| Renungan hari ini dari bacaan Luk 8:19-21. Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:21) |
Kisah dalam bacaan injil hari ini memperlihatkan bahwa ibu dan saudara-saudara Yesus datang untuk bertemu dengan-Nya, tetapi mereka tidak dapat mendekati-Nya karena terhalang oleh orang banyak. Situasi ini menjadi kesempatan bagi Yesus untuk menyampaikan suatu kebenaran yang lebih mendalam mengenai siapa yang disebut sebagai keluarga-Nya. Ketika seseorang memberitahukan bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya berada di luar, Yesus tidak sedang menolak atau merendahkan hubungan kekeluargaan-Nya dengan Maria dan sanak saudara-Nya. Sebaliknya, Ia sedang memperluas pengertian tentang keluarga dalam perspektif Kerajaan Allah. Bagi Yesus, hubungan yang paling mendalam dengan-Nya bukan pertama-tama ditentukan oleh hubungan darah, kedekatan sosial, atau ikatan manusiawi, melainkan oleh keterbukaan hati terhadap firman Allah. Dengan demikian, keluarga Kristus adalah mereka yang membiarkan firman Allah masuk ke dalam hidupnya dan membentuk cara berpikir, sikap, keputusan, serta tindakannya.
Ungkapan Yesus, “mendengarkan firman Allah dan melakukannya,” mengandung dua dimensi yang tidak dapat dipisahkan: mendengar dan melakukan. Dalam tradisi Kitab Suci, mendengarkan bukan sekadar aktivitas telinga, tetapi sikap iman yang membuka seluruh keberadaan manusia kepada kehendak Allah. Firman yang didengarkan dengan iman menuntut tanggapan konkret. Karena itu, iman Kristen tidak berhenti pada pengetahuan mengenai Allah, tidak berhenti pada kebiasaan berdoa, menghadiri perayaan Ekaristi, membaca Kitab Suci, atau mengakui diri sebagai orang beriman. Firman Allah harus menjadi daya yang mengubah kehidupan. Yakobus menegaskan bahwa orang beriman dipanggil untuk menjadi pelaku firman, bukan hanya pendengar (Yak 1:22). Di sinilah letak kedalaman perkataan Yesus: kedekatan dengan Kristus tidak hanya tampak dari seberapa banyak kita mengetahui tentang Dia, tetapi dari sejauh mana kehidupan kita dibentuk oleh sabda-Nya. Firman yang sungguh-sungguh diterima akan melahirkan pertobatan, kasih, pengampunan, kerendahan hati, kejujuran, dan kesediaan melayani.
Dalam terang ini, Maria sendiri dapat dipandang sebagai teladan utama seorang yang sungguh-sungguh menjadi keluarga Kristus. Maria bukan hanya ibu Yesus menurut hubungan manusiawi, tetapi juga pribadi yang mendengarkan dan melakukan kehendak Allah dengan seluruh hidupnya. Dalam Kabar Sukacita, Maria menerima sabda Allah dengan iman dan menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Karena itu, perkataan Yesus dalam Lukas 8:21 tidak menjauhkan Maria dari-Nya, tetapi justru memperlihatkan kedalaman relasi Maria dengan Allah. Maria menjadi gambaran murid sejati: mendengar firman, menyimpannya dalam hati, dan mewujudkannya dalam kehidupan. Demikian pula kita dipanggil untuk memahami bahwa menjadi murid Kristus bukan sekadar memiliki identitas keagamaan, melainkan menghadirkan firman Allah dalam relasi dan kehidupan sehari-hari. Ketika kita memilih mengampuni daripada membalas, melayani daripada mencari penghargaan, berkata benar daripada mengikuti kepentingan diri, serta mengasihi mereka yang membutuhkan, kita sedang menunjukkan bahwa firman Kristus sungguh hidup dalam diri kita.
Pada akhirnya, Injil hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur: Apakah firman Allah sungguh telah menjadi dasar kehidupan kita, atau kita hanya mendengarnya tanpa membiarkannya mengubah diri kita? Dunia dapat mengenali seorang murid Kristus bukan terutama dari banyaknya kata-kata religius yang diucapkan, melainkan dari buah kehidupan yang lahir dari firman. Menjadi keluarga Kristus berarti membangun relasi yang semakin intim dengan-Nya melalui hati yang mendengarkan dan kehendak yang taat. Firman Allah tidak diberikan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dihidupi; tidak hanya untuk direnungkan, tetapi untuk diwujudkan. Ketika firman menjadi dasar pilihan kita, kasih menjadi cara kita memperlakukan sesama, dan kehendak Allah menjadi arah perjalanan hidup, pada saat itulah kita semakin mengalami diri sebagai bagian dari keluarga Kristus. Sebab bagi Yesus, keluarga sejati bukan hanya mereka yang berada dekat secara jasmani, melainkan mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.
