| Renungan hari ini dari bacaan Kebijaksanaan Salomo 12: 13 ; 16-19; Matius 13: 24- 43 “Selain Engkau, tidak ada ilah yang memelihara segala bangsa, sehingga Engkau harus membuktikan kepadanya bahwa Engkau tidak menghukum secara tidak adil.” (Keb. 12:13). |
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang lalang yang tumbuh di antara gandum. Lalang itu bukan tumbuh dengan sendirinya, tetapi ada musuh yang sengaja menaburkannya. Secara manusiawi, kita tentu merasa risih melihatnya. Rasanya ingin segera mencabut lalang itu supaya gandum dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang melimpah.
Namun, justru di sinilah letak keindahan perumpamaan Tuhan Yesus. Ketika para hamba bertanya apakah mereka harus mencabut lalang itu, sang tuan menjawab:
“Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.” (Mat. 13:29-30).
Mengapa Tuhan Yesus melarang lalang itu dicabut? Alasannya sungguh menyentuh hati: supaya gandum tidak ikut tercabut.
Oooh… so sweet ya… 🙏🌿
Begitu besar kasih Tuhan kepada gandum-gandum-Nya. Begitu hati-hati Ia memperlakukan milik-Nya agar tidak ada yang terluka. Gandum itu adalah kita, orang-orang yang mengasihi Tuhan Yesus. Kitalah benih baik yang ditaburkan oleh-Nya.
Hal yang sama ditegaskan dalam Kitab Kebijaksanaan Salomo (12:13), bahwa tidak ada Allah selain Dia yang memelihara segala sesuatu. Allah selalu berinisiatif melakukan yang baik dan memelihara umat-Nya dengan penuh kasih dan perhatian.
Lalu, bagaimana dengan lalang?
Inilah pertanyaan yang sering muncul dalam hidup kita. Kita melihat begitu banyak kejahatan yang seolah-olah terus bertumbuh dengan subur. Kadang kita bertanya, bahkan merasa gemas: mengapa Tuhan membiarkannya? Mengapa orang-orang yang berbuat jahat tampaknya tetap berhasil? Mengapa ketidakadilan terus terjadi?
Kita dapat melihatnya di berbagai bidang kehidupan: di dunia, di negara, di lingkungan sekitar, bahkan di dalam Gereja, di keluarga, dan juga di dalam diri kita sendiri.
Perumpamaan Tuhan Yesus memberi jawabannya. Dalam Matius 13:25 dikatakan bahwa ketika semua orang sedang tidur, datanglah musuh menaburkan benih lalang. Kemudian pada ayat 38 dijelaskan bahwa lalang itu adalah anak-anak si jahat. Jadi, kejahatan memang berasal dari musuh yang bekerja diam-diam.
Lalu mengapa Tuhan membiarkannya tetap tumbuh?
Kitab Kebijaksanaan Salomo memberikan jawabannya: “Sebab asas keadilan-Mu ialah kekuatan-Mu” (12:16). Allah adalah Allah yang adil. Tetapi, keadilan-Nya selalu berjalan bersama belas kasih. Karena itulah Tuhan masih memberi kesempatan kepada mereka yang hidup dalam kejahatan untuk bertobat. Ia sabar menunggu hingga waktu yang telah ditentukan-Nya.
Namun, kesabaran Allah bukan berarti Ia membiarkan kejahatan untuk selamanya. Akan tiba saat penghakiman. Tuhan Yesus berkata bahwa pada akhir zaman lalang akan dikumpulkan dan dibakar dalam api (Mat. 13:40). Mereka yang tetap menolak bertobat akan menerima penghakiman sesuai dengan perbuatannya.
Sebaliknya, bagi mereka yang tetap setia menjadi gandum-Nya, Tuhan memberikan pengharapan yang indah:
“Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat. 13:43).
Karena itu, ketika kita melihat kejahatan di sekitar kita, jangan cepat putus asa atau kehilangan iman. Tuhan mengetahui semuanya. Ia sedang bekerja dengan cara dan waktu-Nya sendiri. Yang terpenting bagi kita adalah tetap menjadi gandum yang baik: bertumbuh dalam iman, berakar pada firman Tuhan, dan menghasilkan buah-buah kasih di tengah dunia yang masih dipenuhi lalang.
Tuhan Yesus, di tengah begitu banyak kejahatan yang masih terjadi di dunia ini, mampukanlah aku untuk tetap menjadi gandum-Mu yang bertumbuh subur. Teguhkan aku agar tetap setia berakar pada firman-Mu, tidak terpengaruh oleh lalang di sekitarku, dan tetap percaya pada keadilan serta belas kasih-Mu. Amin
