Akal Budi dan Pengetahuan sebagai Bekal Bertumbuh ( 24 Juli 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 3:14-17; Matius 13:18-23 “Yang ditaburkan di tanah yang baik artinya orang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah” (Mat. 14:23).

Setiap pagi, seringkali hal pertama yang disentuh tangan kita bukan Kitab Suci, melainkan layar HP. Ratusan notifikasi berebut perhatian sebelum kita sempat berdoa. Pesan masuk silih berganti, kabar terbaru terus bermunculan, dan rasa cemas muncul kalau ketinggalan info. Waktu berlalu cepat, tapi entah kenapa hati terasa dangkal dan gelisah. Kita banyak membaca, tapi jarang merenung. Kita tahu banyak hal, tapi sering tidak mengerti apa yang sungguh penting. Di tengah derasnya informasi, justru akal budi dan hati kita perlu ruang untuk bertumbuh.

Dalam Yeremia 3:15, Tuhan berjanji akan memberikan gembala-gembala yang menggembalakan umat dengan pengetahuan dan akal budi. Ini bukan sekadar informasi, tapi kebijaksanaan yang menuntun hidup ke arah yang benar. Sementara itu, dalam Matius 13:18-23, Yesus menjelaskan perumpamaan penabur: benih yang sama ditabur, tetapi hasilnya berbeda tergantung kondisi tanah yang menerimanya. Benih melambangkan Firman Allah yang selalu baik dan sempurna; tanah melambangkan hati dan respons manusia.

Tanah di pinggir jalan adalah hati yang keras dan tidak mengerti, sehingga Firman langsung dipatuk burung sebelum sempat masuk. Ini seperti notifikasi HP yang terus mengganggu, belum sempat direnungkan, nasihat baik sudah dipatuk oleh dering pesan atau urusan lain yang menyela.

Tanah berbatu-batu adalah hati yang menerima dengan gembira tapi tidak berakar, sehingga layu saat ada tekanan. Ini seperti semangat rohani yang menyala setelah retret atau khotbah yang menyentuh, tapi cepat padam begitu menghadapi kesulitan nyata, karena akal budi tidak sungguh mengolah dan mendalami maknanya.

Tanah bersemak duri adalah hati yang tercekik kekhawatiran dunia dan tipu daya kekayaan. Seperti rasa cemas ketinggalan zaman, yang membuat kita sibuk mengejar validasi, status, dan kepemilikan, sampai lupa menanam hal-hal yang bernilai kekal.

Tanah yang baik adalah hati yang mendengar dan mengerti, lalu berbuah 30, 60, hingga 100 kali lipat. Inilah buah dariakal budi dan pengetahuan sejati seperti dijanjikan Yeremia, bukan sekadar tahu banyak, tapi mengerti dan mengolahnya menjadi tindakan nyata.

Santa Teresa dari Kalkuta pernah berkata bahwa buah dari keheningan adalah doa, dan buah dari doa adalahiman. Keheningan itulah yang semakin langka di zaman ini, padahal justru di situlah akal budi bisa jernih dan hati bisa berubah dari tanah yang keras, berbatu, atau berduri, menjadi tanah yang baik.

Tiga langkah konkret yang bisa kita lakukan: Pertama, puasa notifikasi, matikan notifikasi HP minimal 30 menit setiap hari untuk membaca Kitab Suci atau berdoa, agar benih Firman tidak keburu dipatuk burung. Kedua, merawat akar bukan hanya semangat sesaat, setelah mendapat pengalaman rohani yang menggembirakan, luangkan waktu mengolahnya lewat renungan pribadi, agar tidak layu seperti benih di tanah berbatu. Ketiga, satu keputusan bukan seribu perbandingan, sebelum tergoda ikut arus, tanya dulu: Apakah ini benar aku butuhkan, atau aku hanya takut ketinggalan? Agar hati tidak tercekik semak duri kekhawatiran dunia.

Tuhan tidak memanggil kita menjadi tanah yang cepat merespons tapi cepat pula layu. Ia memanggil kita menjadi tanah yang baik, yang diam-diam berakar dalam keheningan, lalu berbuah nyata dalam hidup. Maukah kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk informasi dan kecemasan akan ketinggalan zaman, untuk membiarkan akal budi dan hati kita sungguh bertumbuh dalam terang Tuhan?

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *