat dulu, atau doa-doa terasa seperti tidak mendapat jawaban. Jangankan untuk melangkah maju, perjuangan untuk sekadar bertahan saja pun terasa berat. Pada saat-saat seperti itu, kita cenderung bertanya, “Tuhan, mengapa Engkau membiarkan aku berada di tempat ini?”
Melalui Nabi Hosea, Allah memberikan jawaban yang mengejutkan. Setelah berbicara tentang hukuman atas ketidaksetiaan Israel, Allah berkata, “Aku ini akan membujuk dia, dan membawa dia ke padang gurun, dan berbicara menenangkan hatinya.”
Biasanya kita menganggap padang gurun sebagai tempat penghukuman. Namun, dalam pandangan Allah, padang gurun justru dapat menjadi tempat pemulihan. Di sanalah segala sesuatu yang selama ini kita andalkan mulai disingkirkan, sehingga kita kembali menyadari bahwa hanya Allah yang menjadi sumber kehidupan kita.
Bangsa Israel pernah mengalami hal itu. Ketika keluar dari Mesir, mereka tidak memiliki apa-apa. Tidak ada ladang, rumah, atau persediaan makanan. Kehidupan mereka sepenuhnya bergantung kepada Allah. Setiap hari mereka melihat pemeliharaan-Nya melalui manna, air yang keluar dari gunung batu, dan tuntunan-Nya melalui tiang awan dan tiang api. Itulah saat-saat ketika hubungan mereka dengan Allah masih sederhana dan penuh kepercayaan.
Namun, ketika bangsa Israel sudah hidup nyaman di tanah perjanjian, hati mereka perlahan menjauh. Mereka mulai mengejar berhala dan mengira bahwa segala kesejahteraan yang mereka nikmati berasal dari ilah-ilah lain. Karena itu, Allah membawa mereka kembali ke “padang gurun,” bukan untuk menghukum mereka atau melihat mereka menderita, tetapi agar mereka mengingat kembali kasih yang mula-mula.
Bukankah hal yang sama sering terjadi dalam hidup kita? Saat segala sesuatu berjalan lancar, kita bisa tanpa sadar bangga akan kemampuan diri sendiri. Kesibukan pekerjaan, kesuksesan secara karir dan ekonomi, kehormatan posisi sosial, bahkan kepopuleran dalam bidang pelayanan dapat menggantikan tempat Tuhan di hati kita. Lalu ketika semuanya mulai diguncang, dan satu persatu mulai lepas dari tangan kita, kita pun merasa kehilangan arah. Padahal mungkin justru pada saat itulah Tuhan sedang berbicara dengan lembut kepada hati kita, mengajak kita kembali kepada-Nya.
“Maka pada waktu itu engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Ba’alku,” (Hos. 2:15). Kata ba’al artinya tuan. Di sini, Allah menghendaki hubungan yang dibangun atas kasih yang tulus, bukan sekadar kewajiban tugas antara tuan dan hamba. Ia tidak ingin Israel datang kepada-Nya sebagai kewajiban agama, agar ada kewajiban dari Allah untuk menolong ketika mereka membutuhkan pertolongan-Nya. Demikian juga saat ini, Allah rindu agar kita mengenal-Nya sebagai pribadi yang mengasihi kita, seperti seorang suami yang setia mengasihi istrinya.
Mungkin hari ini Anda sedang berada di “padang gurun”. Jangan terburu-buru menganggap bahwa Tuhan telah meninggalkan Anda. Bisa jadi justru di tempat yang sunyi, kering, dan tandus itu Tuhan sedang berbicara lebih jelas daripada sebelumnya. Ia sedang membujuk hati Anda, mengajak Anda kembali menikmati persekutuan dengan-Nya. Sebab, tujuan Allah bukan sekadar mengubah keadaan kita, melainkan memulihkan hubungan kita dengan-Nya.
Marilah kita membuka hati untuk mendengar suara-Nya. Biarlah di setiap fase kehidupan; baik masa kelimpahan maupun masa kekurangan, dapat membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Sebab, kasih-Nya tetap sama, kesetiaan-Nya tidak pernah berakhir, dan kerinduan-Nya adalah agar kita benar-benar mengenal Dia, berjalan bersama-Nya dan hidup dalam persekutuan yang erat dengan Allah yang mengasihi kita dengan kasih yang kekal.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *