| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 13:17–22; Matius 13:36–43 “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka” (Mat. 13:43) |
Mengapa Tuhan tidak segera menghentikan kejahatan di dunia? Mengapa orang yang berbuat tidak jujur masih dapat hidup nyaman, sementara mereka yang setia kepada Tuhan justru sering mengalami kesulitan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin pernah muncul dalam hati dan pikiran kita.
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menjelaskan perumpamaan tentang lalang di antara gandum. Seorang petani menaburkan benih yang baik di ladangnya. Namun, pada malam hari musuh datang dan menaburkan lalang di antara gandum. Ketika keduanya mulai tumbuh, para pekerja ingin segera mencabut lalang itu. Akan tetapi, sang pemilik ladang berkata, “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai.”
Melalui perumpamaan ini, Yesus memperlihatkan betapa besar kesabaran Allah. Tuhan tidak tergesa-gesa menghukum orang yang berbuat jahat. Sebaliknya, Ia memberikan waktu agar setiap orang mempunyai kesempatan untuk bertobat. Kesabaran Allah bukan berarti Ia membiarkan kejahatan terus berlangsung tanpa batas, melainkan karena kasih-Nya yang ingin menyelamatkan sebanyak mungkin orang.
Namun, kesabaran Tuhan sering kali disalahpahami. Ada orang yang berpikir, “Karena Tuhan tidak menghukum sekarang, berarti tidak apa-apa jika aku tetap hidup seperti ini.” Padahal, setiap hari yang masih Tuhan berikan merupakan kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Waktu adalah rahmat yang harus dimanfaatkan untuk bertobat, bukan alasan untuk menunda pertobatan.
Di sisi lain, bacaan Injil ini juga mengingatkan kita agar tidak mudah menghakimi sesama. Kita sering sibuk mencari “lalang” dalam hidup orang lain, tetapi lupa melihat keadaan hati sendiri. Mungkin kita rajin beribadah, tetapi masih menyimpan iri hati, sulit mengampuni, mudah marah, atau kurang peduli kepada mereka yang membutuhkan. Tuhan lebih menghendaki kita memperbaiki diri daripada sibuk menilai kekurangan orang lain.
Karena itu, pertanyaan yang perlu kita renungkan hari ini bukanlah, “Siapakah lalang di sekitarku?” melainkan, “Apakah aku sedang bertumbuh menjadi gandum yang baik?” Gandum yang baik akan menghasilkan buah. Buah itu tampak dalam kehidupan sehari-hari: berkata jujur, mengampuni dengan tulus, setia menjalankan tanggung jawab, rela menolong tanpa pamrih, sabar menghadapi kesulitan, serta tetap percaya kepada Tuhan dalam segala keadaan.
Bacaan pertama dari Kitab Yeremia mengingatkan bahwa akan tiba saatnya Tuhan meminta pertanggungjawaban atas hidup manusia. Kesempatan yang diberikan-Nya tidak berlangsung selamanya. Karena itu, masa penantian ini hendaknya menjadi waktu untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan sebelum saat penghakiman tiba.
Suatu hari nanti akan datang masa “panen”, saat Tuhan menghakimi dunia. Pada saat itu, yang dinilai bukanlah seberapa banyak kita mengetahui ajaran agama, melainkan apakah hidup kita sungguh menghasilkan buah kasih. Oleh sebab itu, marilah kita menggunakan waktu yang masih Tuhan berikan untuk terus bertobat, memperbaiki diri, dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.
Semoga ketika saat itu tiba, kita termasuk orang-orang benar yang, seperti sabda Yesus, “akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka” (Mat. 13:43). Itulah tujuan hidup setiap orang beriman: bukan sekadar menjadi orang yang baik di mata manusia, melainkan menjadi gandum yang berkenan di hati Allah.
Tuhan Yesus memberkati.
