| Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 9:1–7; 10:18–22; Matius 18:15-20. “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali… Sebab, di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat. 18:15. 20) |
Di sebuah kantor, seorang karyawan senior salah menginput data krusial menjelang audit besar. Rekan kerja di sebelahnya melihat kesalahan tersebut. Alih-alih menegur secara diam-diam demi menyelamatkan nasib temannya, ia justru memotret layar itu dan menyebarkannya ke grup WhatsApp. Karyawan senior merasa dipermalukan bukan hanya karena kesalahannya, melainkan karena dirinya dijadikan bahan gunjingan. Kisah ini menggambarkan respons kita ketika melihat kesalahan sesama: apakah kita menegur untuk memulihkan, atau menyebarkannya untuk mempermalukan?
Dalam Injil hari ini, Yesus menghendaki manusia memiliki keberanian untuk mengoreksi kesalahan sesama demi menyelamatkan mereka, sekaligus menjaga martabatnya dengan menyelesaikan persoalan secara pribadi, bukan menjadikannya bahan gunjingan. Teguran yang benar bukan lahir dari keinginan untuk menghakimi, tetapi dari kasih yang ingin “mendapatkannya kembali”.
Sesungguhnya, budaya gosip dan sikap masa bodoh yang marak saat ini berakar pada ego, rasa insecure untuk merasa lebih benar, serta ketakutan sosial akan konflik. Diperparah oleh era digital, individualisme ekstrem, dan kebisingan informasi (information overload), manusia modern dapat mengalami mati rasa emosional. Kita menganggap menegur dosa sebagai pelanggaran privasi, sementara menyebarkan aib di media sosial justru dianggap hiburan dan menjadi candu untuk mencari perhatian kelompok.
Dampaknya sangat fatal karena gosip dapat memicu pembunuhan karakter (character assassination). Ketika kita bergosip, kita bertindak seperti pembunuh senyap yang tidak meneteskan darah, tetapi membunuh eksistensi sosial, nama baik, kredibilitas, dan kesejahteraan psikologis sesama. Pembunuhan karakter bertentangan dengan ajaran Yesus karena merusak martabat manusia sebagai citra Allah, menghakimi sesama, dan bertolak belakang dengan misi Yesus yang datang untuk memulihkan dan menyelamatkan.
Bacaan Yehezkiel memperlihatkan konsekuensi maut dari sikap masa bodoh. Ketika penghakiman Allah atas Yerusalem yang penuh kefasikan dijatuhkan, mereka yang apatis, membiarkan dosa merajalela, dan tidak peduli terhadap keruntuhan moral bangsanya ikut mengalami kebinasaan. Sebaliknya, mereka yang “berkeluh kesah dan menangisi” kejahatan itu diberi tanda Taw di dahi mereka untuk diselamatkan. Tanda ini, yang dalam tradisi Kristen dibaca sebagai gambaran awal tanda salib, menjadi meterai perlindungan dari kebinasaan. Pesannya jelas: sikap masa bodoh terhadap dosa bukanlah sikap netral; pembiaran dapat menjadi dosa yang mematikan.
Karena itu, ada beberapa langkah konkret yang dapat kita lakukan. Pertama, koreksi empat mata. Dekatilah sesama yang bersalah secara pribadi dengan kasih dan kerendahan hati, bukan untuk menghakimi. Kedua, doa bersama. Bawalah persoalan dalam doa, sebab Yesus berjanji hadir ketika dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Nya. Ketiga, peka terhadap dosa. Milikilah hati yang terluka oleh dosa dan mampu berduka atas kelemahan sesama, bukan menjadikannya tontonan.
Dalam komunitas pelayanan paroki, saya sendiri sering takut menegur rekan yang bersalah karena khawatir dibenci. Akibatnya, saya memilih membicarakannya dengan orang lain atau pura-pura tidak tahu. Padahal, Yesus meminta keberanian yang dilandasi kasih. Ketika saya mencoba merendahkan hati dan mengingatkan rekan secara pribadi, saya justru merasakan kedamaian dan menyadari bahwa Tuhan hadir di tengah relasi kami.
Koreksi persaudaraan adalah jembatan pemulihan. Kasih menuntut keberanian untuk menegur, mengampuni, dan memulihkan. Seperti dikatakan Santo Agustinus, “Tegurlah sahabatmu secara rahasia, dan pujilah dia di muka umum.”
Marilah kita memeriksa kembali hubungan kita dengan rekan kerja, sahabat, dan sesama umat di lingkungan paroki. Jika ada keretakan karena salah paham, gosip, atau kesalahan yang belum terselesaikan, datanglah dengan rendah hati. Bicarakanlah secara jujur di bawah empat mata, dan biarkan kasih Kristus memulihkan kita. Sebab, koreksi yang lahir dari kasih bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menyelamatkan.
Tuhan memberkati!
