| Renungan hari ini dari bacaan Yeremia 31:1–7; Matius 15:21–28 “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer. 31:3). |
Renungan hari ini mengajak kita merenungkan dua bacaan yang sama-sama menampilkan kasih Allah yang tidak pernah berakhir. Dalam Yeremia 31:1 Tuhan berfirman, “Aku akan menjadi Allah segala kaum keluarga Israel dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Ini adalah janji yang luar biasa, yang menggetarkan hati. Allah telah mengampuni bangsa Israel. Murka-Nya digantikan dengan kasih, pemulihan, dan berkat.
Bila kita memperhatikan nubuat Yeremia ini, kita menemukan begitu banyak janji indah yang Tuhan berikan kepada umat-Nya. Tuhan berjanji menjadikan mereka umat-Nya, menganugerahkan kasih karunia, mengasihi mereka dengan kasih yang kekal, memenuhi mereka dengan sukacita, memberikan hasil panen yang melimpah, serta menyatakan keselamatan bagi mereka. Semua janji itu lahir dari kasih Allah yang tidak berubah.
Sebagai umat percaya, kita juga termasuk di dalam umat yang menerima janji-janji Allah tersebut. Namun kenyataannya, kehidupan orang percaya tidak selalu berjalan mudah. Kita tetap menghadapi berbagai pergumulan: persoalan kesehatan, kesulitan ekonomi, masalah keluarga, hubungan dengan kerabat, teman, maupun rekan kerja. Adakalanya kita bertanya dalam hati, “Apakah janji Tuhan masih berlaku ketika hidup terasa begitu berat?”
Pertanyaan itu muncul pula ketika kami saat ini mendampingi kakak ipar yang menderita kanker. Perubahan hidupnya berlangsung begitu cepat. Dalam waktu singkat tubuhnya menjadi sangat lemah dan setiap hari harus bergumul dengan rasa sakit. Padahal ia adalah seorang “petobat baru” yang sedang mulai bertumbuh dalam kasih kepada Tuhan.
Lalu, apakah janji Tuhan dalam Yeremia 31 sudah tidak berlaku baginya?
Jawabannya justru terdapat pada ayat 3: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal; sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” Kasih Tuhan tidak diukur dari mudah atau sulitnya keadaan hidup kita. Kasih-Nya tetap sama, bahkan ketika kita sedang berada di lembah penderitaan. Ia tetap membangun kembali kehidupan umat-Nya, memulihkan apa yang rusak, dan memberikan pengharapan baru. Janji Tuhan adalah janji yang mutlak dan kekal.
Karena itu, sikap yang Tuhan kehendaki ketika kita menghadapi kesulitan adalah tetap memandang kepada-Nya. Yeremia mengajak, “Marilah kita naik ke Sion, kepada TUHAN, Allah kita” (Yer. 31:6). Ajakan ini mengingatkan kita agar tidak memikul beban hidup seorang diri. Tuhan ingin kita datang kepada-Nya, menyerahkan pergumulan kita, dan menemukan kembali sukacita serta pengharapan di dalam hadirat-Nya.
Inilah yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika persoalan datang, jangan menjauh dari Tuhan, tetapi semakin mendekat kepada-Nya. Tetaplah berdoa, membaca firman-Nya, dan percaya bahwa kasih-Nya tidak pernah meninggalkan kita. Sekalipun keadaan belum berubah, hati yang bersandar kepada Tuhan akan memperoleh kekuatan baru untuk menjalaninya.
Bacaan Injil hari ini semakin meneguhkan kebenaran tersebut. Dalam Matius 15:21–28 dikisahkan seorang perempuan Kanaan yang memohon kesembuhan bagi anaknya. Walaupun sempat mengalami penolakan, ia tidak menyerah. Dengan rendah hati ia berkata, “Benar Tuhan, tetapi anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Ia terus memohon kepada Yesus tanpa rasa malu dan tanpa kehilangan iman.
Ketekunan perempuan itu akhirnya mendapat jawaban dari Tuhan Yesus, “Hai Ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Apa yang menjadi bagian manusia adalah datang kepada Tuhan, memohon, percaya, dan tidak berhenti berharap. Sedangkan bagian Tuhan adalah memberikan yang terbaik menurut kehendak-Nya pada waktu-Nya yang paling sempurna.
Kiranya hari ini kita semakin yakin bahwa kasih Tuhan adalah kasih yang kekal. Kasih itu tidak pernah berakhir sekalipun kita sedang melewati masa-masa yang paling sulit. Datanglah kepada Tuhan dengan iman yang teguh, tetap berharap kepada-Nya, dan percayalah bahwa Ia tidak pernah meninggalkan umat yang dikasihi-Nya.
