Orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga? ( 18 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 28:1-10; Matius 19:23-30.
“Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin. Tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Mat 19:26).

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sukarlah bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu: Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat. 19:23–24).
Perkataan Yesus ini tentu sangat mengejutkan para murid. Mereka pun tercengang dan bertanya, “Jika demikian, siapa yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin” (Mat. 19:26).
Mengenai ungkapan “unta melewati lubang jarum”, ada beberapa penjelasan. Cyrilus dari Alexandria, misalnya, berpendapat bahwa mungkin telah terjadi kesalahan dalam bahasa Yunani antara kata kamêlos (= unta) dan kamilos (= tali atau kabel). Saya membayangkan sebuah lubang jarum jahit kecil, di mana saya sendiri sekarang kadang kesulitan untuk memasukkan benang. Memang sulit, tetapi bukannya tidak mungkin. Namun, jika yang dimaksud benar-benar seekor unta yang berukuran besar, tentu tampaknya mustahil untuk melewati sebuah “lubang jarum”.
Pendapat lain menjelaskan bahwa perkataan Yesus ini merupakan sebuah gaya bahasa hiperbolik, yaitu cara berbicara yang sengaja melebih-lebihkan sesuatu supaya lebih kuat dan berkesan. Hal itu memang berhasil membuat para murid tercengang. Ada pula penjelasan mengenai istilah “lubang jarum” yang dikaitkan dengan kota-kota kuno. Kota biasanya memiliki gerbang besar yang ditutup demi keamanan. Jika diperlukan, tersedia pintu yang lebih kecil atau sempit untuk keluar masuk. Pintu sempit inilah yang kemudian disebut sebagai “lubang jarum”.
Binatang unta biasa digunakan untuk mengangkut berbagai beban. Muatan diletakkan di kanan dan kiri tubuhnya. Agar dapat melewati pintu yang sempit, muatan tersebut harus diturunkan terlebih dahulu. Gambaran ini dapat menjadi perumpamaan bagi kita. Muatan beban unta ibarat harta dan berbagai urusan keduniawian yang kita miliki. Untuk mencapai hidup kekal, manusia tidak boleh terlalu terikat olehnya.
Ada masanya kita mengalami kegagalan dalam usaha dan kehilangan harta benda. Andai harus kehilangan semua itu, satu-satunya cara untuk tetap hidup dalam kedamaian adalah dengan menyadari bahwa semuanya adalah titipan Tuhan untuk dimiliki dan dikelola. Tuhan dapat memberikan begitu banyak, dan dalam sekejap semuanya dapat diambil kembali.
Dalam situasi seperti itu, mungkin perlu direnungkan: apakah kita telah melakukan kesalahan dalam cara mendapatkannya atau dalam pengelolaannya? Atau, adakah yang salah dalam cara pandang dan gaya hidup kita selama berada dalam kelimpahan?
Bacaan dari Yehezkiel memberikan gambaran yang sangat jelas. Penguasa kota Tirus menjadi begitu sombong karena kaya raya dan menguasai perdagangan. Kekayaan dan keberhasilannya membuat ia berlaku seolah-olah dirinya adalah Allah. Karena itu, Nabi Yehezkiel mengecam kesombongannya dan menubuatkan kejatuhannya (Yeh. 28:1–10).
Mungkin, ketika kita mengalami kehilangan atau kegagalan, Tuhan justru ingin mencegah kita melakukan kesalahan yang lebih fatal. Maka, paling aman untuk menganggap masa seperti itu sebagai masa padang gurun dan masa pertobatan. Toh, pada akhirnya, ketika maut menjemput, tidak ada satu pun yang dapat kita bawa.
Jika Tuhan mengizinkan, kita dapat mengumpulkan kembali apa yang hilang. Tentu dengan cara yang benar di mata Tuhan. Dan kekayaan itu justru dapat menjadi pendukung kehidupan rohani yang benar, bukan sebaliknya. Prioritas harus ditetapkan dengan benar, jika tujuan hidup kita adalah hidup kekal dan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Mungkin karena memiliki lebih banyak godaan, seorang kaya lebih sukar untuk masuk Kerajaan Surga. Namun, seperti yang Yesus katakan, apa yang terlihat tidak mungkin bagi manusia, bagi Allah menjadi mungkin. Hanya diperlukan kerja sama dari manusia untuk senantiasa berupaya hidup selaras dengan kehendak Tuhan.
Khususnya dari perikop ini, kita diajak untuk tidak terikat pada harta benda dan tidak disesatkan olehnya. Semoga kita diberi kesadaran, ketabahan, dan kerendahan hati dalam menjalaninya.
Amin.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *