| Renungan hari ini dari bacaan “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Mat 23:11) |
Dalam Injil Matius 23:1–12, Yesus memberikan kritik yang sangat tajam terhadap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kritik Yesus bukan terutama karena mereka mengajarkan sesuatu yang salah, sebab Yesus sendiri mengakui bahwa mereka “menduduki kursi Musa” dan mengajarkan hukum Taurat. Persoalannya adalah ketidaksesuaian antara apa yang mereka ajarkan dan bagaimana mereka hidup. Mereka berbicara tentang ketaatan kepada Allah, tetapi tidak menjalankannya dengan sungguh-sungguh. Mereka bahkan membebani orang lain dengan tuntutan-tuntutan yang berat, sementara mereka sendiri tidak mau memikulnya. Sabda ini mengajak kita melihat bahwa kehidupan iman tidak dapat berhenti pada pengetahuan, kata-kata, jabatan, atau penampilan religius. Iman yang sejati harus tampak dalam kehidupan nyata. Allah tidak pertama-tama melihat seberapa banyak kita berbicara tentang kebaikan, tetapi bagaimana kebaikan itu sungguh-sungguh kita hidupi.
Yesus juga menyingkap bahaya lain yang sering kali tidak kita sadari, yakni keinginan untuk mendapatkan pengakuan dan penghormatan dari manusia. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi melakukan berbagai pekerjaan keagamaan supaya dilihat orang. Mereka senang berada di tempat terhormat, menerima salam penghormatan, dan dipanggil dengan gelar-gelar tertentu. Di sinilah Yesus mengingatkan bahwa pelayanan kepada Allah dapat kehilangan kemurniannya ketika berubah menjadi sarana untuk meninggikan diri. Kita pun perlu bertanya dengan jujur: Mengapa saya melayani? Apakah karena kasih kepada Tuhan dan sesama, atau karena ingin dihargai, dipuji, dikenal, dan dianggap penting? Bahkan dalam pelayanan Gereja, seseorang dapat terjebak mencari kedudukan, pengaruh, atau pengakuan. Ketika pelayanan menjadi panggung bagi ego, maka yang seharusnya menjadi persembahan kepada Allah justru berubah menjadi usaha untuk membangun citra diri.
Karena itu, Yesus menawarkan ukuran yang berbeda tentang kebesaran. Dunia sering mengukur kebesaran berdasarkan jabatan, kekuasaan, kekayaan, popularitas, pendidikan, atau banyaknya orang yang menghormati kita. Namun, bagi Yesus, kebesaran justru ditemukan dalam kesediaan menjadi pelayan. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Pelayanan dalam pandangan Kristiani bukanlah tanda kelemahan, melainkan wujud kasih yang dewasa. Orang yang rendah hati tidak merasa dirinya harus selalu berada di depan. Ia mampu mendengarkan, membantu, memberi ruang kepada orang lain, dan melakukan kebaikan tanpa menuntut penghargaan. Kerendahan hati bukan berarti merendahkan martabat diri, melainkan menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah anugerah Allah. Karena itu, kita tidak memiliki alasan untuk menyombongkan diri. Semakin besar tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, semakin besar pula panggilan untuk melayani.
Sabda Yesus hari ini akhirnya menjadi cermin bagi kehidupan kita. Jangan sampai kita lebih mudah menuntut orang lain untuk menjadi baik daripada berusaha memperbaiki diri sendiri. Jangan sampai kita rajin berbicara tentang kasih, tetapi sulit mengampuni; berbicara tentang pelayanan, tetapi mencari penghormatan; berbicara tentang kerendahan hati, tetapi ingin selalu dianggap paling benar. Tuhan menghendaki kesatuan antara perkataan dan perbuatan. Karena itu, marilah kita belajar menjadi pribadi yang sederhana, tulus, dan siap melayani tanpa pamrih. Kebesaran yang sejati bukanlah ketika banyak orang menyebut nama kita, melainkan ketika melalui hidup kita orang lain mengalami kasih Allah. Semoga setiap pelayanan yang kita lakukan tidak menjadi sarana untuk meninggikan diri, tetapi menjadi jalan untuk menghadirkan Kristus yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Hari ini, marilah kita bertanya dalam keheningan: “Apakah hidup saya sungguh menjadi pelayanan bagi sesama, atau justru menjadi sarana untuk mencari pengakuan?”
