| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 13:1-11; Matius 13:31-33 “Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diaduk ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya” (Mat. 13:33). |
Dalam budaya kematian kita, banyak orang Kristen sibuk dengan upaya penanganan krisis demi meminimalkan kerusakan yang menimpa Kekristenan yang kian merosot dan suam-suam kuku. Meskipun mereka yang melakukan hal ini sering kali membuat pengorbanan yang heroik, Tuhan tidak tertarik sekadar pada upaya pengendalian kerusakan.
Sebagian orang Kristen, yang lebih berani dan tidak terlalu terkekang oleh humanisme sekuler, berani menantang budaya kita yang anti-Kristen. Mereka berniat untuk menyusup ke dalam dunia dan bersaing dengannya. Mereka mendirikan bisnis Kristen, mengakses konten Kristen di ponsel pintar, menonton program TV Kristen, membaca surat kabar Kristen, dan sebagainya. Ini adalah langkah-langkah ke arah yang benar, namun Tuhan menghendaki jauh lebih banyak lagi.
Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih menghendaki kita bukan sekadar menyusup ke dalam dunia, melainkan meresapinya. Kita harus berani dan mau menjadi ragi, yang melaluinya “seluruh adonan” pada akhirnya mulai mengembang. Hal ini dinyatakan secara tegas dalam Bacaan Injil Matius hari ini: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya” (Mat. 13:33). Kita harus berani melawan dan “menjungkirbalikkan dunia” (Kis. 17:6 RSV-CE). Kita harus mengubah budaya humanistik sekuler dengan menemukan dan menciptakan cara untuk meresapinya dengan Injil. Hal ini tampak mustahil, namun kita harus percaya bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37). Siapkah kita untuk melakukan perubahan tersebut? Usaha apakah yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?
