| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 55:1-3; Matius 14:13-21 “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat. 14:14) |
Injil hari ini diawali dengan sebuah keadaan yang sangat manusiawi, dimana Yesus menyingkir ke tempat yang sunyi setelah mendengar berita tentang kematian Yohanes Pembaptis. Yesus mungkin ingin mengambil waktu menyendiri untuk berdoa, beristirahat, dan mengolah kesedihan-Nya. Namun, rencana itu tidak berjalan seperti yang diharapkan. Orang banyak mengetahui ke mana Yesus pergi dan mengikuti-Nya dengan berjalan kaki dari kota-kota mereka. Ketika Yesus tiba, yang dijumpai-Nya bukanlah tempat sunyi, melainkan kerumunan besar manusia yang membawa berbagai kebutuhan, penyakit, penderitaan, dan harapan. Dalam keadaan seperti itu, Yesus sebenarnya memiliki alasan yang sangat masuk akal untuk berkata, “Aku sedang lelah. Aku sedang berduka. Aku membutuhkan waktu untuk diri-Ku sendiri. Datanglah lain waktu”. Tetapi, Injil mengatakan: “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” (Mat. 14:14)
Inilah pola pelayanan yang Yesus teladankan. Belas kasih membuat Yesus keluar dari diri-Nya sendiri dan memandang kebutuhan orang lain lebih penting daripada kenyamanan pribadi-Nya. Yesus bukan tidak lelah. Yesus bukan tidak sedih. Yesus bukan tidak membutuhkan istirahat. Namun, belas kasih membuat-Nya tidak terkurung dalam kebutuhan-Nya sendiri. Kesedihan tidak membuat-Nya menutup mata terhadap penderitaan orang lain. Kelelahan tidak membuat-Nya kehilangan kepekaan.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering berpikir bahwa melayani berarti memberikan sesuatu ketika kita sedang memiliki banyak waktu, tenaga, perhatian, dan sumber daya. Kita bersedia membantu sejauh bantuan itu tidak terlalu merepotkan. Kita bersedia hadir untuk orang lain sejauh tidak mengganggu jadwal kita. Kita bersedia peduli sejauh tidak membuat kita kehilangan kenyamanan. Namun, Injil hari ini menunjukkan bahwa pelayanan sejati selalu mengandung pengorbanan. Ada waktu yang harus dikorbankan, ada rencana pribadi yang harus diubah, ada kenyamanan yang harus direlakan, ada kesenangan yang harus ditunda. Bahkan, ada ego yang harus dimatikan.
Pengorbanan dalam pelayanan itu pertama-tama juga perlu diwujudkan di dalam keluarga. Justru di tempat yang paling dekat inilah belas kasih sering kali menjadi paling sulit dilakukan. Pada zaman yang semakin individualistis kita dapat hidup serumah, tetapi belum tentu sungguh hidup bersama. Tubuh kita berada di ruang yang sama, tetapi pikiran, perhatian, dan hati kita berada di dunia masing-masing. Masing-masing memiliki kesibukan, pekerjaan, jadwal, hiburan, dan yang paling dominan saat ini ialah masing-masing anggota keluarga sibuk dengan layar pribadinya / gadget.
Akibatnya, kebutuhan anggota keluarga yang lain mudah dipandang sebagai gangguan. Keluhan pasangan terasa mengusik ketenangan. Cerita dan rengekan anak dianggap mengganggu pekerjaan. Anak minta ditemani bermain atau tidur dianggap mengganggu waktu pribadi. Kebutuhan orang tua yang lanjut usia dipandang sebagai beban. Persoalan saudara dianggap bukan urusan kita.
Dalam keadaan seperti itu, sabda Injil hari ini menjadi pengingat bagi kita. Ketika Yesus melihat orang banyak, Ia tidak hanya melihat kerumunan. Ia melihat kebutuhan mereka. Ia membiarkan hati-Nya disentuh oleh keadaan mereka dan Yesus mengabaikan kebutuhan pribadi-Nya karena tergerak oleh belas kasih. Belas kasih membuat kita keluar dari diri sendiri.
Kita mungkin telah memberikan uang, menyediakan makanan, membayar pendidikan, dan memenuhi kebutuhan materi keluarga. Semua itu penting. Namun, belas kasih dalam keluarga menuntut lebih daripada sekadar menyediakan fasilitas. Belas kasih menuntut kehadiran hati yang seringkali harus mengorbankan kenyamanan dan keinginan diri sendiri.
Kehadiran hati berarti bersedia berhenti sejenak untuk mendengarkan. Bersedia meletakkan telepon genggam ketika pasangan atau anak sedang berbicara. Bersedia menemani anak meskipun tubuh sedang lelah. Bersedia memperhatikan orang tua meskipun jadwal sedang padat. Bersedia masuk ke dalam persoalan anggota keluarga karena mereka adalah orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Karena itu, marilah kita bertanya: adakah orang di dalam keluarga kita yang membutuhkan perhatian, tetapi justru kita anggap sebagai gangguan? Adakah pasangan yang ingin didengarkan? Adakah anak yang tidak membutuhkan hadiah baru, tetapi membutuhkan waktu bersama? Adakah orang tua yang membutuhkan sapaan dan kehadiran kita?
Semoga belas kasih Kristus mengubah cara kita memandang orang-orang di sekitar kita bukan sebagai gangguan atau beban, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang dipercayakan Tuhan untuk kita kasihi.
