JANGANLAH MENGEJAR KEKAYAAN, KEJARLAH PENGENALAN AKAN ALLAH ( 23 September 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Amsal 30:1–9 dan Lukas 9:1–6. “Jauhkanlah dariku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku” (Ams. 30:8).

Dalam renungan ini kita akan memaknai firman Tuhan dan merenungkan: Tuhan sedang berbicara tentang apa? Apakah hanya tentang kecukupan hidup seseorang seperti yang kita temukan dalam Amsal 30? Ataukah ada prinsip-prinsip hidup lain yang hendak Tuhan ajarkan kepada kita?

Sejujurnya, ayat Amsal 30:8 ini pernah saya mohonkan secara pribadi kepada Tuhan.  Waktu itu, dengan gaji yang pas-pasan, bahkan terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama satu bulan, kehidupan kami sebagai suami-istri dengan empat anak sering membuat kami “pusing”.

Namun, kami sudah berkomitmen di hadapan Tuhan: “Tuhan Yesus, tolonglah supaya kami tetap jujur. Tidak ada kecurangan dalam kehidupan keluarga kami. Tolonglah supaya kami tidak berutang.” Karena itu, kami mengamini doa dalam Amsal 30:8: Tuhan, berikanlah kami kecukupan.

Seiring berjalannya waktu, puji Tuhan, Allah benar-benar kreatif. Ia membuka jalan berkat dan menjawab doa dengan cara-Nya sendiri.  Ia mencukupkan kebutuhan bulanan keluarga kami. Terpujilah Tuhan!

Dari pengalaman itu saya semakin menyadari bahwa menikmati firman Tuhan adalah sebuah gaya hidup yang indah. Firman Tuhan perlu direnungkan, dicatat, diingat dalam hati, didoakan, dan dinantikan penggenapannya. Ketika kita menjalani semua itu, pada suatu saat kita dapat tercengang dan kagum melihat karya Tuhan yang menggenapi firman-Nya dalam kehidupan nyata kita.

Namun, firman Tuhan tidak hanya berbicara tentang kebutuhan hidup. Ada kalanya melalui firman-Nya kita harus mengambil keputusan ketika kita sedang ragu: Manakah kehendak Tuhan bagi hidup saya?

Syarat untuk mengetahui kehendak Tuhan melalui firman-Nya adalah dengan ketulusan dan keikhlasan, yaitu “mengosongkan diri” dari keinginan pribadi. Kita belajar melepaskan keinginan kita sendiri supaya dapat memahami apa yang Tuhan kehendaki melalui firman-Nya. Dan setelah memahami kehendak-Nya, kita dipanggil untuk taat.

Memahami firman Tuhan pada awalnya mungkin terasa sulit dan hampir seperti sesuatu yang abstrak. Tetapi, ketika kita membiasakan diri menyimak dan merenungkan firman-Nya, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan sungguh-sungguh sedang memimpin kehidupan kita melalui firman-Nya. Ketaatan membuat kita semakin mampu mengenali pimpinan Tuhan.

Itulah kebenaran firman-Nya. Sebab, “Semua firman Allah itu murni, Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya” (Ams. 30:5). Firman Tuhan bukan sekadar pengetahuan yang kita pelajari. Firman Tuhan harus menjadi dasar iman dan kehidupan kita.

Kita boleh mempelajari berbagai tulisan, tafsir, atau buku-buku yang membantu kita memahami firman Tuhan. Semua itu penting. Tetapi, kebutuhan utama dalam menerima firman Tuhan sebagai iman adalah menerima dan menaati firman itu sendiri. Firman Tuhan itu murni; karena itu, “jangan menambahi firman-Nya” (Ams.30:6).

Betapa ampuhnya firman Tuhan, terutama ketika kita berpegang pada janji-janji-Nya. Kita melihat hal itu dalam doa Agur bin Yake. Ia datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati. Manusia hanya mampu memohon dan berharap kepada-Nya. Sikap hati seperti inilah yang dikehendaki Tuhan.

Agur juga datang kepada Tuhan dengan melepaskan diri dari kecurangan dan kebohongan. Doanya sangat manusiawi. Ia tidak meminta kekayaan yang berlimpah, tetapi juga tidak meminta kemiskinan. Ia hanya meminta kecukupan.

Agur memahami bahwa baik kemiskinan maupun kekayaan memiliki risikonya. Kemiskinan dapat membuat seseorang mempertanyakan di mana pertolongan Tuhan. Sebaliknya, kekayaan dapat membuat seseorang menjadi sombong dan berkata, “Siapa Tuhan?” Karena itu, ia memohon agar diberikan makanan yang menjadi bagiannya.

Di sinilah kita menemukan sebuah prinsip hidup yang penting: janganlah menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Kejarlah pengenalan akan Allah dan hiduplah dalam kecukupan yang Tuhan berikan.

Hal yang sama kita temukan dalam Injil Lukas 9. Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang sakit, Ia berkata: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan; jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju.” (Luk. 9:3)

Yesus mengajarkan kepada para murid untuk hidup apa adanya dan belajar bergantung kepada penyertaan Tuhan. Mereka tidak dipanggil untuk mengumpulkan banyak harta sebagai bekal pelayanan. Mereka dipanggil untuk percaya kepada Tuhan yang mengutus mereka.

Ini menjadi teladan kehidupan bagi kita. Dalam hidup ini, penting bagi kita untuk merasa nyaman dengan apa yang ada pada kita dan mencukupkan diri dengan segala sesuatu yang Tuhan berikan. Sebab, Tuhan tidak pernah mengutus kita tanpa memberikan apa yang kita perlukan untuk menjalankan panggilan-Nya. Yesus telah memberikan tenaga dan kuasa kepada murid-murid-Nya untuk menguasai setan-setan dan menyembuhkan penyakit-penyakit.

Dengan penyertaan-Nya dan dengan cara hidup dalam hikmat-Nya, kiranya kita mampu hidup benar dan menjadi berkat bagi sesama. Semoga melalui kehidupan kita sehari-hari, nyata bahwa Yesus Kristus sungguh ada dan bekerja dalam kehidupan kita.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *