WASPADA TERHADAP BERHALA MODERN YANG TIDAK DISADARI ( 7 Juni 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Hosea 8:4-7.11-13; Matius 9:32-38 “Mereka memberi kepada-Ku kurban-kurban sembelihan, mempersembahkan daging dan memakannya, tetapi TUHAN tidak berkenan kepada mereka!” (Hos. 8:13).

Betapa butanya kita, manusia masa kini, dalam melihat kebenaran. Sering kali kita mencari Allah, tetapi dengan cara dan syarat kita sendiri. Kita membangun “mezbah” kehidupan yang hanya disesuaikan dengan kesukaan, pandangan, dan kenyamanan pribadi kita.

Tanpa disadari, manusia modern kerap terjebak dalam “berhala baru“: status, materi, atau pembenaran diri. Kondisi ini persis seperti zaman Nabi Hosea, ketika ia memberikan teguran keras kepada umat Israel yang terjebak dalam formalitas agama. Mereka rajin mendirikan banyak mezbah ritual, tetapi hati mereka sebenarnya telah menjauh dari hukum Allah dan berpaling pada berhala buatan sendiri.

Kebutaan rohani ini juga membuat manusia gagal mengenali pekerjaan Tuhan. Seperti kaum Farisi dalam Injil Matius, mereka menyaksikan Yesus menyelamatkan orang yang kerasukan setan, tetapi mata hati mereka tertutup hingga tega menuduh, “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” (Mat 9:34).

Kisah-kisah ini menjadi cermin bagi kita untuk memeriksa kembali motivasi iman kita. Apakah rutinitas ibadah kita benar-benar didasari oleh kasih yang tulus kepada Tuhan? Ataukah semua itu sekadar topeng untuk mencari ketenangan semu, atau sekadar agar dianggap sebagai penganut agama yang taat?

Mari kita jujur pada diri sendiri: Apakah kita tampak rajin ke gereja hanya demi menjaga status sosial? Apakah kita aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan hanya demi harga diri dan pujian manusia? Jika ya, keaktifan itu telah berubah menjadi berhala modern yang membungkus ego kita. Di tengah situasi inilah kita diingatkan bersama bangsa Israel: “Percayalah kepada TUHAN! Dialah pertolongan dan perisai kita.” (Mzm 115:9).

Dunia modern dengan segala tuntutannya telah membutakan kita. Oleh karena itu, kita harus mau dibawa kembali kepada Yesus untuk disembuhkan dari kebutaan dan segala keterpurukan rohani ini. Hanya melalui belas kasih-Nya, jiwa kita dipulihkan.

Namun, pemulihan tidak berhenti pada diri kita sendiri. Kita yang telah disembuhkan diutus untuk peka terhadap sesama yang sedang lelah, terlantar, dan kehilangan arah hidup. Kita dipanggil untuk belajar dan menghidupkan berita Injil Kerajaan Allah yang Yesus sampaikan.

Yesus terus berjalan keliling, dan Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” Sebagai murid Kristus masa kini, maukah kita membuka hati untuk bertobat? Maukah kita mengambil komitmen menjadi pekerja ladang-Nya yang berani, seperti Nabi Hosea yang dengan setia menghadapi dan menegur bangsanya demi menuntun mereka kembali kepada kebenaran sejati?

Ya Bapa, bersihkanlah hati kami dari segala bentuk penyembahan berhala modern yang sering kali tidak kami sadari dan menjauhkan kami dari-Mu. Segarkanlah jiwa kami dengan belas kasih Putra-Mu, Yesus Kristus, agar kami tidak lagi hidup dalam ketakutan atau kepalsuan. Utuslah kami dan ajarlah kami menjadi pekerja-pekerja-Mu yang berani, yang membawa kesembuhan, kedamaian, dan kasih sejati kepada sesama yang sedang terlantar di sekitar kami. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *