| Renungan hari ini dari bacaan Kidung Agung 3:1-4a; Yohanes 20:1, 11-18 “Aku hendak bangun dan berkeliling di kota; di jalan-jalan dan di lapangan-lapangan kucari dia, jantung hatiku” (Kid. 3:2). |
“Di atas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia.” Demikianlah suara kerinduan dari mempelai perempuan yang mencari kekasihnya di waktu malam. Ia bangun, pergi ke luar, berkeliling kota, bertanya kepada peronda-peronda, dan terus mencari sampai akhirnya ia menemukan kekasihnya. Ia tidak takut akan kegelapan, tidak peduli akan bahaya. Satu-satunya yang ia pedulikan hanya mencari kekasihnya.
Dalam Yohanes 20, kita menemukan kisah yang memiliki gema yang sama. Maria Magdalena datang ke kubur pada pagi hari. Ia mencari Yesus, tetapi tidak menemukan-Nya. Kubur itu kosong. Ia menangis. Bahkan ketika Yesus berdiri di dekatnya, Maria tidak mengenali-Nya. Maria melihat Yesus, tapi ia menyangka Yesus adalah penunggu taman. Karena yang ia cari bukanlah Yesus yang bangkit, tetapi jasad Yesus yang mati.
Kadang-kadang kita juga mencari Tuhan dalam hidup kita. Kita mencari-Nya dalam doa, dalam ibadah, dalam keheningan, dalam pergumulan. Namun, sering kali ketika hati kita dipenuhi kesedihan dan kekecewaan, kita tidak menyadari kehadiran Tuhan. Kita berdoa, tapi kita merasa doa kita tidak sampai ke surga. Kita menyangka Tuhan jauh, Tuhan “mati” dan tidak peduli dengan segala persoalan dalam hidup kita. Padahal Ia tidak pernah meninggalkan kita, Ia selalu bersama kita.
Maria tidak mengenali Yesus karena ia sedang mencari mayat. Ia mencari Yesus berdasarkan apa yang ia pikir telah terjadi. Namun, Yesus yang hadir di hadapannya adalah Yesus yang telah bangkit. Kadang-kadang kita mencari Tuhan dengan konsep yang kita miliki, dengan harapan yang kita ingini. Kita mengharapkan Tuhan bekerja dengan cara tertentu. Lalu ketika Ia hadir dengan cara yang berbeda, kita tidak mengenali-Nya. Kita membatasi Dia dengan pengertian kita yang dangkal.
Mungkin hari ini kita merasa Tuhan jauh. Mungkin kita sedang menangis seperti Maria. Mungkin kita sedang mencari dan tidak menemukan. Namun, kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan lebih dekat dari yang kita sadari. Tekunlah mencari Dia, maka kita akan menemukan Dia.
Kemudian Yesus mengatakan satu kata: “Maria!”
Memanggil nama berarti mengenal seseorang secara pribadi. Maria bukan sekadar salah satu dari banyak pengikut Yesus. Ia dikenal. Ia diingat. Ia dipanggil secara pribadi.
Murid-murid yang lain setelah melihat kubur kosong langsung kembali pulang, tapi Maria tetap di sana. Ia memiliki kerinduan dan harapan untuk menemukan Yesus, yang lebih besar dari murid-murid lainnya. Itulah sebabnya Maria menjadi orang pertama yang bertemu dengan Yesus setelah kebangkitan-Nya.
Allah tidak pernah melupakan kita, ia mengenal kita secara pribadi, dan mengetahui segala pergumulan kita. Ia mengasihi kita. Jangan berhenti mencari wajah-Nya, maka kita akan menemukan Sang Kasih.
Ketekunan mempelai perempuan dalam Kidung Agung untuk mencari kekasihnya, dan kegigihan Maria ketika mencari gurunya, membuat mereka menemukannya.
Karena itu, jika kita memiliki kerinduan akan Allah, ketekukan dan kegigihan untuk menemukan Dia, Ia pasti akan membuat diri-Nya ditemui oleh kita.
