| Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 34:1-11; Matius 20:1-16 “Iri hatikah engkau, karena Aku murah hati?” (Mat 20:15b) |
Perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur dalam bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16) sering disalahpahami sebagai ketidakadilan. Ada pekerja yang dipanggil sejak pagi dan bekerja sepanjang hari di bawah terik matahari. Ada yang mulai bekerja pukul sembilan, tengah hari, pukul tiga sore, bahkan ada yang baru bekerja pukul lima, ketika hari hampir berakhir. Namun, ketika tiba waktunya menerima upah, semuanya mendapat upah yang sama yaitu satu dinar. Kalau kita berada di posisi para pekerja yang datang sejak pagi, mungkin kita pun akan bertanya, “Mengapa sama? Bukankah kami sudah bekerja lebih lama dan berhak mendapat upah lebih banyak?”
Namun, justru melalui kegelisahan itulah Yesus mengajak kita melihat sesuatu yang lebih dalam. Perumpamaan ini bukan pertama-tama berbicara tentang sistem pengupahan yang adil, melainkan tentang kemurahan hati Allah dan cara manusia menanggapi kemurahan hati itu. Pekerja yang datang sejak pagi sebenarnya tidak dirugikan. Mereka menerima upah tepat seperti yang telah disepakati. Persoalan muncul ketika mereka melihat bahwa pekerja yang datang terakhir ternyata menerima kemurahan hati yang sama dari sang pemilik kebun.
Di sinilah perumpamaan ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan religius pelayanan kita. Ada di antara kita yang mungkin sudah bertahun-tahun melayani. Kita telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan materi. Kita hadir ketika dibutuhkan, menjalankan berbagai tanggung jawab, dan mungkin telah melewati banyak suka-duka dalam pelayanan. Semua itu tentu baik. Namun tanpa disadari, lamanya pelayanan dapat melahirkan perasaan, “Saya sudah lebih lama melayani gereja.” Dari sana dapat muncul pikiran, “Berarti saya lebih berjasa.” Lalu perlahan-lahan pikiran itu berubah menjadi, “Berarti saya lebih pantas daripada dia”. Inilah logika yang hendak dibalik oleh Yesus.
Kita dapat merasa bahwa karena sudah lama bekerja di kebun Tuhan, kita memiliki hak lebih besar atas kebun itu. Kita mulai menentukan siapa yang layak dipercaya, siapa yang pantas mendapat tempat, siapa yang masih terlalu baru, atau siapa yang menurut kita belum cukup berjasa. Ketika orang yang baru datang mendapat kesempatan, perhatian, atau kepercayaan, hati kita mulai terusik. Padahal kebun anggur itu bukan milik kita. Kita semua hanyalah pekerja yang terlebih dahulu dipanggil dan diterima oleh Sang Pemilik kebun.
Karena itu, pusat perumpamaan ini sebenarnya bukan pekerja pertama ataupun pekerja terakhir, melainkan hati Sang Pemilik kebun. Ia terus keluar mencari pekerja mulai pagi hari, pukul sembilan, tengah hari, pukul tiga, bahkan pukul lima sore. Ia seakan tidak rela melihat masih ada orang yang menganggur di luar kebunnya. Allah digambarkan sebagai gembala yang keluar mencari domba-domba-Nya (Yeh. 34:11 “Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya.”). Ia tidak berhenti memanggil hanya karena seseorang datang terlambat.
Kisah para pekerja kebun anggur membawa kita kepada sebuah kebenaran iman yang sangat mendasar yaitu keselamatan bukanlah upah atas jasa manusia, melainkan karunia kemurahan hati Allah. Tidak seorang pun dapat berdiri di hadapan Tuhan sambil menunjukkan daftar pelayanannya lalu berkata, “Tuhan, karena saya telah melakukan semuanya ini, maka saya lebih pantas menerima keselamatan.” Kita diselamatkan bukan karena Allah berutang kepada kita, melainkan karena Allah mengasihi kita.
Kesadaran ini seharusnya mengubah cara kita menjalani pelayanan. Kalau pelayanan dipandang sebagai jasa, kita akan sibuk menghitung berapa banyak yang sudah saya lakukan untuk gereja, berapa lama saya melayani, dan mengapa orang lain mendapat lebih banyak daripada saya. Tetapi, kalau pelayanan dipandang sebagai rahmat, pertanyaannya akan berubah: “Mengapa Tuhan begitu baik sehingga orang seperti saya pun diperkenankan bekerja di kebun-Nya?”
Ukuran kedewasaan pelayanan bukanlah berapa lama kita sudah bekerja di kebun Tuhan, melainkan seberapa jauh hati kita telah menjadi serupa dengan hati Sang Pemilik kebun yang murah hati.
