| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 26:11-16. 24; Matius 14:1-12. “Sekarang, perbaikilah tingkah laku serta perbuatanmu, dan dengarkanlah suara TUHAN, Allahmu” (Yer. 26:13a). |
Kedua bacaan hari ini, mengajak kita untuk merenungkan tokoh nabi dan pesannya. Nabi (Ing: prophet; Yun: prophétēs; Ibr: nāvî) adalah “juru bicara” atau pembawa pesan dari yang ilahi. Nabi Tuhan, bertugas menyampaikan suara Tuhan (Ul. 18:18). Nabi berperan sebagai ‘mulut’ Tuhan, untuk berbicara kepada umat-Nya. Nabi sejati tidak akan mengarang pesan dari dirinya sendiri, lalu berbicara seolah itu adalah pesan Tuhan. Tokoh nabi biasanya muncul di masa krisis, misalnya ketika terjadi pelanggaran ketetapan Tuhan.
Injil Matius mengisahkan Yohanes Pembaptis sebagai nabi, menyampaikan pesan Tuhan kepada Herodes. Ia menegur raja karena mengambil Herodias, istri Filipus, saudaranya. Tindakan itu melanggar Taurat (bdk. Im. 18:16). Herodes tidak berani membunuhnya, karena takut menyulut kemarahan orang banyak yang menghormati Yohanes sebagai nabi Tuhan. Jadi ia membelenggu dan memenjarakannya (Mat. 14:3-5). Waktu berlalu hingga tiba saat perayaan ulang tahun raja. Hati Herodes begitu senang ketika menyaksikan tarian dari anak perempuan Herodias. Tanpa pikir panjang, raja bersumpah di hadapan para tamu bahwa ia akan mengabulkan apa pun yang dimintanya. Herodias memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh Yohanes, yaitu dengan membuat anak itu meminta kepala Yohanes di atas pinggan, sebagai hadiahnya (Mat. 14:6-8).
Kesombongan dan kekerasan hati membuat Herodes menolak teguran nabi dan memperbaiki kesalahan. Meski tahu bahwa Yohanes menyuarakan kebenaran hukum Tuhan, ia memilih untuk menentukan apa yang benar menurut dirinya sendiri. Herodes dapat saja menolak membunuh Yohanes Pembaptis. Namun, Ia lebih khawatir dipandang lemah dan tidak konsekuen terhadap sumpahnya. Di sisi lain, Herodes mengakui bahwa Yohanes Pembaptis bukanlah orang sembarangan. Karena menurutnya, tokoh Yesus yang muncul kemudian adalah Yohanes Pembaptis yang telah dibangkitkan dari antara orang mati. Menurutnya, itulah sebab kuasa-kuasa bekerja di dalam diri Yesus (Mat. 14:1-2).
Di bacaan kedua, Nabi Yeremia menegur semua pemuka dan rakyat, supaya memperbaiki tingkah laku dan mendengarkan suara Tuhan. Jika tidak ada pertobatan, ia menubuatkan kehancuran bait dan kota Yerusalem. Perkataannya itu mengesalkan hati para imam dan nabi lain, yang punya pendapat berbeda. Lalu mereka berusaha supaya Yeremia dihukum mati (Yer. 26:11-13). Yeremia tidak gentar. Menyadari bahwa nyawanya ada di ujung tanduk, ia menantang mereka untuk melakukan apa yang benar menurut mereka sendiri. Namun, ia mengingatkan bahwa dirinya sungguh-sungguh diutus oleh Tuhan. Maka dengan membunuh dirinya, berarti mereka menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, dan mereka harus menanggung akibatnya (Yer. 26: 14-15). Yeremia dilindungi oleh Ahikam bin Safan (Yer. 26:24a). Para pemuka dan rakyat akhirnya memihak Yeremia, lalu menyatakan bahwa dia tidak patut dihukum mati, sebab ia telah berbicara demi nama TUHAN, Allah orang Yahudi (bdk. Yer. 26:16).
Marilah kita merenungkan. Ketika dikritik atau ditegur, apakah kita bersedia untuk merendahkan hati dan interospeksi diri? Ketika diminta untuk menyampaikan pesan Tuhan, apakah kita berani menerima tugas itu? Ketika seseorang diperlakukan tidak adil, mengalami tuduhan palsu, direndahkan martabatnya, sanggupkah kita bersikap objektif dan siap membelanya? Atau seperti murid-murid Yohanes, tetap menghormati pimpinannya? Semoga kita senantiasa siap untuk mendengarkan suara Tuhan. Amin.
