| Renungan hari ini dari bacaan Korintus 15:12-20; Lukas 8:1-3. |
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar orang berkata, “Saya mengasihi,” “Saya peduli,” “Saya percaya,” atau “Saya siap menolong.” Perkataan seperti itu tentu baik. Namun, perkataan akan kehilangan maknanya apabila tidak dibuktikan melalui kehidupan. Sebab, seseorang dapat mengatakan banyak hal tentang dirinya, tetapi perbuatannya akan menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.
Demikian juga dengan kehidupan orang percaya. Kita dapat mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, percaya kepada Kristus, dan mengasihi sesama. Tetapi, pertanyaannya adalah: apakah semua itu benar-benar terlihat dalam kehidupan kita? Apakah iman yang kita ucapkan juga tampak dalam tindakan kita?
Dalam 1 Korintus 15:12-20, Paulus berbicara dengan tegas mengenai kebangkitan Kristus. Iman Kristen tidak dibangun di atas perkataan kosong, tetapi pada kenyataan bahwa Kristus telah mati dan bangkit. Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan dan iman orang percaya. Namun, Paulus menegaskan bahwa Kristus benar-benar telah bangkit. Karena itu, iman kepada Kristus harus menjadi iman yang nyata dan hidup.
Hal yang sama kita lihat dalam Lukas 8:1-3. Beberapa perempuan mengikuti Yesus dan melayani-Nya dengan apa yang mereka miliki. Mereka tidak hanya mendengar dan mengatakan bahwa mereka mengasihi Yesus, tetapi kasih itu diwujudkan melalui tindakan nyata.
Mereka tidak hanya berkata, “Saya percaya kepada Yesus,” atau “Saya mengasihi Yesus,” tetapi kehidupan mereka menunjukkan kasih sebenarnya. Mereka memberikan teladan yang indah.
Dari kedua bacaan ini kita belajar bahwa kehidupan orang percaya harus memiliki keselarasan antara perkataan, iman, dan perbuatan. Jangan sampai kita hanya memiliki “bahasa Kristen”, tetapi tidak memiliki “kehidupan Kristen”. Jangan sampai mulut kita berbicara tentang Tuhan, tetapi tindakan kita justru menyangkal Tuhan.
Mengasihi bukan sekadar perkataan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Karena itu, kita perlu bertanya: Apakah perkataan kasih saya sudah selaras dengan tindakan saya?
Keselarasan antara perkataan dan perbuatan adalah bagian penting dari kesaksian hidup orang percaya. Dunia tidak hanya mendengar apa yang kita katakan, tetapi juga memperhatikan bagaimana kita hidup. Karena itu, marilah kita memeriksa diri. Biarlah iman itu terlihat dalam cara kita menjalani kehidupan.
Kita memang belum sempurna. Namun, Tuhan memanggil kita untuk terus bertumbuh sehingga perkataan, iman, dan perbuatan kita semakin selaras.
Kiranya Tuhan menolong kita agar apa yang kita katakan, apa yang kita percaya, dan apa yang kita lakukan semakin hari semakin selaras. Amin.
