Bagaimana Jika Gunung Itu Tak Berpindah ( 8 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Habakuk 1:12-2:4, Matius 17:14-20
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana” (Mat.17:20b)

Seorang ayah datang dengan hati yang hancur kepada Yesus. Anaknya dikuasai roh jahat yang membuatnya menderita. Sebelum bertemu Yesus, ia telah membawa anaknya itu kepada murid-murid Yesus. Mereka sudah berusaha mengusir setan itu, tetapi gagal. Padahal sebelumnya murid-murid telah menerima kuasa dari Yesus untuk melakukan berbagai mukjizat (Mat. 10:1). Namun, mengapa mereka tidak bisa mengusir setan itu? Ketika murid-murid bertanya mengapa mereka gagal, Yesus menjawab, “Karena kamu kurang percaya.” Lalu Yesus menambahkan bahwa jika mereka mempunyai iman sebesar biji sesawi, maka tidak ada yang mustahil bagi mereka.

Sering kali kita membaca bagian ini hanya dari sudut pandang mukjizat. Kita berharap jika memiliki iman yang cukup besar, maka semua “gunung” dalam hidup akan berpindah. Kita ingin menyingkirkan gunung masalah rumah tangga, gunung kesulitan ekonomi, gunung masa depan yang suram, gunung penyakit, dan banyak gunung lainnya. Kita ingin jalan hidup kita rata dan mulus tanpa hambatan, tanjakan atau jurang. Namun, sebenarnya inti pengajaran Yesus bukanlah tentang bagaimana membuat gunung berpindah, melainkan tentang seperti apa iman yang sejati.

Yesus berkata bahwa murid-murid “kurang percaya” (apistia) (Mat. 17:20), bukan “tidak percaya” (apistos) seperti yang dikatakan-Nya kepada orang banyak (Mat. 17:17). Ada perbedaan besar di antara keduanya. Mereka jelas percaya kepada Yesus. Mereka meninggalkan pekerjaan untuk mengikuti-Nya. Mereka hidup bersama-Nya setiap hari. Jadi masalah mereka bukan tidak mengenal Yesus, melainkan kualitas kepercayaan mereka belum mencapai kedewasaan yang Allah kehendaki.

Karena itu, percaya bukan sekadar mengetahui di dalam pikiran bahwa Yesus adalah Tuhan, lalu berharap Ia melakukan semua yang kita inginkan. Iman yang sejati selalu melibatkan kehidupan.

Pertama, baik kata apistia, maupun apistos sama-sama mengandung arti ketidaktaatan. Artinya dalam kata percaya harus ada unsur ketaatan penuh kepada kehendak subjek yang dipercaya.
Banyak orang mengakui Yesus sebagai Tuhan, Juruselamat, tetapi belum sungguh-sungguh tunduk kepada-Nya sebagai Raja. Seorang prajurit mungkin mengenal panglimanya dengan baik. Ia tahu nama, pangkat, bahkan keberanian pemimpinnya. Namun, pengenalannya tidak berarti apa-apa jika ia menolak menaati perintah di medan perang. Yang membuktikan kepercayaannya terhadap otoritas panglimanya bukanlah pengetahuannya, melainkan ketaatannya.

Demikian pula iman kepada Kristus. Ketaatan adalah bahasa dari iman. Kita berkata bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi apakah keputusan-keputusan kita menunjukkan bahwa Dialah yang memerintah hidup kita? Atau sebaliknya, kita sedang memanfaatkan nama-Nya, menyalahgunakan otoritas-Nya dan kita bertindak sebagai tuan atas hidup kita sendiri.

Kedua, percaya berarti “keberserahan.” Berserah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan melepaskan hak untuk mengendalikan hasil akhir. Kita tetap bekerja, berdoa, dan melayani dengan segenap hati, tetapi kita mempercayakan hasilnya kepada Allah. Orang yang berserah tidak memaksa Allah mengikuti kehendaknya, melainkan rela mengikuti kehendak Allah, sekalipun jalan yang ditempuh berbeda dari harapannya. Sebab, dia mempercayai karakter Allah yang setia, penuh kasih dan bijaksana.

Ketiga, percaya berarti “hidup dalam kesucian.” Pelayanan bukan hanya soal kemampuan, karunia, atau pengalaman. Pelayanan adalah perpanjangan dari kehidupan rohani seseorang. Kita tidak mungkin membagikan apa yang tidak kita miliki. Spirit apa yang akan kita impartasikan kepada orang lain jika hidup kita sendiri jauh dari kekudusan? Kuasa Allah tidak pernah dipisahkan dari karakter Allah. Karena itu, kita tidak dapat melayani Allah dengan efektif sambil memelihara dosa yang tidak mau kita tinggalkan.

Tidak heran jika dalam Injil Markus, pada peristiwa yang sama, Yesus berkata bahwa jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa. Doa bukanlah rumus untuk memperoleh kuasa, melainkan ungkapan bahwa seseorang hidup dalam ketergantungan kepada Allah. Ketergantungan, penurutan, dan kesucian adalah napas dari iman yang sejati.

Itulah sebabnya Yesus memakai gambaran biji sesawi. Penekanannya bukan terutama pada ukurannya yang kecil, tetapi pada kenyataan bahwa benih itu hidup. Sebuah biji yang hidup, akan bertumbuh jika tetap bergantung pada tanah yang subur, air, dan sinar matahari. Demikian pula iman. Iman bertumbuh ketika kita terus tinggal di dalam Kristus, dipelihara oleh firman-Nya, disegarkan melalui doa, dan bersedia taat dalam pembentuk oleh Roh Kudus. Iman yang hidup tidak bergantung pada kekuatan dirinya sendiri; ia terus bergantung kepada Sang Pemberi Hidup.

Namun renungan ini tidak berhenti pada janji bahwa “kita dapat memindahkan gunung, jika memiliki iman sebiji sesawi.”
Bagaimana jika kita sudah taat, sudah berserah, sudah berjuang hidup suci, tetapi gunung itu tetap tidak berpindah? Bagaimana jika penyakit tetap ada, doa belum dijawab, pasangan belum berubah, pelayanan tetap berat, ekonomi masih berantakan, atau pergumulan masih panjang?

Tetaplah percaya. Sebab tujuan terbesar iman bukanlah memindahkan gunung, melainkan membawa kita semakin serupa dengan Kristus. Ada kalanya Allah mengubah keadaan kita, tetapi ada kalanya Ia memakai keadaan itu untuk mengubah kita. Gunung yang tidak berpindah bukan berarti Allah tidak bekerja. Mungkin justru di sanalah Ia sedang membentuk ketekunan, kerendahan hati, pengharapan, dan keserupaan dengan Kristus yang tidak mungkin lahir melalui jalan yang mudah.

Suatu hari nanti kita akan mengerti bahwa mukjizat terbesar bukanlah ketika gunung itu bergeser, melainkan ketika gunung itu tetap ada dan kita tetap tinggal tenang percaya. Mukjizat yang sejati adalah ketika kuasa Allah berkerja mengubah karakter kita yang keras menjadi lembut, karakter yang sombong menjadi rendah hati, hati yang licik menjadi tulus, dan semakin disempurnakan seperti Bapa.

Maka, walaupun gunung itu tak berpindah, jangan biarkan hatimu berpindah dari Tuhan. Tetaplah taat, tetaplah berserah, tetaplah hidup dalam kehendak Allah. Sebab, jika pada akhirnya Allah tidak mengubah gunung itu, Ia sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih mulia: mengubah kita menjadi semakin serupa dengan Kristus.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *