Mengikuti Yesus di Jalan Keadilan ( 7 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Nahum 1:15; 2:2; 3:1-3. 6-7; Matius 16:24-28

Perikop pertama hari ini dari Kitab Nahum memiliki bentuk yang cukup unik. Nabi Nahum, yang hidup sezaman dengan Nabi Yeremia, mewartakan firman Tuhan ketika Israel sedang mengalami penderitaan akibat kelaliman kerajaan Asyur. Di awal nubuatnya terdengar kabar gembira tentang pembebasan, sekaligus ajakan untuk memenuhi nazar kepada Tuhan.

Bagi kita yang hidup pada zaman ini, apakah kabar gembira Nabi Nahum masih relevan? Lalu, apa makna memenuhi nazar dalam kehidupan sekarang? Apakah cukup dengan memenuhi kewajiban sebagai warga negara, misalnya membayar pajak? Ataukah justru lebih mendasar lagi: berhenti melakukan korupsi, berlaku jujur, dan hidup sesuai kehendak Tuhan?

Ketika membaca berulang-ulang perikop dari Nabi Nahum, saya teringat pada berbagai peperangan yang masih terjadi, seperti di Ukraina dan Palestina. Gambaran kehancuran yang dilukiskan Nabi Nahum terasa begitu mengerikan. Nubuat penghukuman terhadap para perusak juga sangat keras. Apakah para pelaku kejahatan dan perusakan di berbagai belahan dunia akan mengalami apa yang dinubuatkan Nahum? Atau, jika melihat keadaan di Indonesia, apakah mereka yang merusak alam melalui penambangan dan pembukaan perkebunan yang tidak bertanggung jawab, ataupun para koruptor, pada akhirnya akan menghadapi keadilan Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan itu mengingatkan kita untuk tetap berharap bahwa keadilan Allah pada akhirnya akan ditegakkan.

Perikop Injil (Mat. 16:24-28) membawa kita pada pengajaran Yesus kepada para murid-Nya. Yesus menunjukkan apa artinya menjadi murid sejati: menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Dia. Inilah prioritas utama hidup seorang pengikut Kristus.

Sabda Yesus ini mengingatkan saya pada beberapa kisah nyata beberapa tahun terakhir. Ada seorang perempuan yang cantik, cerdas, berprestasi, dan berasal dari keluarga berada, tetapi memilih masuk biara. Ada pula kisah seorang imam yang sebelumnya telah lama bekerja sebagai insinyur bangunan, lalu meninggalkan kariernya untuk mengikuti panggilan Tuhan. Mereka berani melepaskan kemasyhuran, kekayaan, dan popularitas demi mengikuti Kristus.

Zaman ini semakin menantang kita untuk menunjukkan diri sebagai pengikut Yesus. Jalan yang ditawarkan bukanlah jalan mencari kenyamanan atau pujian, melainkan jalan kasih yang menghadirkan keadilan dan mewartakan kebenaran melalui kesaksian hidup setiap hari.

Hari-hari ini saya sendiri mengalami kemurahan hati Tuhan melalui tangan teman-teman. Saya merasakan sukacita karena mengalami secara nyata bahwa Tuhan tetap menyapa dan sungguh hadir di tengah kesulitan hidup. Pengalaman ini kembali meneguhkan bahwa mengikuti Kristus tidak berarti berjalan sendirian; Tuhan selalu menghadirkan pertolongan melalui sesama.

Karena itu saya bertanya kepada diri sendiri: apa yang sungguh perlu saya sangkal agar dapat mengikuti Yesus dengan lebih setia? Saya mencoba memperhatikan kembali seluruh kegiatan saya selama dua puluh empat jam setiap hari. Dalam pemeriksaan batin, saya bertanya kembali: apakah saya sungguh telah menyangkal diri, atau masih lebih banyak mengikuti kehendak saya sendiri?

Allah, berilah rahmat-Mu agar saya mampu menyangkal diri dan setia mengikuti jalan Putra-Mu. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *