| Renungan hari ini dari bacaan 1 Korintus 4:6b-15; Lukas 6:1-5 “Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina. Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara….“ ( 1Kor. 4:10-11) |
Ayat ini memperlihatkan bagaimana Rasul Paulus menjelaskan keadaan dirinya dan para rasul sebagai pelayan Kristus. Dengan gaya bahasa yang cukup pedas dan penuh ironi, Paulus menegur jemaat Korintus yang sedang mengalami perpecahan, persaingan, dan kebanggaan terhadap pemimpin atau kelompok tertentu. Paulus membuat perbandingan yang tajam: para rasul dianggap “bodoh”, “lemah”, dan “hina” demi Kristus, sementara sebagian jemaat Korintus merasa diri mereka “arif”, “kuat”, dan “mulia”.
Paulus tentu tidak benar-benar menganggap dirinya bodoh. Ia sedang membalik ukuran keberhasilan yang dipakai manusia. Bagi jemaat Korintus, menjadi hebat berarti pintar, kuat, dihormati, sukses, dan memiliki pengaruh. Sebaliknya, Paulus menunjukkan bahwa jalan para rasul justru ditandai dengan lapar, haus, kekurangan, dipukul, menderita, dan hidup mengembara. Namun, justru dalam keadaan itulah mereka menunjukkan kesetiaan kepada Kristus.
Menjadi “bodoh karena Kristus” bukan berarti menjadi bodoh secara intelektual. Ungkapan ini menunjuk pada keberanian untuk meninggalkan ukuran kebesaran dunia demi mengikuti ukuran Kristus. Dalam Kristus, kerendahan hati, kesetiaan, pengorbanan, dan ketekunan jauh lebih bernilai daripada popularitas, kenyamanan, atau keberhasilan lahiriah.
Pelayanan kepada Kristus memang bukan jalan mulus seperti jalan tol dengan berbagai paket kenyamanan ala duniawi. Ada tantangan, kekecewaan, pengorbanan, bahkan penderitaan. Pertanyaannya: apakah kita tetap setia ketika pelayanan tidak menghasilkan pujian dan penghargaan?
Untuk memahami hal ini, saya teringat pada kisah Bapak Krido, seorang pengurus lingkungan yang cukup aktif. Ia rajin menghadiri rapat, mengatur kegiatan lingkungan, menghubungi umat, dan sering dipercaya menjadi koordinator berbagai kegiatan Gereja. Ia bangga karena merasa cukup memahami kehidupan menggereja.
Suatu ketika, dalam sebuah pendalaman Kitab Suci, ia terusik oleh perkataan Paulus: “Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus.” Ia bertanya kepada seorang teman, “Bukankah kita justru harus menjadi orang pintar, mampu mengatur kegiatan, dan tahu bagaimana membuat pelayanan berhasil?”
Temannya tersenyum dan menjawab, “Mungkin Paulus tidak sedang mengatakan bahwa kita harus menjadi orang yang tidak pintar.”
Jawaban sederhana itu membuat Bapak Krido mulai melihat kembali hidup pelayanannya. Ia menyadari bahwa selama ini ia memang aktif melayani, tetapi ia senang ketika namanya disebut, kecewa ketika usulnya tidak diterima, dan merasa kurang dihargai ketika orang lain mendapat pujian. Perlahan ia berkata dalam hati, “Jangan-jangan selama ini saya ingin menjadi arif, kuat, dan mulia menurut ukuran saya sendiri, tetapi belum sungguh-sungguh menjadi ‘bodoh karena Kristus’.”
Bukankah kita pun sering seperti Bapak Krido? Kita melayani, tetapi masih ingin dipuji. Kita bekerja untuk Tuhan, tetapi kecewa ketika tidak dihargai. Kita ingin disebut berhasil, tetapi belum tentu siap berkorban. Karena itu, pertanyaan penting bagi kita adalah: Apakah saya mengikuti Kristus karena ingin menjadi orang yang dihormati, berhasil, dan nyaman, atau karena sungguh-sungguh mencintai dan melayani-Nya?
Menjadi “bodoh karena Kristus” justru membutuhkan kecerdasan iman: kecerdasan untuk memahami bahwa kerendahan hati lebih mulia daripada kesombongan, kesetiaan lebih berharga daripada popularitas, dan pengorbanan lebih bermakna daripada kenyamanan.
Ya Tuhan Yesus, ajarlah saya menjadi “bodoh karena Kristus”, bukan bodoh dalam berpikir, tetapi rendah hati dalam melayani. Berikanlah saya hikmat untuk tidak mengejar pujian, kekuatan untuk tetap setia ketika pelayanan terasa berat, dan hati yang rela berkorban demi kasih kepada-Mu dan sesama.
Semoga saya semakin cerdas dalam iman, rendah hati untuk belajar, setia untuk mengikuti, dan berani berkorban untuk melayani. Amin.
