| Renungan hari ini dari bacaan Mikha 2:1-5; Matius 12:14-21. “Sesungguhnya, Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini, dan kamu tidak dapat menghindarkan lehermu dari kuk itu. Kamu tidak dapat lagi berjalan angkuh, sebab waktu itu adalah waktu yang jahat” (Mikha 2: 3). |
Sekilas, ayat ini terdengar sangat keras, bahkan seolah-olah Tuhan hanya ingin menghukum umat-Nya. Namun, jika dibaca dalam keseluruhan konteks Kitab Mikha, kita akan menemukan bahwa kata-kata tersebut sesungguhnya merupakan ungkapan kasih Allah yang sedang memperingatkan umat-Nya agar kembali ke jalan yang benar.
Bila kita menengok sejarah perjalanan iman Israel, Nabi Mikha melayani sekitar tahun 740–700 SM pada masa Kerajaan Israel dan Yehuda. Pada masa itu, para pemimpin, orang-orang kaya, hakim, dan pemilik tanah menyalahgunakan kekuasaan mereka. Tanah milik orang miskin dirampas, kaum lemah ditindas, dan kesombongan merajalela. Karena itulah Tuhan menyampaikan teguran yang begitu keras melalui nabi-Nya.
Kalimat, “Aku merancang malapetaka terhadap kaum ini,” bukan berarti Allah senang menghukum manusia. Bagi orang beriman, malapetaka yang dimaksud bukanlah ungkapan kebencian Allah, melainkan konsekuensi dari dosa yang terus dipelihara. Ketika manusia menolak untuk bertobat, Allah mengizinkan disiplin dan pengalaman pahit menjadi sarana untuk memulihkan umat-Nya.
Sebuah kisah sederhana kiranya dapat menjadi ilustrasi.
Pak Kronwel adalah seorang peternak babi yang cukup berhasil. Selama bertahun-tahun ia bekerja keras membangun usahanya dengan manajemen yang baik. Ratusan ekor babi berhasil dijual dengan keuntungan yang membanggakan. Keberhasilan itu dirayakannya dengan penuh sukacita. Ia mengajak keluarganya berlibur, membeli mobil baru, dan menikmati hasil jerih payahnya.
Namun, di tengah kegembiraan itu, ada sesuatu yang terlupakan. Para pegawai kandang yang setiap hari bangun sebelum matahari terbit, membersihkan kandang, memberi pakan, memantau kesehatan ternak, bahkan tetap bekerja saat hari libur, tidak pernah memperoleh penghargaan. Tidak ada bonus, tidak ada ucapan terima kasih, bahkan tidak ada sapaan yang menunjukkan bahwa jerih payah mereka dihargai. Sebagian dari mereka hanya bisa berkata dalam hati, “Mungkin memang beginilah nasib kami. Yang penting pekerjaan selesai.”
Beberapa bulan kemudian, Pak Kronwel bersiap menyambut panen berikutnya. Ia telah menghitung keuntungan yang akan diperoleh. Namun, tiba-tiba wabah penyakit menyerang peternakannya. Dalam hitungan hari, ternak-ternaknya mati satu demi satu sehingga ia mengalami kerugian yang sangat besar.
Di tengah kesedihan itu, ia bertanya kepada seorang sahabat yang aktif di Gereja, “Apakah Tuhan sedang menghukum saya?”
Sahabatnya menjawab dengan tenang, “Saya tidak berani mengatakan bahwa Tuhan sedang menghukummu. Tetapi, setiap peristiwa dalam hidup dapat menjadi kesempatan untuk bercermin. Mungkin Tuhan sedang mengajakmu melihat sesuatu yang selama ini luput dari perhatianmu.”
Pesan bacaan hari ini juga demikian. Nabi Mikha tidak sedang menggambarkan Allah yang kejam dan dengan mudah mencelakakan manusia. Sebaliknya, ia memperlihatkan Allah yang begitu sabar, yang berkali-kali mengundang umat-Nya untuk bertobat sebelum akibat dosa itu semakin berat.
Karena itu, pertanyaan yang layak saya ajukan kepada diri sendiri bukanlah, “Benarkah Tuhan adalah sumber malapetaka?” Melainkan, “Apakah justru saya sendiri yang sedang menabur benih-benih malapetaka melalui kesombongan, ketidakpedulian, atau sikap yang membuat saya sulit mendengar teguran Tuhan?”
Apakah saya masih bersedia memberi ruang bagi Tuhan untuk membentuk hati saya, sebelum saya harus belajar melalui konsekuensi yang lebih berat?
Injil hari ini melengkapi pesan Nabi Mikha dengan memperlihatkan wajah Yesus yang penuh kelembutan. Tentang Dia dikatakan, “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan keadilan itu menang” (Mat. 12:20).
Betapa indahnya! Allah yang sama yang menegur melalui Nabi Mikha juga adalah Allah yang penuh belas kasih di dalam diri Yesus Kristus. Teguran-Nya bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menyelamatkan. Peringatan-Nya bukan bertujuan menjadikan diri-Nya sebagai sumber malapetaka, melainkan membangunkan manusia agar kembali kepada-Nya dan berjalan menuju Kerajaan Surga.
Ya Tuhan, semoga kami semakin menyadari bahwa setiap teguran-Mu selalu lahir dari kasih-Mu. Ajarlah kami memiliki hati yang peka terhadap suara-Mu, rendah hati untuk bertobat, dan setia berjalan di jalan-Mu. Semoga kami tetap menjadi buluh yang Engkau kuatkan dan sumbu yang Engkau nyalakan kembali, sehingga hidup kami menjadi kesaksian akan kasih dan keadilan-Mu. Amin.
