BELAS KASIH: WAJAH ALLAH YANG SEJATI ( 17 Juli 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 38:1-6.21-22.7-8; Matius 12:1-8. “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat 12:7).

Suatu hari ada seorang ibu datang ke gereja untuk mengikuti misa. Ia datang terlambat dan tergesa-gesa. Rambutnya belum sempat dirapikan, bajunya sederhana dengan celana pendek, bahkan sandal yang dipakainya tampak lusuh. Sontak saja ibu ini menjadi perhatian orang yang duduk di sekitarnya. Beberapa orang memandangnya dengan tatapan kurang bersahabat, ada yang berbisik “Kok datang ke gereja seperti itu ya?” Mereka merasa penampilannya kurang pantas.
Setelah misa selesai, beberapa orang menyapanya dan baru diketahui bahwa ibu itu baru saja dari rumah sakit. Sejak dini hari ia seorang diri mengantar dan menjaga anaknya yang sedang dirawat karena demam tinggi. Ia belum sempat mandi dan sarapan. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah satu: “Saya ingin mampir ke gereja dulu untuk misa dan menyerahkan sakit yang diderita anak saya kepada Tuhan”. Seketika suasana berubah. Orang-orang yang semula membicarakannya merasa malu. Mereka menyadari bahwa mereka hanya melihat penampilan luar tanpa tahu apa yang sebenarnya dialaminya.
Inilah yang terjadi dalam Injil hari ini. Orang-orang Farisi melihat murid-murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat. Mereka tidak melihat bahwa para murid sedang lapar setelah perjalanan panjang. Mereka hanya melihat satu hal, yaitu ada aturan yang menurut mereka telah dilanggar, maka mereka segera menghakimi.
Yesus tidak langsung berdebat tentang hukum Sabat. Sebaliknya, Ia mengajak mereka melihat kembali hati Allah. Ia mengingatkan kisah Daud yang makan roti sajian ketika ia dan para pengikutnya kelaparan. Ia juga mengingatkan bahwa para imam pun bekerja pada hari Sabat ketika melayani di Bait Allah. Lalu Yesus mengutip Sabda Allah dalam Kitab Hosea: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan” (Mat 12:7). Yesus mau mengatakan bahwa belas kasihlah yang dikehendaki Allah melebihi formalitas karena belas kasih adalah cara Allah memandang manusia.
Belas kasih Allah ini nyata dapat kita lihat dalam bacaan pertama dimana Raja Hizkia sedang berada di ambang kematian. Nabi Yesaya bahkan telah menyampaikan sabda Tuhan bahwa ajalnya sudah dekat. Namun, Hizkia menangis dan berdoa dengan segenap hati sehingga menggerakkan belas kasih Allah yang kemudian memberi kesembuhan dan memperpanjang umurnya, bukan dengan upacara atau persembahan yang megah.
Dalam keseharian tanpa disadari kita pun sering jatuh ke dalam sikap orang Farisi. Kita lebih cepat melihat kesalahan orang lain daripada memahaminya. Di media sosial, misalnya, sering terjadi hanya dengan melihat potongan video beberapa detik, ribuan orang langsung mencaci, menghina, bahkan menghakimi seseorang padahal mereka tidak mengetahui keseluruhan cerita. Betapa mudahnya kita menjadi hakim atas sesama hanya karena melihat apa yang di permukaan.
Dalam perjalanan iman kita sebagai seorang Katolik, ibadah yang kita lakukan kepada Allah janganlah menjadi formalitas semata, namun harus menghantar kita menjadi pribadi yang semakin menyerupai Kristus yaitu pribadi yang berbelas kasih. Belas kasih bukan berarti membenarkan semua kesalahan. Namun, belas kasih tampak dalam usaha kita memahami orang lain sebelum menghakimi, memberi ruang bagi orang lain untuk menjelaskan, atau bisa melihat bahwa setiap orang mungkin sedang memikul salib yang tidak kita ketahui. Setiap kali kita memilih belas kasih daripada penghakiman, saat itulah wajah Kristus menjadi nyata di tengah dunia.
Marilah kita berdoa agar hati kita semakin menyerupai hati Kristus. Hati yang tidak berhenti melihat penampilan luar, tetapi mampu melihat kebutuhan, luka, dan harapan orang lain. Sebab hanya dengan hati seperti itulah kita dapat membangun relasi yang benar dengan Allah sekaligus menghadirkan kasih-Nya kepada sesama.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *