Turut memberitakan Kehidupan Kembali Setelah Kematian ( 21 Agustus 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 37: 1-14; Matius 22:34-40.
“Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi napas ke dalammu, supaya kamu hidup kembali. Aku akan memberi urat-urat padamu dan menumbuhkan daging padamu, serta menutupi kamu dengan kulit. Aku akan memberikan kamu napas, supaya kamu hidup kembali. Maka kamu akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN” (Yehezkiel 37: 5.6).

Menyimak bacaan dari Yehezkiel 37:1-14 ini memunculkan rasa bergidik. Membayangkan kalau kita berdiri di tengah lembah yang penuh dengan tulang-belulang manusia yang sudah mengering. Se-gagah apa dan sepopuler apa; setampan dan secantik apa manusia itu pada masa hidupnya, pada akhirnya setelah mati, ia tanpa kulit, tanpa otot, tanpa kehidupan …. hanya akan menjadi onggokan tulang-belulang.

Lalu, kita akan menjadi seperti apa setelah “kematian”? Janji Tuhan bagi anak-anak-Nya adalah hidup kekal.

Kutipan ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Yehezkiel diizinkan Tuhan dengan Roh-Nya melihat onggokan sisa-sisa kehidupan Israel. Tuhan kemudian memerintahkan kepada Nabi Yehezkiel supaya bernubuat terhadap serakan tulang-tulang Israel itu: “Hai tulang-tulang yang kering, dengarlah firman TUHAN! Beginilah firman Tuhan ALLAH kepada tulang-tulang ini: Aku memberi napas hidup di dalammu, supaya kamu hidup kembali” (ay. 4b-5).

Lalu, harapan apakah yang bisa didapatkan dari tulang-tulang yang sudah mati dan mengering? Hanya kasih dan ke-Ilahian-Nya yang menjadikan segala sesuatu menjadi mungkin. Allah berkenan Nabi Yehezkiel ikut serta dalam karya agung-Nya untuk membangkitkan kembali Israel. Kita dapat memetik pelajaran bahwa Tuhan pun berkenan mengikutsertakan kita dalam karya agung-Nya.

Ketika Yehezkiel mengatakan hal yang benar tentang rencana Allah melalui nubuatnya, ia ada dalam karya besar yang disiapkan Allah, yaitu membangkitkan kembali Israel yang sudah mati, dengan kuasa Roh Allah yang memberikan kehidupan setelah kematian.

Tidak semua orang memiliki karunia untuk bernubuat seperti Yehezkiel. Namun, setiap orang percaya memiliki tanggung jawab untuk turut serta menjadi pemberita yang mewartakan janji-janji kebenaran Allah. Yehezkiel 37:10 berkata: “Lalu aku bernubuat seperti diperintahkan-Nya kepadaku. Dan napas hidup itu masuk di dalam mereka, sehingga mereka hidup kembali.”

Ayat ini adalah kabar sukacita yang dapat kita bagikan: bahwa ada kehidupan, ada kebangkitan setelah kematian.

Secara rohani, hal ini dapat diartikan bahwa seseorang yang mengalami putus harapan di dalam hidupnya akan diperbaharui oleh Allah. Dengan Roh-Nya, ia akan menemukan harapan yang baru untuk hidup. Sama seperti ketika seseorang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat dunia, maka ia akan diubahkan dan memiliki harapan kehidupan baru di dalam pimpinan-Nya.

Karena itu, menjadi pemberita kehidupan bukan hanya berbicara tentang apa yang terjadi setelah kematian. Kita juga dipanggil untuk membawa kehidupan dan harapan di tengah orang-orang yang sedang mengalami “kematian” dalam hidupnya: mereka yang putus asa, kehilangan harapan, merasa tidak berarti, atau tidak lagi melihat masa depan. Melalui perkataan, sikap, kasih dan kesaksian hidup kita, Tuhan dapat memakai kita untuk menyampaikan bahwa kehidupan itu masih ada dan harapan itu masih mungkin.

Berpadanan dengan Yehezkiel, keyakinan apakah yang bisa menjadi penuntun bagi seseorang untuk mengambil bagian dalam “turut memberitakan kehidupan kembali setelah kematian”? Injil Matius 22:37-39 memberikan jawabannya. Inilah kunci sikap hidup seseorang: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Dan yang kedua, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama menjadi jalan bagi kita untuk turut mengambil bagian dalam karya agung Allah. Sebab, ketika kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita akan belajar untuk menghadirkan kasih dan kehidupan bagi sesama.

Tulang-tulang yang kering sekalipun dapat hidup kembali ketika Allah menghembuskan napas kehidupan. Demikian pula, hidup yang terasa kering, mati dan tanpa harapan pun dapat diperbaharui oleh kuasa Roh-Nya.

Mari kita turut memberitakan kehidupan kembali setelah kematian. Mari menjadi pembawa harapan bagi mereka yang sedang kehilangan harapan. Sebab bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Di dalam Dia, kehidupan selalu memiliki harapan. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *