JanganMembiarkan Dosa Menjadi Biasa ( 7 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Korintus 5:1-8; Lukas 6: 6-11.
“Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula
dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi,
yaitu kemurnian dan kebenaran” (1Kor. 5:8).

Korintus adalah salah satu kota tempat Paulus melayani dan memberitakan pengorbanan Kristus sebagai Juru Selamat. Namun, sepeninggal Paulus, jemaat di Korintus melakukan cara hidup yang tidak dibenarkan oleh kebenaran Firman Tuhan. Bahkan, mereka bangga dengan cara hidup yang tidak normal dan tidak sesuai dengan prinsip Firman Tuhan. Yang lebih memprihatinkan, jemaat yang lain pun seolah-olah tidak tahu-menahu dengan kebiasaan hidup jemaat Korintus yang berdosa itu.

Sesungguhnya, hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan dikenan oleh Allah, bahkan dikuduskan untuk menjadi bagian dari tujuan Ilahi di dunia ini. Seks disediakan oleh Allah bagi laki-laki dan perempuan ketika hubungan itu sudah sah, sudah diberkati, dan dilakukan atas seizin Allah. Allah bahkan menyatakan maksud-Nya melalui hubungan laki-laki dan perempuan, yaitu supaya manusia beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi bumi. Karena itu, kita tahu betapa sakralnya hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan.

Namun, dalam 1 Korintus 5 dipaparkan kehidupan seksual yang menyimpang dari yang seharusnya dan akhirnya menjadi hubungan yang berdosa. Penyimpangan seksual dalam jemaat Korintus diterjemahkan dari bahasa Yunani porneia, yaitu perilaku seksual yang menyimpang dan tidak kudus. Di ayat 1 bahkan disebutkan adanya perilaku seksual seseorang dengan istri ayahnya, yang bisa berarti ibu sendiri atau ibu sambungnya. Yang sangat memprihatinkan adalah mereka tetap bersikap seolah-olah perilaku itu dapat dibenarkan. Alih-alih menyesali dosa, perilaku itu malah dilakukan dengan bangga.

Sesuatu yang sangat buruk telah menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Sesuatu yang seharusnya membuat mereka malu dan bertobat justru dianggap sah oleh orang-orang yang mengaku sebagai jemaat dan pengikut Kristus. Tidak ada rasa risih, tidak ada rasa takut terhadap dosa. Bahkan, perilaku seperti itu tidak lazim dilakukan oleh orang-orang yang belum mengenal Allah. Betapa menyedihkan ketika kehidupan orang yang mengaku percaya kepada Kristus justru menjadi batu sandungan bagi orang lain.

Yang juga tidak wajar adalah sikap jemaat yang lain. Mereka membiarkan saja perilaku tersebut. Mereka tidak menegur, tidak menasihati, dan tidak mengambil tindakan terhadap jemaat yang melakukan dosa seksual itu. Lantas, kesaksian hidup seperti apa yang akan dibagikan oleh jemaat Korintus kepada orang-orang yang belum percaya kepada Kristus?

Paulus mengatakan bahwa perlu ada hukuman atau disiplin badani untuk mengembalikan rohnya kepada Kristus (ay. 5). Dengan demikian seseorang yang jatuh ke dalam dosa dapat dimurnikan kembali melalui pertobatan. Pertobatan ini merupakan “hukuman badani” yang membuat orang berdosa binasa tubuhnya, berjuang dengan keras meninggalkan dosa dan cara hidup yang lama untuk kembali ke kehidupan yang murni di dalam Kristus.

Di sinilah kita belajar bahwa mencintai kebenaran berarti berani menolak dosa, sekalipun dosa itu sudah dianggap biasa oleh banyak orang. Kebenaran Firman Tuhan tidak boleh dikorbankan hanya supaya kita diterima oleh lingkungan atau supaya kita tidak dianggap menghakimi orang lain.

Hal yang sama kita lihat dalam Injil Lukas. Yesus menyembuhkan orang yang mati tangan kanannya pada hari Sabat. Bagi Yesus, hukum bukanlah alasan untuk membiarkan manusia menderita. Karena itu Yesus bertanya, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk. 6:9).

Para ahli  Taurat tidak dapat membedakan manakah yang boleh dilakukan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat? Sebab, mereka terkungkung pada “ragi” yang lama, yang sebenarnya di dasari pada sikap hati yang iri akan kehadiran Kristus, yang dikuatirkan mencondongkan kepercayaan orang kepada ajaran Kristus dan meninggalkan ajaran mereka.

Isi hati yang tidak murni ini menjadi penyebab yang akan menodai kehidupan. “Tidak tahukah kamu bahwa sedikit ragi akan mengkhamiri seluruh adonan” (ay. 6b). Yesus Kristuslah yang mampu menjaga hati kita, dan Ia mau supaya kita membuang hati yang lama yang didasari pada iri hati; atau hati yang tidak kudus yang cenderung pada seksual yang tidak normal dan membawa manusia kepada dosa.

Ia mau jemaat hidup murni. “Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran (1 Kor 5: 8).

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *