Jangan Menyerah Membantu Sesama Bertobat ( 6 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yehezkiel 33:7-9; Matius 18:15-20 “Namun, jika engkau memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, tetapi ia tidak mau bertobat, ia akan mati dalam kesalahannya, tetapi engkau telah menyelamatkan nyawamu” (Yeh. 33:9).

Jika kita melihat doa-doa orang di chat YouTube saat mengikuti misa online atau devosi-devosi, ada macam-macam bunyinya. Umumnya, doa-doa itu mengajukan permohonan bagi diri sendiri atau keluarga: berbagai permintaan tentang materi, kesehatan, kehidupan yang lebih baik, dan sebagainya. Tidak hanya itu, ada pula yang menulis dengan HURUF BESARberteriak dalam bahasa internet – mungkin karena takut tidak terdengar oleh Allah. Namun, jarang kita menemukan doa-doa untuk orang lain, masyarakat, lingkungan, apalagi bangsa. Jarang pula terdengar ucapan pujian dan syukur kepada Allah.

Sepertinya sebagian besar dari kita masih belum benar-benar meresapi betapa besarnya kasih Allah yang berlimpah bagi manusia. Allah telah memberikan keselamatan kepada kita melalui kemenangan Kristus atas dosa, melalui penderitaan dan kebangkitan-Nya. Tetapi, pernahkah kita sungguh-sungguh merenungkan betapa banyak yang telah Allah berikan kepada kita? Apakah kita tidak ingin berterima kasih atas kelimpahan kasih itu dengan melaksanakan apa yang Allah kehendaki dari kita?

Dalam kitab Yehezkiel, Allah menetapkan Yehezkiel sebagai penjaga kaum Israel. Sebagai penjaga, Yehezkiel harus memperingatkan mereka sesuai dengan firman Allah dan atas nama-Nya. Allah memperingatkan bahwa orang jahat pasti mati jika tidak bertobat. Tetapi, jika Yehezkiel tidak memperingatkan orang itu, orang tersebut akan mati karena kesalahannya, dan darahnya akan dituntut dari Yehezkiel. Sebaliknya, jika Yehezkiel telah memperingatkannya tetapi orang itu tidak mau bertobat, ia akan mati karena kesalahannya, sedangkan Yehezkiel tetap selamat (Yeh. 33:7-9).

Dari sini kita melihat bahwa Allah selalu menghendaki manusia untuk bertobat. Allah selalu memberikan kesempatan kepada orang berdosa untuk memperbaiki perilakunya, antara lain melalui sesama. Karena itu, kita pun dipanggil untuk membantu dan memperingatkan sesama yang berbuat salah. Teguran bukanlah tanda kebencian, melainkan bentuk kasih. Kita menegur bukan untuk mempermalukan atau menghancurkan seseorang, tetapi untuk menyelamatkannya.

Kehendak Allah itu juga disampaikan Yesus dalam Injil Matius. Yesus mengajarkan agar kita menegur orang yang berbuat dosa dengan cara yang benar. Tujuannya bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mendapatkan kembali saudara kita: “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali” (Mat. 18:15). Jadi, teguran dalam iman selalu mempunyai tujuan pemulihan. Kita ingin orang yang bersalah kembali kepada jalan yang benar dan kembali kepada persekutuan.

Seperti dalam perumpamaan tentang anak yang hilang, Allah senantiasa menghendaki manusia bertobat. Namun, manusia sering kali keras hati. Setelah diberi kesempatan secara pribadi, kemudian dengan bantuan dua atau tiga orang saksi, bahkan setelah dihadapkan kepada jemaat, masih ada orang yang tidak mau bertobat. Allah yang penuh belas kasih memberikan kesempatan berulang kali, tetapi ketika manusia tetap keras hati, akhirnya keadilan ditegakkan dan hukuman pun dijatuhkan.

Perikop ini bukan hanya menunjukkan betapa besar kasih Allah, tetapi juga mengajak kita untuk tidak mudah menyerah dalam membantu mempertobatkan saudara kita yang berdosa. Jangan sampai kita berpikir bahwa dosa orang lain bukan urusan kita. Sebagai saudara dalam iman, kita mempunyai tanggung jawab untuk saling menjaga dan menyelamatkan.

Yesus bahkan memberikan satu lagi jalan untuk membantu orang agar tidak binasa, yaitu melalui doa: “Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga” (Mat. 18:19). Marilah kita merenungkan sabda ini agar kita tidak menggunakan kata-kata ajaib tersebut dengan sia-sia. Doa bukan hanya untuk meminta sesuatu bagi diri sendiri, tetapi juga untuk memohon rahmat bagi orang lain agar mereka mampu bertobat.

Marilah kita mulai memperluas doa-doa kita. Jangan hanya berdoa untuk diri sendiri dan keluarga. Mari kita mendoakan saudara-saudara kita yang sedang jauh dari Tuhan, mereka yang keras hati, dan mereka yang hidup dalam kesalahan. Kita berdoa agar mereka diberi rahmat untuk bertobat dan kembali kepada jalan Tuhan. Sebab, ketika kita membantu seorang saudara untuk bertobat, kita bukan hanya menyelamatkan dia, tetapi juga menyelamatkan jiwa kita sendiri (Yeh.33:9).

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *