| Renungan hari ini dari bacaan 1 Korintus 4:1-5; Lukas 5:33-39 “Anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula” (Luk 5:38). |
Injil yang kita baca hari ini mengisahkan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang datang kepada Yesus dan mempertanyakan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa seperti murid-murid Yohanes Pembaptis dan orang-orang Farisi. Sekilas, pertanyaan ini terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan sebuah cara pandang tertentu. Mereka telah memiliki ukuran sendiri tentang bagaimana seseorang yang saleh seharusnya hidup. Menurut mereka, orang yang sungguh dekat dengan Tuhan seharusnya berpuasa dengan cara tertentu, berdoa dengan cara tertentu, dan menunjukkan kesalehan dalam bentuk-bentuk yang sudah mereka kenal.
Yesus kemudian menjawab dengan beberapa gambaran. Salah satunya adalah gambaran tentang anggur baru dan kantong kulit baru. Pada zaman itu, anggur baru masih mengalami proses fermentasi sehingga membutuhkan kantong kulit yang lentur dan dapat mengembang. Jika anggur baru dimasukkan ke dalam kantong kulit tua yang sudah keras dan kaku, kantong itu dapat pecah dan anggurnya pun terbuang.
Melalui gambaran ini, Yesus hendak mengatakan bahwa karya Allah yang baru tidak selalu dapat dimasukkan ke dalam pola-pola lama yang kaku. Untuk menerima karya Allah, dibutuhkan hati yang terus diperbarui.
Pesan ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Tanpa disadari, kita pun sering memiliki “kantong kulit” kita sendiri, yaitu cara pandang lama dan ukuran-ukuran tertentu yang kita gunakan untuk menilai orang lain. Kita memiliki gambaran tentang seperti apa orang beriman seharusnya terlihat. Orang saleh harus rajin mengikuti kegiatan rohani, harus pandai berdoa, harus berbicara dengan cara tertentu, atau harus menunjukkan kesalehan sesuai dengan harapan kita. Ketika seseorang tidak sesuai dengan ukuran tersebut, kita mudah berkata dalam hati, “Kok dia seperti itu? Katanya orang beriman.”
Padahal, kesalehan tidak selalu tampak dalam bentuk yang sama. Ada orang yang mungkin tidak pandai merangkai doa dengan kata-kata indah, tetapi setiap hari dengan sabar merawat orang tuanya yang sakit. Ada orang yang tidak banyak berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap jujur dalam pekerjaannya dan murah hati kepada mereka yang membutuhkan. Sebaliknya, ada pula orang yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan, tetapi mungkin masih sulit mengampuni, mudah merendahkan sesama, atau cepat menghakimi.
Tentu kita boleh memiliki prinsip dan nilai tentang bagaimana hidup sebagai orang beriman. Namun persoalan muncul ketika ukuran yang kita buat sendiri kemudian kita anggap sebagai ukuran Tuhan. Kita mulai berpikir bahwa orang yang sungguh beriman harus seperti kita, berdoa seperti kita, melayani seperti kita, bahkan memahami Tuhan seperti kita. Pada saat itulah “kantong kulit” hati kita mulai menjadi tua, sempit, dan kaku.
Hal yang sama dapat terjadi dalam keluarga. Sebagai orangtua, misalnya, kita bisa memiliki ukuran bahwa anak yang baik adalah anak yang selalu menurut dan tidak banyak bertanya. Ketika anak mulai berani menyampaikan pendapat, kita menganggapnya kurang hormat. Dalam mendisiplinkan anak, tidak sedikit orangtua yang masih menggunakan cara-cara keras karena dahulu mereka dididik dengan cara yang sama dan merasa bahwa cara tersebut terbukti efektif.
Akibatnya, kita mudah menghukum anak atas “kesalahan menurut ukuran kita”, tetapi kurang memberi ruang untuk memahami apa yang mereka rasakan, mendengarkan pendapat mereka, atau melihat persoalan dari sudut pandang mereka. Cara pandang kita menjadi begitu kaku sehingga kita kesulitan melihat bahwa rahmat Allah pun sedang bekerja dalam diri anak-anak kita, melalui keunikan, pertumbuhan, bahkan pertanyaan-pertanyaan mereka.
Karena itu, Yesus hari ini mengingatkan kita bahwa anggur baru membutuhkan kantong kulit yang baru. Rahmat Allah membutuhkan hati yang lentur, hati yang mau terus dibentuk dan diperbarui. Menjadi murid Kristus berarti berani membuka kemungkinan bahwa cara kita memandang seseorang belum tentu sama dengan cara Tuhan memandangnya.
Semoga Tuhan memperbarui “kantong kulit” hati kita, supaya kita tidak mudah menghakimi, tidak cepat memberi label, dan semakin mampu melihat sesama dengan mata yang penuh kasih. Semoga kita pun semakin peka melihat karya rahmat Allah dalam diri orang-orang yang berbeda dengan kita. Sebab bisa jadi, pembaruan terbesar yang Tuhan kehendaki bukan pertama-tama perubahan pada orang lain, melainkan perubahan dalam cara kita memandang mereka.
