| Renungan hari ini dari bacaan 1Raja-raja 19:9a,11-13a; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Rm. 9:1-5; Mat. 14:22-33. “Tetapi, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak, ‘Tuhan, tolonglah aku!’ Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, ‘Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang” (Mat. 14:30-31). |
Hidup manusia tidak pernah lepas dari badai kecemasan. Musibah, kegagalan, dan ancaman sering kali datang tanpa diundang, mengombang-ambingkan hati kita seperti perahu di tengah laut yang mengamuk. Ketika badai ini menyerang, respons paling manusiawi yang sering muncul adalah ketakutan dan teriakan minta tolong. Rasa cemas ini bukan hanya milik kita manusia modern, tetapi juga dialami oleh para pahlawan iman di masa lalu.
Nabi Elia adalah seorang nabi yang besar, tetapi ketika nyawanya diancam oleh ratu Izebel, ia lari ketakutan ke dalam gua di Gunung Horeb. Elia mengalami kecemasan hebat karena merasa berjuang sendirian dan merasa telah gagal dalam tugasnya.
Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru, kita melihat para murid Yesus berada di dalam perahu yang diombang-ambingkan gelombang di tengah malam. Ketika melihat sosok Yesus berjalan di atas air, mereka tidak mengenali-Nya. Alih-alih merasa tenang, mereka justru berteriak-teriak ketakutan dan berseru, “Itu hantu!”
Ketakutan sering kali mengaburkan pandangan kita, membuat kita tidak mampu melihat kehadiran Tuhan di tengah kesusahan. Namun, Yesus segera menenangkan mereka dengan berkata, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Mendengar suara Yesus, Petrus menunjukkan keberanian yang luar biasa. Ia meminta izin untuk berjalan di atas air mendatangi Yesus. Yesus mengizinkannya, dan Petrus pun melangkah. Namun, Alkitab mencatat bahwa ketika Petrus merasakan tiupan angin, fokusnya teralih dari Yesus kepada besarnya angin itu. Seketika itu juga, rasa takut merayap masuk, imannya gugur, dan ia mulai tenggelam sambil berteriak, “Tuhan, selamatkanlah aku!”
Kisah Petrus dan Elia mengajarkan hal yang sama: tiupan “angin” masalah dalam hidup, baik berupa ancaman fisik maupun tekanan mental, bisa dengan sangat cepat menggugurkan iman kita yang semula terlihat kokoh.
Merespons Didikan Yesus dalam pelayanan sebagai pelayan Tuhan yang mengemban visi keselamatan dunia, sejauh mana kita telah mengizinkan kekhawatiran menghambat langkah pelayanan kita ini? Bagaimana kita mau mulai melatih ketangguhan iman agar tidak menjadi pelayan yang rapuh?
Melalui peristiwa-peristiwa ini, apa sebenarnya tujuan didikan Yesus bagi kita? Bacaan ini mengajak umat untuk merenungkan sejauh mana dan sedalam mana Yesus ingin mendidik kita dari segala kekhawatiran yang berujung pada ketakutan.
Yesus sangat tahu bahwa kita tidak akan selalu hidup dalam keadaan yang baik-baik saja. Dunia ini penuh dengan tantangan dari sesama, ancaman alam, hingga kelemahan iman kita sendiri. Namun, Tuhan tidak ingin kita menjadi murid yang rapuh. Tuhan Yesus mau kita tumbuh menjadi pribadi yang makin tangguh. Ketangguhan ini sangat krusial, terlebih bagi kita sebagai pelayan Tuhan. Kita diutus untuk membagikan Injil dan menyebarkan misi serta visi keselamatan dari Tuhan Yesus bagi dunia. Tugas mulia ini tidak bisa dijalankan oleh jiwa yang mudah goyah oleh angin sakal.
Mari kita belajar dari Elia yang akhirnya dituntun oleh suara angin sepoi-sepoi yang lembut, dan dari Petrus yang tangannya segera dipegang oleh Yesus saat tenggelam. Ketika badai kecemasan datang, mari alihkan pandangan kita dari besarnya masalah kepada besarnya kuasa Yesus. Izinkan proses didikan-Nya membentuk kita menjadi pelayan-pelayan yang tangguh dan setia hingga akhir. Amin.
