Hukuman, Pertobatan, dan Kasih Allah yang Super Besar ( 4 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 30:1-2.12-15.18-22; Matius 15:1-2.10-14 “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya” (Mat. 15:13)

Bacaan-bacaan hari ini menggunakan kata-kata yang keras untuk menyampaikan penghukuman bagi orang-orang yang tidak setia kepada Allah, yang mengkhianati-Nya dengan “berselingkuh”, menuhankan yang lain, dan lebih menghormati materi daripada Allah. Namun, di balik semua itu, Mazmur 102:16-18.19-21.29.22-23 memperlihatkan sisi Allah yang penuh kasih. Betapa pun besar kesalahan manusia terhadap-Nya, Allah menghukum dengan adil, tetapi penghukuman itu selalu didasarkan pada belas kasih-Nya yang sangat besar bagi mereka yang mau bertobat.
Bacaan pertama membawa kita kepada penderitaan umat Israel pada masa kekacauan menjelang pembuangan ke Babel hingga mereka tercerabut dari tanah airnya dan hidup sebagai orang-orang buangan. Sebenarnya, melalui Nabi Yeremia, Allah sedang memberikan peringatan tentang apa yang akan terjadi apabila umat Israel terus mengabaikan perintah-Nya. Mereka merasa diri benar, bahkan membunuh nabi-nabi utusan Allah yang diutus untuk memperingatkan mereka.
Namun, dalam Yeremia 30, Allah juga menyatakan bahwa sekalipun penderitaan mereka sangat hebat, Dia tetap menyertai dan menjaga mereka. Bahkan, Allah memberikan pengharapan akan masa depan yang indah. Mazmur 102:16-17 menegaskan hal itu: “Maka bangsa-bangsa kelak menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi segan akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, dan menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya.”
Permasalahannya, manusia sering kali lupa dan tidak menyadari ketika dirinya sudah berjalan menjauhi Allah. Terlebih ketika tenggelam dalam realitas kehidupan yang mengagungkan materi. Banyak orang merasa tidak begitu memerlukan Allah karena menganggap aturan-aturan-Nya terlalu membatasi. Lebih menyedihkan lagi, pada era AI ini semakin banyak orang merasa bahwa teknologi sudah menyediakan hampir segala sesuatu. Yang penting ada uang, agama dianggap hanya merepotkan dengan berbagai hal yang dipandang tidak masuk akal dan tidak logis. Apa yang dahulu dilakukan bangsa Israel, pada kenyataannya juga sedang dilakukan oleh banyak manusia zaman sekarang.
Kita pun sering memilih dan memilah dalam menjalankan agama. Kita cenderung mengambil yang enak dan sesuai dengan keinginan kita sendiri. Dalam Matius 15:1-2.10-14, Yesus menggunakan kata-kata yang keras ketika orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mengkritik murid-murid-Nya karena tidak membasuh tangan sebelum makan, sehingga dianggap melanggar adat istiadat.
Jawaban Yesus sangat tegas: “Dengar dan perhatikanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Yesus kemudian melanjutkan: “Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di surga akan dicabut dengan akar-akarnya.”
Kasih Allah memang sangat besar. Banyak dosa, bahkan dosa yang berat, akan diampuni apabila kita sungguh bertobat. Akan tetapi, jika kita merasa diri paling benar, lalu membuat aturan sendiri dan memaksa orang lain mengikuti ajaran kita di atas perintah Allah, seperti yang dilakukan para ahli Taurat (Mat. 15:5-6), berarti kita sedang melawan Allah sendiri.
Mengapa yang keluar dari mulut dapat menajiskan seseorang? Yesus menjelaskan dengan sangat gamblang:
“Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang. Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinaan, percabulan, pencurian, kesaksian palsu dan hujat.”
Karena itu, kita perlu menjaga hati agar senantiasa terarah kepada perintah Allah. Jika hati kita dipenuhi kehendak Allah, mulut kita pun tidak akan mengeluarkan kebusukan yang dapat membawa kita jatuh ke dalam dosa berat.
Mungkin kita orang yang sangat pandai. Mungkin kita sedang berbicara dengan orang yang lemah atau kurang pandai. Namun, waspadalah. Allah selalu hadir. Kasih-Nya memang sangat besar, tetapi Allah juga Mahatahu dan Mahaadil. Karena itu, marilah kita hidup dengan hati yang bertobat, rendah hati di hadapan-Nya, dan setia pada perintah-perintah-Nya.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *