Menabur Kasih, Memanen Kemuliaan ( 10 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 2 Kor 9:6-10 | Yoh 12:24-26. “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2Kor 9:6).

Ada seorang petani di desa Nglungge, Delanggu, desa tempat ayah saya berasal. Setiap kali musim tanam tiba, ia justru menyisihkan sebagian benih terbaik yang dimilikinya untuk dibagikan kepada tetangga yang kekurangan, agar mereka juga dapat menanam di sawah sewaan mereka. Banyak tetangga menganggap tindakannya itu bodoh. Bagaimana mungkin panennya bisa berlimpah kalau benih yang dimilikinya justru dikurangi karena disumbangkan?

Akan tetapi, setelah bertahun-tahun, sawah petani itu justru tetap menjadi salah satu yang paling subur di desa tersebut. Ia tidak menabur hanya untuk dirinya sendiri. Ia meninggalkan egonya dan memilih menabur dengan kasih, supaya orang lain juga dapat memperoleh rezeki. Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri, tanpa petani itu mengetahui bagaimana semuanya akan terjadi.

Kita sering melupakan hal seperti ini. Hidup di zaman yang serba sulit mengajarkan kita untuk berpikir secara duniawi: menghitung untung dan rugi, mengejar kemewahan, saling berlomba, bahkan memamerkan kekayaan. Kita mau menolong kalau ada gunanya bagi kita di kemudian hari. Kita mau memberi kalau ada balasannya. Bahkan kadang kita lebih mudah memberi kepada orang yang kondisi ekonominya sama dengan kita atau yang kita anggap mampu membalas pemberian kita. Padahal, iman kita justru mengajarkan logika yang terbalik dari semua itu.

Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, menulis dengan tegas: “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2Kor 9:6). Namun, Paulus tidak sedang berbicara tentang untung-rugi secara ekonomi. Ia berbicara tentang kerelaan hati. Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita, bukan orang yang memberi karena terpaksa atau dengan dukacita. Allah sendiri yang akan mencukupkan segala sesuatu yang kita perlukan, bahkan membuat kita berkelimpahan dalam segala kebajikan.

Yesus menyampaikan hal yang sama melalui gambaran tentang biji gandum dalam Injil Yohanes. “Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24). Yesus adalah biji gandum itu. Ia rela jatuh ke dalam tanah dan mati agar kita memperoleh keselamatan dan kehidupan kekal. Ia memberikan diri-Nya karena kasih, tanpa syarat dan tanpa mengharapkan balasan. Pemberian diri-Nya tidak terbatas.

Karena itu, menabur kasih berarti berani mengikuti cara hidup Yesus. Bagaimana cara menabur kasih yang benar?

Pertama, memberi seperti kasih Tuhan. Kita membantu tetangga yang keluarganya sedang sakit karena memang ia membutuhkan bantuan, bukan karena kita berharap suatu hari ia akan membalasnya. Kita memberi bukan karena orang itu pantas menerima, tetapi karena kasih mendorong kita untuk berbagi.

Kedua, rela memberikan waktu bagi orang lain. Di tengah kesibukan kita, kita dapat menyisihkan satu jam dalam seminggu untuk mendengarkan keluh kesah teman atau anggota keluarga yang sedang mengalami beban berat. Mungkin bagi kita hanya satu jam, tetapi bagi seseorang yang sedang merasa sendirian, waktu itu bisa menjadi tanda bahwa ia tidak sendirian.

Ketiga, memaafkan lebih dahulu sebelum diminta. Jika ada relasi yang retak, kita berani mengambil langkah pertama untuk berdamai. Kita menanggalkan ego dan gengsi kita. Inilah bentuk lain dari biji gandum yang rela “mati” supaya menghasilkan buah. Ego kita mungkin terluka, tetapi dari keberanian untuk mengalah dan mengampuni, sebuah relasi yang selama ini mati dapat hidup kembali.

Katekismus Gereja Katolik No. 1825 mengingatkan bahwa Yesus mengasihi murid-murid-Nya sampai kepada kesudahannya. Dari kasih itulah Ia memberikan kepada mereka perintah baru: “Sama seperti Aku telah mengasihi kamu, kamu pun harus saling mengasihi.” Para murid dipanggil untuk meneladan kasih Yesus yang telah mereka terima lebih dahulu. Karena itu, kasih yang kita taburkan sebenarnya bukan berasal dari kekuatan kita sendiri. Kasih itu adalah pancaran dari kasih Kristus yang lebih dahulu kita terima.

Sekarang, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Benih kasih seperti apa yang selama ini kita simpan sendiri karena takut kehilangan? Siapa di sekitar kita yang sedang menunggu kita “mati” terhadap ego kita, supaya sebuah relasi dapat hidup kembali?

Tuhan tidak memanggil kita untuk menyimpan kasih dengan aman. Ia memanggil kita untuk menaburkannya dengan berani, sekalipun itu berarti kita harus rela terluka dan merasa berkurang lebih dahulu. Sebab benih yang disimpan tidak akan pernah menghasilkan buah. Benih harus ditaburkan, bahkan harus jatuh dan mati, agar kehidupan baru dapat tumbuh. Demikian juga kasih. Kasih yang hanya disimpan untuk diri sendiri tidak akan menghasilkan buah. Tetapi kasih yang berani diberikan, meskipun tanpa kepastian akan mendapat balasan, akan menjadi benih kehidupan bagi orang lain.

Menaburlah dengan kasih. Jangan takut berkurang. Sebab, Tuhan sendiri yang akan menumbuhkan dan melipatgandakan buahnya. Pada akhirnya, kita akan memanen kemuliaan yang sesungguhnya. Bukan kemuliaan yang kita ciptakan sendiri melalui kekayaan, keberhasilan, atau pengakuan manusia, melainkan kemuliaan yang Allah sendiri siapkan bagi mereka yang setia menabur kasih.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *