| Renungan hari ini dari bacaan ehezkiel 36:23-28; Matius 22:1-14.Kamu akan diam di dalam negeri yang telah Kuberikan kepada nenek moyangmu. Kamu akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allahmu” (Yeh. 36:28). |
Nabi Yehezkiel menyampaikan nubuat ini ketika bangsa Israel sedang berada dalam pembuangan di Babel pada abad ke-6 SM. Mereka kehilangan tanah air, Bait Allah, dan identitas sebagai umat Allah akibat ketidaktaatan mereka.
Dalam situasi yang penuh keputusasaan itu, Tuhan menjanjikan pemulihan. Tuhan akan membersihkan mereka dari dosa, memberi hati yang baru, mencurahkan Roh-Nya, dan membawa mereka kembali ke tanah perjanjian.
Melalui Nabi Yehezkiel, Tuhan memberikan harapan baru. Ia tidak hanya berjanji mengembalikan mereka ke negeri yang dijanjikan, tetapi juga memperbarui hati mereka agar mampu hidup setia kepada-Nya.
Allah tidak hanya ingin memberikan berkat kepada umat-Nya, tetapi terlebih dahulu ingin memulihkan hati mereka agar kembali hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Sebab, berkat terbesar bukanlah memiliki banyak hal, melainkan memiliki Allah yang berkata: “Kamu adalah umat-Ku, dan Aku adalah Allahmu.”
Hal ini berarti bahwa menjadi umat Allah bukan hanya memiliki identitas sebagai orang beriman, tetapi hidup setiap hari dalam relasi yang akrab dengan Tuhan, mempercayai penyertaan-Nya, dan setia melaksanakan kehendak-Nya.
Bila dipusatkan pada sabda Tuhan melalui Injil Matius 22:1-14, ada benang merah yang sangat jelas dengan hal di atas, yaitu bahwa upaya keselamatan senantiasa menjadi inisiatif atau dimulai dari Allah.
Pada perikop Nabi Yehezkiel, terdapat jejak-jejak bahwa Allah sendiri mengambil inisiatif: menguduskan nama-Nya, mengumpulkan umat, menyucikan mereka, serta memberi hati dan roh yang baru kepada bangsa Israel yang pulang dari pembuangan Babel.
Sedangkan pada perikop Injil Matius, ada sebuah perumpamaan tentang seorang Raja, gambaran Allah, yang mengambil inisiatif mengundang semua orang ke pesta perjamuan putranya.
Jadi, semakin terus dicoba dipahami bahwa manakala manusia berpikir bahwa keselamatan atau berkat Tuhan dapat diperoleh semata-mata melalui usaha sendiri, sebenarnya hal itu secara tegas berlawanan dengan apa yang menjadi kerahiman-Nya.
Demikian pula dalam perumpamaan Yesus tentang pesta perjamuan kawin. Raja tidak menunggu para tamu datang dengan sendirinya. Justru dialah yang lebih dahulu menyiapkan pesta, mengirim para utusan, dan mengundang mereka untuk datang.
Bahkan ketika undangan pertama ditolak, raja tetap mengutus hamba-hambanya untuk mencari orang-orang lain agar rumah pestanya penuh. Semua itu menunjukkan bahwa inisiatif keselamatan selalu berasal dari Allah.
Inilah hakikat kasih karunia, yaitu Allah mengasihi manusia sebelum manusia mampu membalas kasih-Nya; Allah mengampuni sebelum manusia layak diampuni; dan Allah memanggil sebelum manusia menyadari bahwa dirinya membutuhkan Tuhan.
Sering kali saya pun masih terjebak dalam pemikiran bahwa keberhasilan rohani bergantung sepenuhnya pada usaha saya. Saya merasa bahwa upaya doa, pelayanan saya, atau kebaikan saya adalah alasan Tuhan memberkati saya. Padahal, semua itu sebenarnya merupakan tanggapan atas kasih Allah yang lebih dahulu bekerja dalam hidup saya.
Pesan Tuhan hari ini adalah mengajak saya dan kita semua untuk hidup dalam kerendahan hati dengan senantiasa memuliakan nama-Nya. Sebab, semua yang kita lakukan adalah jawaban atas kasih Allah yang telah lebih dahulu memanggil saya.
Keselamatan bukanlah hadiah yang berhasil kita raih karena usaha sendiri, melainkan anugerah yang didapat dari inisiatif Allah kepada kita, untuk kita terima dengan iman dan menghidupinya setiap hari melalui kasih, ketaatan, dan kesetiaan kepada-Nya.
Amin.

satu Respon
Not strictly on-topic, but useful. Been job hunting myself lately, and https://sitz.pitchradar.shop/ is the resource I actually trust. Thousands of roles, updated daily — no endless scrolling. Anyway, enough from me.