Hati yang Kenyang Firman dan Mau Mencari yang Hilang ( 11 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 2:8; 3:4; Matius 18:1–5. 10. 12–14

Yehezkiel dipanggil Tuhan menjadi nabi di tengah bangsa Israel yang tegar tengkuk, di pembuangan Babel. Tugasnya berat: menyampaikan teguran Tuhan kepada bangsa yang tidak mau mendengar. Karena itu, Tuhan berkata kepadanya: “Tetapi engkau, anak manusia, dengarkanlah apa yang Kufirmankan kepadamu; janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu” (Yeh. 2:8). Kemudian Tuhan berkata, “Hai anak manusia, pergilah, sambutlah kaum Israel dengan perkataan-perkataan-Ku” (Yeh. 3:4).

Menarik bahwa sebelum disuruh berbicara, Yehezkiel terlebih dahulu disuruh makan. Yang dimakan adalah gulungan kitab yang berisi ratapan, keluh kesah, dan peringatan (Yeh. 2:10). Ini mengajarkan bahwa seorang pelayan Tuhan harus menghidupi firman terlebih dahulu sebelum menyampaikan firman. Kita tidak bisa memberi apa yang tidak kita makan. Kalau hati kita kosong, khotbah dan nasihat kita juga bisa kosong.

Tuhan juga berkata, “Janganlah memberontak seperti kaum pemberontak ini” (Yeh. 2:8). Tuhan tahu Yehezkiel bisa tawar hati. Membawa pesan kepada orang yang keras kepala dan menolak kebenaran tentu melelahkan. Tetapi, Tuhan meminta Yehezkiel jangan ikut menjadi keras hati. Kadang lingkungan kita juga penuh dengan sikap negatif, sinis, dan penolakan terhadap kebenaran. Namun, Tuhan memanggil kita untuk tetap lembut, tetap taat, dan jangan ikut menjadi pahit.

Sesudah firman itu masuk ke dalam dirinya, Yehezkiel diperintahkan, “Pergilah, sambutlah kaum Israel dengan perkataan-perkataan-Ku” (Yeh. 3:4). Tugas nabi bukan menciptakan pesannya sendiri, melainkan menyampaikan perkataan Tuhan apa adanya. Kita dipanggil menjadi corong, bukan sumber. Tugas kita adalah setia menyampaikan; apakah orang mau mendengar atau tidak, hasilnya kita serahkan kepada Tuhan.

Firman Tuhan memang kadang keras dan pahit bagi “daging” kita. Firman menegur dosa, memanggil pertobatan, dan membongkar zona nyaman. Tetapi, Yehezkiel mengatakan bahwa gulungan kitab itu terasa “manis seperti madu” di mulutnya (Yeh. 3:3). Mengapa? Karena firman Tuhan, sekalipun keras, membawa kehidupan. Ketika firman sungguh-sungguh kita terima, ketaatan tidak lagi terasa sebagai kewajiban, melainkan menjadi respons kasih.

Hal ini menjadi semakin jelas dalam Injil Matius 18. Para murid Yesus bertanya siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Yesus justru meminta mereka bertobat dan menjadi seperti anak kecil (Mat. 18:3–4). Sebelum melayani orang lain, hati kita sendiri harus dibentuk terlebih dahulu. Yehezkiel harus mengisi perutnya dengan firman; para murid harus mengisi hatinya dengan kerendahan hati. Pelayanan yang lahir dari hati yang belum dibentuk firman mudah berubah menjadi kesombongan, mencari nama, dan gampang kecewa.

Yesus juga mengingatkan agar jangan meremehkan seorang pun dari “yang kecil” (Mat. 18:10). Di mata Tuhan, orang yang dianggap tidak penting justru sangat berharga. Karena itu, pelayan Tuhan tidak boleh mempunyai mental merendahkan.

Selanjutnya Yesus berbicara tentang gembala yang meninggalkan sembilan puluh sembilan domba untuk mencari satu yang tersesat (Mat. 18:12–14). Yehezkiel disuruh pergi kepada bangsa yang menolak Tuhan; Yesus menunjukkan bahwa Bapa di surga tidak menghendaki seorang pun hilang. Misi kita bukan sekadar menunggu orang datang, tetapi kita yang pergi, bahkan kepada mereka yang jauh dan sulit dijangkau.

Tuhan mau membentuk kita menjadi pelayan seperti itu: kenyang dengan firman, rendah hati seperti anak kecil, tidak meremehkan yang lemah, dan mau pergi mencari yang hilang. Kerajaan Allah dibangun oleh orang-orang yang hatinya kenyang firman, rendah seperti anak kecil, dan kakinya mau pergi mencari yang hilang.

Kedua bacaan ini kompak mengajarkan satu hal: Tuhan tidak mencari orang hebat, tetapi orang yang taat makan firman dan mau melayani dengan tulus. Firman harus lebih dahulu masuk ke hati kita, menjadi bagian dari hidup kita, baru kemudian kita pergi membagikannya kepada sesama.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *