Hikmat dunia ini, adalah kebodohan bagi Allah ( 3 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1Korintus 3:18-23; Lukas 5:1-11. “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yg menyangka dirinya bijaksana menurut dunia ini, Biarlah ia menjadi bodoh, Supaya ia menjadi bijaksana.19Sebab, hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah” (1Kor 3:18-19a).

Istilah ‘hikmat’ berasal dari kata Ibrani khokhmah, yang berarti pengertian, keahlian dalam keterampilan, seperti pertukangan dan seni. Misalnya Bezale’el dari suku Yehuda dipenuhi Roh Allah dengan hikmat, pengertian, pengetahuan dan berbagai keahlian, untuk membuat berbagai rancangan untuk dikerjakan dengan bahan emas, perak dan tembaga. Mereka yang dikaruniai keahlian dan pengertian ini, diberi tugas mendirikan Tempat Kudus, sesuai rancangan Tuhan (bdk. Kel. 35:30-33; 36:1; 38:23). Selain itu, Bezale’el dan Aholiab dikaruniai kepandaian untuk mengajar (Kel. 35:34). Dalam pengertian ini, hikmat dari Tuhan dimaksudkan untuk membangun jemaat.

Paulus mengatakan, bahwa sesuai anugerah Allah, ia sebagai ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar dan kemudian orang lain membangun terus di atasnya. Dasar itu adalah Yesus Kristus (1Kor. 3:11). Bait Allah yang kudus adalah jemaat (bdk. 1Kor. 3:17). Kepada jemaat di Korintus, Paulus mengingatkan supaya waspada terhadap ‘hikmat dunia’. Praktisnya, ‘hikmat dunia’ ini bertentangan dengan rancangan Allah. Jadi, rupanya ada beberapa pengajar yang berhasil memiliki pengikut tersendiri. Kemudian, terjadi friksi antar anggota dari kelompok. Paulus berkata bahwa mereka telah melakukan kesalahan karena ‘memegahkan diri atas manusia’ (1Kor. 18:21). Mereka telah menipu diri sendiri, karena menyangka dirinya bijaksana menurut dunia ini. Padahal, hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah (1Kor. 18:19). Allah akan menangkap mereka ini dalam kecerdikannya (Ayb. 5:13). Jadi Allah akan menggagalkan rencana-rencana licik yang dibuat oleh orang-orang yang hikmatnya bersifat duniawi. Kepada mereka Paulus menyerukan pertobatan, dengan cara yang disebutnya ‘menjadi bodoh’, artinya bersikap sebagai murid, yang siap-sedia menerima pengajaran yang benar, supaya menjadi bijaksana (bdk. 1Kor. 3:18).

Injil Lukas menggambarkan apa yang dimaksud ‘menjadi bodoh’ dan mengambil sikap sebagai murid. Suatu ketika Simon dan nelayan lainnya, tengah membasuh jala di tepi Danau Genesaret. Yesus lalu duduk di perahu Simon, sementara orang banyak mendengarkan pengajaran-Nya dari tepi danau. Setelah itu, Yesus berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam, dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Luk. 5:4). Simon berprofesi sebagai nelayan. Tentu ia menguasai pengetahuan dan keterampilan menangkap ikan. Sedangkan Yesus berlatar belakang tukang kayu. Mungkin dalam hati Simon ada keraguan, tetapi katanya, “Guru, sepanjang malam kami telah bekerja keras, tetapi tidak menangkap apa-apa. Namun, karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala.” (Luk. 5:5). Begitu banyak ikan yang terjaring, sehingga jala mulai koyak. Mereka lalu meminta bantuan kepada teman-teman yang ada di perahu lain. Di antaranya ada Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus (Luk. 5:10). Kedua perahu pun dipenuhi ikan hasil tangkapan dan hampir tenggelam (Luk. 5:6-7). Semua diliputi rasa takjub. Simon Petrus sujud di depan Yesus, katanya, “Tuhan, pergilah dariku, karena aku ini seorang berdosa” (Luk. 5:8). Jawab Yesus, “Jangan takut!  Mulai sekarang engkau akan menjala manusia.” (Luk. 5:10). Sesudah menarik perahu-perahu itu ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Kedua perikop ini mengajak untuk merenungkan, apakah kita sudah mendengarkan dan menanggapi suara Tuhan dengan benar. Kita percaya bahwa Tuhan berdialog dan memberikan pengarahan-Nya dengan berbagai cara.  Hati nurani perlu dilatih ketajamannya dengan sering melakukan discerment. Tuhan juga berbicara melalui orang-orang dan peristiwa di sekitar kita. Bahkan sangat mungkin dari orang atau sesuatu yang tidak kita sangka-sangka. Ada tertulis, ‘Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri’ (Ams. 3:5). Jadi, seberapa tulus kita telah memberikan diri untuk dituntun Tuhan supaya “bergerak lebih dalam”, dalam kehidupan iman kita. Misalnya dalam pemeriksaan batin, dalam perilaku sehari-hari dan dalam pelayanan. Semoga kita selalu berupaya menempatkan diri sebagai murid dan menumbuhkan hikmat yang dari Tuhan. Melalui discernment, kita senantiasa berusaha supaya tidak disesatkan oleh hikmat dunia. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *