| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 2:1-3.7-8.12-13; Matius 13:10-17 “Sebab umat-Ku melakukan dua kejahatan: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam-kolam bagi mereka sendiri, yaitu kolam-kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” (Yeremia 2:13) |
Pernahkah kita melihat atau mengalami seorang ayah atau ibu yang begitu sedih karena anak yang sangat dikasihinya justru menjauh dan meninggalkan mereka? Semua kasih, pengorbanan, dan perhatian yang telah dicurahkan seolah-olah dilupakan. Orang tua itu tidak berhenti mengasihi, bukan karena mengharapkan balasan atas segala yang telah diberikannya, tetapi karena mereka merindukan hubungan kasih dengan anak yang mereka cintai. Yang mereka dambakan hanyalah tetap dicintai dan tetap memiliki ikatan hati dengan anaknya.
Melalui Nabi Yeremia, Tuhan memperlihatkan hati-Nya yang penuh kasih kepada umat Israel. Ia mengenang masa-masa awal ketika umat-Nya dengan setia mengikuti-Nya setelah dibebaskan dari tanah Mesir. Namun, setelah mereka menikmati Tanah Terjanji, mereka melupakan Tuhan dan meninggalkan Dia, Sang Sumber Air Kehidupan.
Ketiga bacaan hari ini menyingkapkan satu misteri yang begitu indah, yakni kasih Allah yang tetap setia meskipun sering kali dibalas dengan ketidaksetiaan manusia.
Dalam bacaan pertama, Tuhan menyampaikan ratapan kasih-Nya melalui Nabi Yeremia. Allah tidak berdukacita karena kehilangan kuasa atau kehormatan-Nya. Ia berdukacita karena umat yang begitu dikasihi-Nya memilih meninggalkan Dia. Mereka mencari kebahagiaan di tempat lain, bagaikan orang yang menggali “kolam-kolam bocor” yang tidak mampu menampung air dan tidak pernah sanggup menghilangkan dahaga.
Bukankah keadaan itu juga dapat terjadi dalam hidup kita? Tanpa kita sadari, hati kita sering lebih bergantung pada keberhasilan, harta, jabatan, pelayanan, ataupun pengakuan manusia daripada kepada Tuhan sendiri. Semua itu memang dapat menjadi berkat, tetapi tidak pernah dapat menggantikan Tuhan sebagai sumber kehidupan yang sejati dan kekal.
Mazmur tanggapan kemudian mengingatkan kita bahwa kasih Allah tidak pernah berubah.
“Betapa berharganya kasih setia-Mu, ya Allah! Anak-anak manusia berlindung dalam naungan sayap-Mu.”
Sekalipun manusia tidak setia, Tuhan tetap membuka tangan-Nya bagi siapa pun yang mau kembali. Ia tetap menjadi tempat perlindungan, sumber pengharapan, dan sumber kehidupan bagi setiap orang yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.
Dalam Injil, Yesus mengarahkan perhatian kita kepada anugerah memiliki hati yang mampu mengenal karya Allah. Ia berkata, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar.” Mata dan telinga yang dimaksud bukan hanya mata dan telinga jasmani, melainkan hati yang terbuka terhadap kehadiran dan kasih Allah. Banyak orang melihat mukjizat dan mendengar sabda Tuhan, tetapi tidak sungguh mengenal-Nya. Sebaliknya, orang yang rendah hati akan mampu melihat karya Allah di balik setiap peristiwa hidupnya.
Bagi kita yang dipanggil menjadi pelayan Tuhan, Sabda hari ini menjadi kesempatan untuk melakukan pemeriksaan batin. Apakah aku masih datang kepada Tuhan sebagai Sang Sumber Air Kehidupan? Ataukah tanpa kusadari aku lebih sibuk menggali “kolam-kolam bocor” yang tidak pernah mampu memuaskan dahaga jiwaku? Jangan sampai pelayanan, kesibukan, atau berbagai keberhasilan justru membuatku perlahan menjauh dari Dia yang menjadi sumber kekuatan dan sukacita sejati.
Kasih Allah tidak pernah berhenti, sekalipun hati-Nya berdukacita karena manusia menjauh dari-Nya. Ia terus memanggil kita untuk pulang. Ia membuka mata kita agar mampu melihat karya-karya-Nya, membuka telinga kita agar mendengarkan Firman-Nya, dan membuka hati kita agar kembali hidup dalam kasih-Nya.
Hari ini marilah kita kembali kepada Tuhan, Sang Sumber Air Kehidupan. Hanya di dalam Dialah jiwa kita menemukan damai, sukacita, dan kehidupan yang sejati.
Tuhan, ampunilah aku apabila tanpa kusadari aku lebih mengandalkan “kolam-kolam” ciptaanku sendiri daripada datang kepada-Mu, Sang Sumber Air Kehidupan. Bukalah mata, telinga, dan hatiku agar aku semakin mengenal kasih-Mu, semakin mengandalkan Engkau, dan tetap setia berjalan bersama-Mu setiap hari. Amin.
“Kasih Allah tidak pernah berhenti mengalir. Yang sering mengering bukanlah kasih-Nya, melainkan hati kita yang perlahan menjauh dari Sang Sumber Air Kehidupan.”
